Oleh: Ikfanny Alfi Muhibbah Shalihah
Jangan cintai aku apa adanya jangan
Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan, yeah
Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah
Jangan cintai aku apa adanya jangan
(Lirik Lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” oleh Tulus)
Tulisan ini berangkat dari kegelisahan pribadi terhadap cara masyarakat memaknai cinta, terutama dalam budaya patriarki yang sering menempatkan perempuan sebagai pihak pasif dalam hubungan percintaan. Sebagai perempuan yang sejak awal menolak tunduk begitu saja pada budaya patriarki, saya percaya bahwa hubungan cinta yang sehat seharusnya tidak menuntut penghapusan suara, batas, atau harga diri. Masih dapat ditemui dalam berbagai representasi budaya populer bahwa perempuan kerap dituntut untuk menerima kekurangan pasangan, memaklumi kesalahan, dan mencintai tanpa syarat. Berbeda dengan laki-laki yang justru tidak diminta untuk bertanggung jawab secara emosional, seolah-olah ketidakpedulian mereka adalah sesuatu yang wajar dan dapat dimaklumi karena dianggap sebagai standar laki-laki “ideal” dalam budaya patriarki.
Lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” oleh Tulus menghadirkan perspektif yang berbeda. Sebagai laki-laki, Tulus justru meminta pasangannya untuk tidak mencintainya secara buta, melainkan menuntutnya untuk terus berkembang. Sikap ini membalik narasi cinta yang timpang dan membuka ruang bagi hubungan yang lebih setara. Melalui analisis lirik dan pendekatan kesetaraan gender (gender equality). Bentuk hubungan yang sehat (healthy relationship) seperti ini tidak lagi menempatkan perempuan sebagai objek penerima kasih sayang, melainkan sebagai subjek yang berani menyampaikan kebutuhan, memberikan kritik, dan menentukan arah hubungan.
Perempuan Berhak Aktif dan Setara dalam Hubungan
Lagu ini rilis pada tahun 2014, menyampaikan pesan berbeda dari pandangan cinta yang biasa ditemukan dalam budaya patriarki. Perempuan sering digambarkan sebagai pihak yang harus menerima kekurangan pasangannya tanpa banyak tuntutan. Lagu ini justru mendorong hubungan yang sehat dan bertumbuh bersama. Lirik “Jangan cintai aku apa adanya, jangan / Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan” menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak untuk menyampaikan harapan dan kebutuhan dalam hubungan, bukan hanya menerima apa adanya pasangannya tanpa berani bersuara. Pesan ini membalik perspektif dari budaya patriarki yang masih kuat dalam praktik masyarakat pada kehidupan sehari-hari, bahwa perempuan harus selalu sabar, memaklumi, dan berkorban.
Sebaliknya, lagu ini menegaskan bahwa perempuan berhak mengharapkan usaha dan perubahan dari pasangannya. Perspektif ini sesuai dengan kritik banyak pemikir feminis, salah satunya hooks (2020) yang menyatakan bahwa cinta bukanlah pengabdian sepihak, melainkan praktik aktif dengan melibatkan tanggung jawab, perhatian, dan saling mendukung. Hubungan percintaan yang sehat bukan tentang satu pihak yang terus memberi, sedangkan yang lain hanya menerima. Sebaliknya, cinta adalah proses dua arah yang melibatkan usaha dari kedua pihak untuk saling memahami, mendukung, dan tumbuh bersama. Lirik dalam lagu ini mencerminkan perspektif pentingnya hubungan yang saling menuntut dan mendukung seraya bersama tumbuh.
Melalui ajakan serupa, lagu ini mengangkat nilai-nilai feminis yang mendorong kesetaraan cinta dalam hubungan, yakni perempuan tidak lagi diposisikan sebagai pihak yang pasif, melainkan sebagai individu yang berhak menentukan arah hubungan bersama. Bentuk hubungan seperti ini lebih sehat karena dibangun atas dasar saling menghargai dan bertanggung jawab. Studi Intan (2020) juga mencatat bahwa lagu-lagu Tulus sering memposisikan perempuan sebagai pihak yang aktif dan setara dalam hubungan percintaan. Lagu ini mendorong perempuan untuk menyuarakan harapan dan kebutuhannya sehingga membantu dalam membentuk perspektif tentang cinta sebagai perjalanan bersama yang setara.
Menolak Maskulinitas Hegemonik atau Dominan
Perempuan dalam lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” digambarkan sebagai sosok yang cerdas secara emosional dan mampu mengambil keputusan, bukan sebagai pihak yang pasif atau tunduk. Lyric lines “Kau terima semua kurangku / Kau tak pernah marah bila ku salah / Kau selalu memuji apa pun hasil tanganku / Yang tidak jarang payah” yang lalu dilanjutkan dengan “Jangan cintai aku apa adanya, jangan” dalam lagu ini, menunjukkan bahwa narator laki-laki tidak ingin pasangannya hanya menerima tanpa kritik. Hal ini menjadi kritik terhadap citra perempuan yang cenderung digambarkan sebagai pihak yang pasrah dalam hubungan.
Chodorow (1999) menyebut bahwa perkembangan emosional terjadi melalui hubungan yang saling memberi. Lirik lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” oleh Tulus mendukung gagasan ini dengan mendorong kedua pihak untuk aktif dalam pertumbuhan emosional. Connell dan Messerschmidt (2005) menyatakan bahwa sikap dingin, tertutup, dan kurang peduli secara emosional adalah tanda dari maskulinitas hegemonik atau dominan. Sikap seperti ini dianggap sebagai standar laki-laki “ideal” dalam budaya patriarki karena laki-laki yang menunjukkan perasaan atau menerima kritik justru dianggap lemah.
Tulus melalui lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” justru menolak sikap itu dengan membuka ruang untuk kritik, refleksi, dan perubahan dengan mengajak pasangannya untuk menuntut lebih, menyampaikan kritik, dan mendorong pertumbuhan bersama. Sikap ini menunjukkan bahwa laki-laki juga wajib bersikap terbuka secara emosional dan bertanggung jawab dalam hubungan. Dengan cara ini, lagu ini memberdayakan perempuan untuk bersikap tegas dan berpikir rasional dalam hubungan, sekaligus menantang perspektif bahwa perempuan harus selalu menerima tanpa suara. Tulus melalui lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” menghadirkan model maskulinitas yang sehat dan setara, serta mendukung hubungan yang saling mendukung dan berkembang bersama pasangan.
Perempuan sebagai Subjek: Mengambil Inisiatif dalam Cinta
Melalui lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”, Tulus mengangkat inisiatif perempuan dalam cinta sebagai sesuatu yang sah dan positif. Lirik “Karena sejak lama kau pun mengincarku” menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi pihak yang aktif dalam mengejar cinta, sesuatu yang biasanya dianggap tabu dalam budaya patriarki. Berdasarkan perspektif dalam budaya tersebut, perempuan yang menunjukkan hasrat atau inisiatif terlebih dulu, sering dianggap kurang sesuai pada aturan seharusnya. Tulus menantang perspektif ini dengan menormalkan keinginan dan keberanian perempuan dalam hubungan. Bartlett (2021) menyebut bahwa cinta feminis bersifat transformatif. Artinya, cinta memberi ruang bagi setiap orang untuk mengejar apa yang mereka inginkan tanpa rasa malu. Lagu ini menunjukkan bahwa perempuan bisa bersikap tegas dan punya pilihan dalam cinta, sehingga mendorong kesetaraan dalam ekspresi emosional dan peran dalam hubungan.
Tulus juga mendorong cinta yang rasional dan sehat secara emosional melalui lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” ini. Ia memperingatkan agar tidak mencintai secara buta serta menyarankan agar perempuan tidak mentoleransi sikap yang mengabaikan perasaan mereka. Lirik “Jangan cintai aku apa adanya” menjadi ajakan untuk berpikir kritis dan menjaga batas emosional dalam hubungan. hooks (2000) menekankan bahwa cinta harus mencakup keadilan dan kepedulian timbal balik.
Lagu ini mendorong perempuan untuk berpikir kritis tentang investasi emosional mereka, menilai kembali bentuk hubungan yang dimiliki dan diinginkannya, serta menuntut keseimbangan emosional agar tercipta hubungan yang saling memberi. Hal ini sesuai juga dengan studi Intan (2020) bahwa dinamika ini memposisikan perempuan sebagai subjek yang memiliki pilihan dan suara. Melalui upayanya dalam mengenalkan cinta yang rasional, lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” oleh Tulus ini berkontribusi untuk memberdayakan perempuan supaya menjaga harga diri dan menolak ketimpangan dalam hubungan sehingga terciptalah kesetaraan cinta.
Penulis adalah Female Storyteller yang Peduli terhadap Gender Equality, Sustainability, dan Public Policy
Referensi
Bartlett, E. A. (2021). Feminism as the transformational work of love. Women, Gender, and
Families of Color, 9(1), 1–6. https://doi.org/10.5406/womgenfamcol.9.1.0001
Chodorow, N. (1999). The power of feelings: Personal meaning in psychoanalysis, gender, and
culture. Yale University Press.
Connell, R. W., & Messerschmidt, J. W. (2005). Hegemonic masculinity: Rethinking the concept.
Gender & Society, 19(6), 829–859. https://doi.org/10.1177/0891243205278639
hooks, b. (2000). All about love: New visions. William Morrow.
Intan, T. (2020). Narasi percintaan dan kesetaraan gender dalam lirik lagu-lagu Tulus. Kafa’ah:
Journal of Gender Studies, 10(2). https://www.kafaah.org/index.php/kafaah/article/view/311

