Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Di Tahun Kelima Perkawinanku

Di Tahun Kelima Perkawinanku

Storimini jalastoria10 Agustus 2021
Ilustrasi (Sumber: Canva.com)

 

Oleh: NSA

 

Setelah mngakhiri ikatan perkawinan dengan suami, sekarang, saya adalah seorang janda beranak satu. Perceraian dengan suami saya ternyata berdampak ke pertumbuhan anak saya yang sekarang sedang menempuh kuliah di suatu Universitas di Jakarta. Sampai saat ini, saya belum memiliki keinginan untuk menikah lagi, meskipun peristiwa perceraian ini sudah berlalu bertahun-tahun lamanya.

 

Perkawinan

Pada mulanya, saya pernah menolak seorang laki-laki yang ingin melamar saya. Usia saya masih kecil, masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat itu. Jadi saya tidak memikirkan perkawinan. Saya tidak tertarik.

Waktu berlalu dan pada suatu waktu, ada pemuka agama yang bilang kepada saya bahwa tampilan saya seperti nenek-nenek. “Kamu diguna-guna” katanya. Saya langsung mempercayainya dan saya menanyakan solusinya. Ia menjelaskan, untuk mematahkan guna-guna itu, saya harus menerima orang yang melamar saya. Tidak boleh ditolak.

Sampailah saya dilamar oleh orang yang akan menjadi suami saya kelak. Meskipun tidak suka, saya terima saja mengingat saran pemuka agama tadi. Saya dan pelamar ini akhirnya bersatu dalam ikatan perkawinan.

Setelah menikah, saya dan suami hidup di Jakarta, kampung halaman saya. Meskipun di kampungnya, suami cukup tergolong kaya, tetapi di Jakarta ia belum mendapatkan pekerjaan sehingga menjadi bapak rumah tangga.

Mungkin dia merasa tidak enak dan malu sebagai suami, maka di tahun kelima perkawinan kami, ia meminta izin padaku untuk pulang kampung. Tentu saya mengizinkan dan meridhoinya. Saya berharap yang terbaik untuknya.

 

Baca Juga: Bertahan Pasca Perceraian

 

Perceraian

Di kampung halamannya, ia berhasil membuat usaha tambak ikan. Namun di sisi lain, ternyata suami saya menikah lagi dengan janda beranak tiga. Kata orang pintar, ia diguna-guna oleh janda itu agar tidak pulang lagi ke Jakarta. Saya percaya.

Suami saya meninggalkan saya dan anak begitu saja pada waktu itu. Padahal, ia merupakan figur yang sholeh, rajin ibadah, dan tahu agama. Saya merasa sangat terpukul dan kecewa dengan kenyataan pahit ini. Saya pun menggugat cerai suami. Perceraian pun terjadi dalam usia 5 tahun pernikahan kami.

Hingga saat ini, saya belum memiliki keinginan untuk menikah lagi, meskipun beberapa orang sudah menyatakan ketertarikannya pada saya.

 

Pertumbuhan Anak

Hal yang saya tidak sangka dari kasus perceraian ini adalah mengenai tumbuh kembang anak saya. Semakin besar, keinginan untuk bunuh diri pun semakin tinggi. Ia merasa kesal dengan ayahnya yang menelantarkannya.

Ia merasa benci dengan ayahnya sendiri.

Terkadang, ia mengambil gunting dan ingin bunuh diri, namun saya tahan bagaimana pun caranya. Sedih sekali saya melihat putri saya satu-satunya tumbuh dengan tekanan mental ini.

 

Baca Juga: Aku Tak Mau Nama Ayah Ada di Dalam Dataku

 

Selain itu, ia juga menjadi anak yang mengurung diri di rumah. Ia seperti tidak memiliki teman. Namun syukurnya, saat SMA, ia bercerita bahwa ia punya teman. Hal yang mengejutkanku adalah, teman-temannya bernasib sama dengan anakku. Tidak memiliki ayah karena orangtuanya bercerai.

Bedanya, teman dari anakku itu kerap dikirimi uang untuk jajan oleh ayahnya. Hal ini yang kadang ditanyakan oleh anakku juga. “Kenapa ayah nggak kasih uang buat aku jajan? Nggak kayak ayah-ayah lainnya.” Lagi-lagi aku harus memberinya pengertian dan harus bersabar.

Dengan berbagai situasi ini, saya tetap mencoba agar tidak menanamkan kebencian dalam diri anak saya, sekalipun saya merasa luka karena fakta pahit ini.

Saya bersyukur karena saya masih memiliki support system lainnya yang datang dari keluarga saya sendiri. Yaitu adik-adik saya yang sudah pada bekerja semua. Meski mantan suami saya tak pernah mengirimi nafkah untuk anak saya pun, kami tidak kekurangan. Apapun diberikan oleh om dan tante anakku. Termasuk biaya kuliah anakku sekarang. Selain itu, sampai sekarang aku bekerja sebagai guru. Harapanku, semoga anakku tidak merasakan apa yang kualami dalam rumah tangga.[]

 

Sebagaimana diceritakan oleh penyintas (9/8/21), identitas penyintas ada pada redaksi

bapak rumah tangga KDRT nikah penelantaran Perceraian Perkawinan pernikahan Rumah Tangga suami
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.