Oleh: Laurensia Junita Della
Menurut definisi WHO dan UNICEF, Menstrual Hygiene Management (MHM) mencakup penggunaan bahan yang bersih untuk menyerap atau menampung darah menstruasi, akses terhadap air dan sabun untuk menjaga kebersihan tubuh, serta fasilitas yang aman untuk membuang limbah menstruasi.
Setiap zaman dan masyarakat memiliki cara tersendiri dalam memahami dan mempraktikkan MHM. Masing-masing memiliki keunikan dan nilai budaya yang kental. Selain sebagai proses biologis, menstruasi erat kaitannya dengan kekuatan alam, dewa dewi, hal-hal gaib, hingga konsepsi masyarakat mengenai “kekotoran” atau “kesakralan” darah menstruasi. Beberapa masyarakat telah menunjukkan adanya adaptasi teknologi sederhana, seperti penggunaan tampon sekali pakai, kain penutup, hingga pembalut dari bahan alami.
Untuk itu, dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi berbagai cara tradisional yang digunakan para wanita dalam menghadapi siklus menstruasi mereka.
Mesir Kuno
Para wanita Mesir kuno menggunakan “kain penutup pinggang” menstruasi dan pembalut sekali pakai yang terbuat dari papirus (papyrus) atau rumput serupa. Teksturnya papirus lebih berserat jika dibandingkan dengan kertas modern. Di Mesir kuno, papirus dikenal akan kegunaannya untuk menulis. Tetapi di sisi lain, daya serap papirus yang baik membuatnya dijadikan sebagai pembalut kuno.
Turki-Mongol (Asia Dalam)
Sebagai masyarakat nomaden, diketahui bahwa mereka rutin mencuci tubuh untuk menjaga kebersihan diri. Selama menstruasi, para perempuan menggunakan bahan alami seperti bulu hewan dan lumut sebagai pembalut. Pemilihan bahan ini menunjukkan adaptasi yang baik terhadap lingkungan sekitar. Praktik ini juga mencerminkan adanya pengelolaan menstruasi secara sederhana namun tetap fungsional dalam masyarakat nomaden.
Romawi
Sebagian besar wanita Romawi kuno menggunakan wol sebagai pembalut mereka. Selain itu, mereka telah mengenal berbagai teknik untuk menunda, mengurangi, atau menghentikan menstruasi. Beberapa diantaranya mencakup pengobatan herbal, praktik medis seperti pengeluaran darah (bloodletting), hingga penggunaan jimat tubuh.
Jepang
Di Jepang, para perempuan lebih banyak menggunakan kertas tradisional saat memasuki siklus menstruasi. Para perempuan akan melipat kertas dan menempatkannya pada bagian intim mereka. Selanjutnya, gulungan ini akan diganti sebanyak 8-12 kali dalam sehari. Selain itu, teks medis seperti Ishinpō menunjukkan pengelolaan tubuh perempuan dengan dukungan ritual sebagai upaya pembersihan spiritual.
Suku Indian Yurok di California
Para wanita Yurok menganggap siklus menstruasi sebagai siklus alamiah yang selaras dengan ritme Bulan. Karena itu, para wanita dianggap memiliki waktu yang sama dalam siklus mereka. Ketika siklus itu sedang berlangsung, mereka terbiasa melakukan ritual mandi bersama. Sedangkan jika siklus perempuan tidak selaras dengan bulan dan dengan perempuan lainnya, dia akan duduk di bawah sinar Bulan dan meminta Bulan untuk menyeimbangkannya.
Yunani
Perempuan pada masa itu menjaga kebersihan tubuh mereka menggunakan kain atau bahan alami yang tersedia. Beberapa tulisan mencatat penggunaan wol sebagai pembalut alami ketika siklus menstruasi tiba. Sedangkan mereka yang tinggal di wilayah pesisir lebih banyak menggunakan spons laut untuk dijadikan pembalut. Tentu saja, jangan pernah samakan spons laut dengan spons cuci piring di rumah.
Suku !Kung
Karena perempuan !Kung dipandang hampir setara dengan laki-laki, maka menstruasi bukanlah objek ketakutan atau tabu. Namun, dengan kelangkaan kapas dan air di Gurun Kalahari, mereka terbiasa mengurung diri ketika siklus itu tiba. Mereka berdiam di gubuk menstruasi, dan memisahkan diri dari komunitas sementara waktu.
Suku Cherokee di Oklahoma
Suku ini mengakui adanya kekuatan magis dan destruktif daripada darah menstruasi. Darah menstruasi sering kali digunakan dalam sihir, perang, dan/atau ritual permainan bola. Untuk itu, para wanita Cherokee diisolasi di gubuk menstruasi selama periode menstruasi mereka. Mereka dijauhkan dari keluarga dan teman karena anggapan kekuatan destruktif itu.
Nepal
Umat Hindu di Nepal secara tradisional mengisolasi perempuan selama menstruasi selama 3 malam. Mereka dilarang keras berada di rumah selama periode ini berlangsung. Sebaliknya, mereka tinggal di “gubuk menstruasi,” yaitu rumah kecil dari tanah liat atau kandang sapi yang terletak 10-15 meter dari tempat tinggal utama. Setelah itu, mereka akan mandi sebagai upaya pembersihan diri dan sebelum bergabung kembali dengan komunitas.
Penulis adalah mahasiswa aktif di salah satu universitas di Semarang. Ia gemar menikmati waktu sendiri. Topik favoritnya adalah filsafat dan pengetahuan lokal Nusantara. Meski begitu, penulis tetap suka jalan-jalan dan nonton anime.
Sumber Rujukan:
Chatterjee, G., (2024) Asan. Tersedia di: https://asancup.in/blogs/blogs/history-of-menstruation (Diakses 13 April 2026).
Fajar, G., (2017) Hipwee. Tersedia di: https://www.hipwee.com/feature/sebelum-ada-pembalut-sama-tampon-10-cara-ini-lho-yang-digunakan-cewek-ketika-datang-bulan/ (Diakses 13 April 2026).
Miller K., (2024) ‘Intentional Menstrual Suppression in Imperial Rome’, Journal of Roman Studies, 114, pp.27-59, https://doi.org/10.1017/S0075435824000297.
Nanzatov B., Sodnompilova M., (2019) ‘Personal and public hygiene of Nomads: a Case Study of Related Concepts and Practices’, Oriental Studies. 12(2), pp.255-262, https://doi.org/10.22162/2619-0990-2019-42-2-255-262.
Tan, D. A., et al., (2017), ‘Cultural Aspects and Mythologies Surrounding Menstruation and Abnormal Uterine Bleeding’, Best Practice & Research Clinical Obstetrics and Gynaecology, 40, pp.121-133, http://dx.doi.org/10.1016/j.bpobgyn.2016.09.015.
UNICEF, 2019. Guide to menstrual hygiene materials. New York: United Nations Children’s Fund.

