Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

Storimini Redaksi Jalastoria3 April 2026

Oleh: Dewi Nova

Sebagian besar angkatan kerja Indonesia ada di sektor informal. Sebagian besar pekerja sektor informal diisi perempuan. Sebagian dari perempuan itu menjadi tulang punggung keluarga. Ketika negara dan pemberi kerja belum melindungi mereka, bagaimana dengan keluarga? Apakah keluarga sudah peduli dengan perempuan tulang punggung keluarga? atau sama tak pedulinya seperti negara dan pemberi kerja?

Keluarga Mensituasikan Perempuan menjadi Mesin ATM 

Lebaran berlalu, luka batin Aisyah (bukan nama sebenarnya) belum pulih. Bercengkrama dengan keluarga di masa libur lebaran impian terbesarnya. Berkumpul dengan keluarga sangat bermakna baginya, setelah banyak tahun-tahun yang ia lewati berjauhan dengan keluarga.

Sejak sekolah dasar Aisyah berpisah dari ibunya yang bekerja sebagai PRT migran. Sementara ayahnya, tidak juga menggantikan peran ibunya. Aisyah kecil dipaksa mengelola rindu berjauhan dengan ibu yang masih dibutuhkannya. Sekaligus menggantikan peran ibunya- mengasuh dua adiknya, membersihkan rumah dan memasak untuk keluarga. Aisyah remaja menjalani berbagai pekerjaan dari pekerja di restoran hingga PRT migran. Di usia 40-an ia masih bekerja menjadi PRT di ibu kota. Uang yang dikirim ibunya setiap bulan harusnya cukup untuk Aisyah dan adik-adiknya melanjutkan pendidikan ke universitas. Harusnya cukup untuk tidak mewariskan jenis pekerjaan tanpa perlindungan (PRT) dari ibunya ke dirinya. Kenyataanya, uang hanya cukup untuk merenovasi rumah dan tak pernah cukup untuk ayahnya berfoya-foya.

Apakah keluarga peduli dengan perasaan, keselamatan, perjuangan perempuan pekerja seperti Aisyah dan ibunya? Mengapa ayahnya membiarkan ibunya baru kembali ke rumah di usia senja? Mengapa adik-adiknya membiarkan atau berharap Aisyah seperti ibunya? Terus bekerja dan mengirim uang untuk membayari biaya hidup mereka? Lalu mengapa hal itu juga dilakukan oleh anak semata wayangnya?

Di tengah tuntutan keluarga itu, apakah Aisyah mampu menyisihkan penghasilannya untuk masa tuanya? Bila ia sakit dan tidak bisa bekerja, apakah ia sudah memiliki asuransi? Apakah adik-adik dan anaknya dapat memberikan dukungan untuk biaya berobat dan biaya hidupnya? Mungkinkah keluarga yang selama ini memosisikan Aisyah sebagai mesin ATM punya perspektif-empati-rencana untuk perlindungan hidup Aisyah di masa tuanya?

Kenyataannya, jangankan berharap kasih sayang keluarga pada masa ketika Aisyah sudah tidak menghasilkan uang. Saat ini saja ketika Aisyah masih menyokong anaknya, kasih dan penghormatan dari anaknya tidak ia dapatkan. Lebaran berlalu hampa. Anaknya tak kunjung menemuinya, bahkan tak ada kata maaf melalui telpon atau whatsApp.

Memuji Patriarki Menyingkirkan Pengorbanan Ibu

Usai libur lebaran Aisyah kembali bekerja ke ibu kota tanpa bersua anak cucu yang dirindunya. Kini rindu berkecamuk dengan kecewa. Ketidakhadiran anaknya di masa lebaran membuatnya merenung terkait relasi ia dengan anaknya. Anaknya memang tidak pernah menghargai kasih sayang dan kerja kerasnya. Ia sempat berpikir apakah karena ia tidak cukup hadir dalam masa tumbuh kembang anaknya. Di masa emas itu, ia terpaksa menjadi PRT migran dan menitipkan pengasuhan anaknya kepada ibu dan bapaknya. Sedangkan bapak dari anaknya, tak pernah memberikan dukungan setetes susu pun untuk anak mereka. Tapi dalam percakapan ibu dan anak ini, sosok para bapak lah yang lebih dikedepankan anaknya. “Hidupku mungkin tak seperti ini kalau kakek masih hidup,” “aku ingin berjumpa ayahku mungkin keadaan akan lebih baik.”

Padahal menurutnya, ia bekerja ke tempat-tempat jauh dengan resiko tinggi agar bisa mengirim uang untuk kebutuhan hidup anak, orang tua dan adik-adiknya. “Saya tidak minta dipuji anak. Saya hanya ingin anak ada adab menghargai saya sebagai ibunya,” keluh Aisyah. Anaknya menentukan jumlah berapa yang harus ia kirim setiap bulan untuk susu kedua cucunya. Tapi anaknya tak pernah berterimakasih setiap kali ia transfer uang. Anaknya tak pernah menanyakan kabarnya. Ketika Aisyah sakit, pemberi kerja dan kawan-kawannya lah yang memberikan perhatian.

Keluarga Perlu Menghormati Perempuan Pekerja, Mendukung Mimpi-mimpinya dan Memastikan Life Protection dan Perlindungan Masa Tuanya

Pengalaman Aisyah sebagai tulang punggung keluarga yang tak dihitung oleh keluarga bukan satu-satunya. Pada perbincangan lain, beberapa kawan PRT migran yang bekerja di Hongkong hingga belasan tahun menghadapi situasi yang kurang lebih sama. “Meskipun sudah kangen keluarga, saya belum berani pulang. Apakah keluarga masih akan menganggap saya, ketika saya pulang dan tak menghasilkan uang?”

Perempuan yang membiayai hidup keluarga dalam waktu lama sering dilupakan keluarga sebagai manusia yang utuh. Mereka lahir ke dunia bukan untuk menjadi mesin ATM keluarga. Mereka manusia yang butuh ditanya kabar kesehatannya, kabar hatinya. Setiap perempuan pekerja pasti punya impian hidupnya. Apakah keluarga pernah bertanya, memahami dan mendukung impian mereka? Mereka dalam waktu tertentu bisa kelelahan, sakit dan kesepian. Keluarga perlu membiasakan diri memastikan keadaan mereka secara rutin. Terutama ketika mereka lelah, sakit dan kesepian.

Keluarga harus mendukung terpenuhinya life protection mereka. Apakah mereka sudah melengkapi diri dengan asuransi kesehatan, perlindungan kecelakaan kerja dan kematian? Jangan sampai, biaya hidup keluarga setiap bulan mereka tanggung tapi pada saat mereka sakit atau kehilangan pekerjaan, para pekerja keras ini terlantar.

Keluarga juga perlu memastikan apakah para tulang punggung ini sudah menyisihkan sebagian upahnya untuk masa tua mereka. Bila para pekerja ini memasuki umur 40 tahun, keluarga harus tahu diri untuk semakin mengurangi kalau bisa membebaskan mereka dari beban finansial keluarga. Berikan keleluasaan finansial kepada para perempuan ini untuk dapat mengumpulkan-mengelola sebagian besar penghasilannya untuk masa tuanya.

Memberikan dukungan untuk life protection dan persiapan masa tua mereka adalah wujud hormat dan terima kasih atas pertaruhan mereka selama ini untuk menghidupi keluarga. Bila pemberi kerja wajib memberikan jaminan life protection dan masa tua pekerja, maka keluarga perlu memastikan keduanya terencana dan terwujud dengan baik dengan atau tanpa dukungan pemberi kerja dan negara. Kepedulian dan dukungan keluarga seperti itu semakin diperlukan saat ini di tengah penggerusan kesejahteraan buruh dan belum diakuinya-dilindunginya PRT sebagai pekerja.

 

Penulis adalah seorang artivis (seniman aktivis) dan konsultan perempuan pekerja di sebuah NGO.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Sore yang Menghapus Aman

10 Februari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.