Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Ragam»Penjagaan dan Perusakan Alam oleh Manusia

Penjagaan dan Perusakan Alam oleh Manusia

Ragam jalastoria2 Mei 2021
Flyer Talkshow Ramadhan Salam V

JAKARTA, JALASTORIA.ID – Helmi Ali Yafie dari Majelis Musyawarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menuturkan bahwa penting bagi manusia untuk menyikapi perubahan alam serta melindunginya. Helmi menyatakan, keseimbangan alam tercipta karena munculnya manusia modern sekitar 100 ribu tahun yang lalu. Bahkan, manusia diberikan mandat oleh Allah SWT sebagai khalifah yang menjaga keseimbangan tersebut. Mandat tersebut diberikan melalui beberapa ayat di dalam Al-Qur’an.

Lantas, bagaimana manusia memaknai mandat untuk menjaga keseimbangan alam ini? Ia menjelaskan, banyak manusia seringkali menghianatinya dengan melakukan usaha perusakan alam. “Ada kecenderungan seolah-olah memperbaiki alam, di belakang itu (manusia) melakukan perusakan terhadap alam,” ujarnya.

Mengapa bisa terjadi kecenderungan semacam itu terhadap alam?

Menurut Helmi, cara pandang manusia berubah terhadap alam seiring berjalannya waktu. Awalnya karena teknologi modern mulai berkembang pada abad ke-16. Sebelumnya, pandangan dominan adalah alam merupakan sesuatu yang bersifat organik. Kemudian, berganti menjadi alam merupakan sesuatu yang hanya berbentuk pergantian musim.

Helmi mengatakan, ilmu pada awalnya mencari keharmonisan terhadap alam. Kemudian, muncul pemikiran dari Francis Bacon bahwa alam harus ditaklukkan. Alam kemudian dianalogikan sebagai perempuan yang harus ditaklukkan. Gambaran ini kemudian memengaruhi cara produksi manusia sampai saat ini. “Begitu eksploitatif terhadap alam, serta menjadi karakter kebudayaan zaman modern,” tuturnya.

Ia mengatakan bahwa tindakan eksploitasi alam juga didorong oleh kebijakan pemerintah yang cenderung mengeksploitasi alam. Paradigma pertumbuhan ekonomi di sebuah negara menjadi biangnya. Contohnya pada masa Orde Baru, Helmi menerangkan ada banyak kasus penggusuran lahan produktif warga. Semua demi kepentingan investor luar negeri yang ingin menanam modal di Indonesia.

Helmi juga mengomentari tentang penambangan liar yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia sampai hari ini. Ia menegaskan, bukan warga sekitar yang melakukan penambangan tersebut. Perusahaan besar yang berupaya mengeruk sumber daya alam tanpa ada usaha konservasi di dalamnya.

“Mereka menggunakan alat berat untuk aktivitasnya itu dan terjadi di berbagai tempat, perusahaan yang melakukan. Bukan rakyat,” ucapnya. Seringkali proses penambangan liar disokong oleh aparat setempat yang melindunginya. Akibatnya, orang-orang yang protes hal tersebut ditangkap dan dituduh sebagai pelaku kriminal.

Baginya, perusakan alam ini memicu berbagai bencana. Ia mengomentari soal menurunnya kualitas serta kuantitas air di tempat-tempat penambangan. Selain itu, hutan juga dirusak untuk pembukaan lahan penambangan.

Pemanfaatan sumber daya alam menurut Helmi seharusnya ada batasan-batasan yang sudah didiskusikan oleh pemerintah setempat. “Ini seperti mendorong untuk terus konsumtif. Pengerukan sumber daya alam semakin menjadi-jadi saat ini,” tuturnya.

Oleh karena itu, Helmi menekankan upaya pelestarian lingkungan. Ia memfokuskan peran perempuan sebagai ‘penyelamat ibu bumi’ perlu didorong dalam upaya tersebut.

“Perempuan memang bisa dianggap sentral dalam upaya pelestarian alam. Di Swara Rahima, punya simpul jaringan di berbagai daerah. Mereka membangun ekonomi tapi tetap menjaga ekosistem,” tambah Helmi.

Ia mencontohkan dengan upaya Farha Ciciek di Ledokombo yang mendorong komunitas gerakan pelestarian lingkungan. Selain itu, Emi di Kalimantan juga mendorong sosialisasi pertanian alami tanpa bahan kimia dalam praktiknya ke berbagai komunitas.

Terakhir, Helmi menegaskan bahwa kajian lingkungan hidup perlu diajarkan di sekolah maupun pesantren. “Untuk kajian lingkungan hidup, Kiai Ali Yafie pernah membuat konsep pemikiran soal pelestarian lingkungan sebagai syariat keenam dalam Islam. Bentuknya supaya masuk ke kurikulum di sekolah. Semoga bisa terwujud lewat upaya kita semua yang sadar dalam menjaga keseimbangan alam,” harapnya. [ANHS]

 

Liputan Serial Talkshow Ramadhan Salam Seri V: Visi Islam Rahmatan Lil Alamin dalam Perlindungan Keseimbangan Alam, yang ditayangkan melalui kanal Youtube JalaStoria Indonesia dan berbagai kanal lainnya (RMB Sejati, AMAN Indonesia, Mubadalah, Official IAIN Syekh Nurjati Cirebon), pada 2 Mei 2021. Ikuti Talkshow Seri V ini di sini.

ibu bumi kapitalisme pemanfaatan alam pengrusakan alam penjagaan alam penyelamat ibu bumi ramadhan salam
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Duka di Rel Kereta Api: Evaluasi Layanan dalam Perspektif Gender

3 Mei 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.