Oleh: Anonim
Aku masih 17 tahun waktu itu, umur yang menurut banyak orang masih terlalu muda untuk memikul trauma, tapi cukup tua untuk menerima bahwa dunia tidak selalu aman untuk perempuan. Hari itu bukan hari istimewa. Tidak ada acara sekolah. Tidak ada rombongan besar. Yang ada hanya aku, tote bag berisi buku, dan langit sore yang mulai kusam ketika aku menunggu angkutan umum di depan gedung tempat les.p
Biasanya aku pulang bersama teman, tapi hari itu ia izin duluan karena sakit. Jadi aku sendirian, menunggu angkot yang selalu datang tidak tepat waktu. Waktu itu aku tidak berpikir apa-apa. Tidak ada firasat. Tidak ada alarm. Hanya kelelahan setelah belajar berjam-jam.
Sebuah angkot berhenti. Isinya hanya tiga orang: dua ibu-ibu di depan, dan satu laki-laki dewasa di bangku belakang, miring ke jendela seperti orang yang sedang tidur. Aku melihat sekilas, rambut acak-acakan, hoodie lusuh, wajah yang tak kukenal. Rasanya biasa saja. Aku naik. Kesalahanku adalah duduk persis satu baris dengannya, hanya karena kursi lain penuh belanjaan ibu-ibu.
Beberapa menit pertama tidak ada apa-apa. Kota berputar perlahan. Jalanan macet. Radio tua angkot memutarkan lagu lawas yang sumbang nadanya. Laki-laki itu tetap dalam posisi yang sama, diam, matanya seperti terpejam. Lalu aku merasakan sesuatu.
Awalnya seperti gesekan kecil di pinggangku, halus, samar, seperti senggolan tak sengaja. Tapi angkot sedang berhenti, dan tak ada alasan seseorang harus bergeser begitu dekat.Aku mendongak. Dia tidak lagi tidur. Tangannya bergerak pelan seolah sedang menyesuaikan posisi duduk, tapi lengannya terlalu dekat dengan tubuhku. Aku geser sedikit menjauh.
Angkot mulai jalan lagi, tapi perasaanku justru berhenti. Ada hawa aneh, keringat dingin yang naik pelan di punggung. Aku menatap jendela, berpura-pura fokus melihat toko-toko yang lewat. Tapi dari ekor mataku, aku melihat orang itu menoleh. Gerakan kecil. Kemudian, untuk kedua kalinya, lengannya menyentuhku. Kali ini bukan samar. Bukan tidak sengaja. Jelas. Terukur. Perlahan.
Aku membeku.
Aku tahu reaksi seperti itu terdengar klise, tapi kenyataannya tubuhku benar-benar berhenti. Rasanya seperti ada tombol di kepalaku yang ditekan dan memutus semua perintah untuk bergerak. Dia mencondongkan tubuh sedikit. Aku bisa merasakan napasnya menempel di udara di antara kami.
“Adek pulang sendiri?” bisiknya pelan.
Aku tidak menjawab. Aku bahkan tidak bisa.
Aku geser lagi, tapi kursi itu terlalu kecil. Dia mengikuti gerakanku seperti bayangan yang tidak mau ditinggalkan. Tangannya bergerak turun sedikit, ke arah pinggangku. Aku tersentak tanpa suara. Otakku berisik, tapi mulutku mati. Dunia sempit dalam hitungan detik.
Aku menatap kaca jendela dan melihat pantulan wajahku. Mata membesar, rahang kaku, seluruh tubuh menegang seperti diikat oleh sesuatu yang tak terlihat. Aku bukan tidak mau melawan. Aku tidak bisa.
“Turun depan, Kang,” kataku cepat pada sopir. Suaraku nyaris patah, tapi cukup terdengar.
Angkot masih beberapa ratus meter dari halte. Tapi aku tidak peduli. Bahkan jika aku harus lompat, aku akan lompat. Sopir mengangguk. Angkot melambat. Saat kendaraan hampir berhenti, tangan laki-laki itu bergerak lagi, hampir ke pahaku. Kala itu, seluruh tubuhku menolak berada di sana bahkan sedetik lagi.
Aku bangkit terlalu cepat, sampai kepalaku hampir terbentur atap angkot. Sopir memandangku bingung, tapi aku tak peduli. Aku turun hampir tersandung, sepatuku tergesek batu kecil. Rasanya seperti tubuhku berlari keluar sebelum pikiranku sempat menyusul. Ketika angkot itu melaju pergi, aku masih berdiri di trotoar dengan jantung yang seolah ingin memecahkan tulang rusukku. Kaki-kakiku gemetar. Tangan bergetar. Dan untuk alasan yang tidak masuk akal, aku merasa bersalah, seakan kesalahanku adalah duduk di tempat yang kosong.
Orang bilang perempuan harus hati-hati. Jangan keluar sendirian. Jangan pakai baju tertentu. Jangan naik angkot sepi. Jangan berjalan gelap-gelap. Tidak ada yang bilang bahwa kadang-kadang kau sudah berhati-hati, tapi laki-laki tertentu tetap merasa berhak menyentuhmu.
Malam itu aku berjalan pulang tanpa menoleh, takut jika bayangan itu mengikutiku. Sesampainya di rumah, aku mengunci pintu kamar dan hanya ada satu hal yang ingin kulakukan, bernapas.
Bukan menangis. Bukan marah. Bukan teriak.
Bernapas. Karena ternyata itu pun terasa berat.
Aku tidak bilang ke siapa pun hari itu. Tidak ke orang tua. Tidak ke teman. Aku tahu apa yang biasanya orang dewasa katakan tentang anak 17 tahun,
“Kamu harusnya teriak.”
“Kenapa nggak pukul?”
“Itu cuma sentuhan biasa kali.”
Mereka tidak pernah berada di kursi sempit itu. Mereka tidak pernah merasa tubuh mereka dicuri diam-diam. Kini bertahun-tahun kemudian, setiap kali aku melihat angkot kosong, ada bagian kecil di dalam diriku yang kembali mengecil. Tapi aku tidak lagi menyalahkan diri sendiri.
Pengalaman buruk bukan kesalahan korban. Tidak ada perempuan yang harus belajar dewasa melalui rasa takut. Ada yang dicuri hari itu. Tapi ada juga yang lahir: keberanian yang pelan-pelan tumbuh, setiap kali aku memilih untuk tetap hidup, meski dunia pernah mencoba membuatku membeku.
Identitas korban dalam tulisan ini hanya dkiketahui oleh tim JalaStoria. Cerita ini diterbitkan sebagai edukasi bagi pembaca. Penulis berharap perempuan korban kekerasan tidak lagi diaahalahkan dengan alasan tidak hati-hati

