Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Baby Blues

Baby Blues

Storimini jalastoria9 Agustus 2020

Awalnya sempet tak percaya, tapi siapa sangka aku juga mengalaminya, baby blues benar adanya!

Setelah drama yang seakan tak berkesudahan usai melahirkan, akhirnya aku merasa belum siap jadi ibu. Sempat tak mau menggendong anakku, ketika buah hati menangis hanya aku pandangi saja, “biarin ajalah, nanti juga diam sendiri“, pikirku. Akhirnya mama yang sigap menimang-nimang anakku, hingga akhirnya terlontar ucapan, “lebih enak ngerawat ponakan ya mah, daripada anak sendiri, anakku dirawat kakak ajalah, mah“. Iya, kata-kata itu pernah aku sampaikan ke mama.

Mama yang pelan-pelan selalu mengingatkan dan menguatkan bahwa menjadi ibu itu memang tidak mudah, menjadi ibu itu harus memiliki kesabaran yang luas, apalagi saat masih bayi. Ada banyak hal yang harus kamu relakan, mulai dari waktu, tenaga, dan pikiran. Tapi itu cuma sebentar kok, setidaknya sampai anakmu mampu mandiri. Nanti akan ada saatnya kamu merindukan masa-masa itu, nanti akan ada saatnya kamu bisa menghabiskan waktumu sendirian. Ingat, yang kamu lakukan harus lillahi ta’ala, In sya Allah hati jadi tenang, dan bonusnya, balasannya surga.

Satu hal, para ibu yang sedang mengalami baby blues atau PPD, bukan berarti mereka membenci anak mereka, bukan berarti mereka tidak menginginkan anak mereka. Mungkin saat itu mereka sedang lelah, mungkin saat itu mereka sedang marah, jangan dihakimi apalagi dinyinyiri. Jangan! Yang mereka butuhkan hanyalah support dari kalian.

Dan teruntuk para ibu yang sedang mengalami ini, coba tatap wajah anak kalian. Di depan sana ada wajah lugu tanpa dosa, yang bahkan untuk bertahan hidup pun ia butuh bantuanmu. Satu lagi, jangan lupa minta bantuan kalau memang lelah, ya! Jadi, teruntuk para ibu, lapangkan hati untuk menerima mereka.

Ketika saya mampu menuliskannya, itu artinya saya sudah berdamai.
Dear buah hatiku, maafkan bunda ya, nak. Peluk hangat, peluk sayang, peluk cinta untuk anakku.

 

Karlina Arti
@karlinaarti

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.