Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Riset»Survei: Orang Muda Belum Paham Bentuk Kekerasan Seksual

Survei: Orang Muda Belum Paham Bentuk Kekerasan Seksual

Riset jalastoria4 Juni 2022
Kekerasan Seksual
Ilustrasi (Sumber: FreeVector.Freepik.com)

JAKARTA, JALASTORIA.ID – Dalam persoalan kekerasan seksual, orang muda punya kontribusi dalam pencegahan dan penanganan. Lantas, sejauh mana orang muda sudah mengenali dan peduli terhadap kekerasan seksual?

Baru-baru ini Rumah Cakap Bermartabat Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (RCB SAPDA) Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah Australia melalui program Australia-Indonesia Partnership for Justice 2 (AIPJ2) mengadakan survei mengenai kekerasan seksual di kalangan orang muda. Seperti apa hasil survei yang melibatkan 210 responden pada November 2021 itu?

Survei tersebut mengungkap 42% responden belum memahami bentuk-bentuk kekerasan seksual. 33% responden bahkan cenderung mentolerir kekerasan seksual verbal, menganggap catcalling bukan bentuk kekerasan seksual.

Baca Juga: 12 Tahun Silam Banyak Orang yang Belum Mengetahui: Apa Itu Kekerasan Seksual?

Survei juga menemukan 36% responden menolak kalau sumber kekerasan seksual berasal dari orang terdekat seperti keluarga. Bahkan sebanyak 39% responden masih menyalahkan korban seperti korban kurang menjaga diri, berpakaian terbuka, dan beraktivitas hingga larut malam.

Temuan lainnya cenderung menyetujui praktik diskriminasi terhadap perempuan disabilitas intelektual. Mayoritas responden yang terdiri dari disabilitas (79,3%) dan non disabilitas (83%) melarang perempuan disabilitas intelektual memiliki anak. Responden berpandangan orang tua dengan disabilitas intelektual akan melahirkan anak dengan kondisi serupa. Selain itu, responden disabilitas (68,5%) dan responden non disabilitas (70,3%) menyetujui bahwa perempuan disabilitas tidak diperbolehkan memiliki anak lantaran tidak mampu merawat.

Tapi, ada yang melegakan dari survei tersebut yaitu responden (82%) menolak menikahkan perempuan disabilitas korban kekerasan seksual dengan pelaku.  Survei tersebut juga menunjukkan mayoritas responden peduli terhadap pencegahan kekerasan seksual pada perempuan disabilitas. Ini ditunjukkan dengan 96,7% responden menyetujui agar institusi pendidikan, pekerjaan, dan lingkungan masyarakat mengatur mengenai persoalan tindak kekerasan seksual. Bahkan 92% responden bersedia menjadi pendukung sebaya bagi korban kekerasan seksual di lingkungannya.

Baca Juga: Hasil Survei: Selama Pandemi Pelecehan Seksual Meningkat

***

Survei terhadap orang muda juga dirilis United Nation Population Fund (UNFPA) bekerjasama dengan Komnas Perempuan. Survei tersebut berlangsung 14-27 November 2021 dengan melibatkan 600 responden usia 15-30 tahun yang terdiri dari perempuan (75,8%), laki-laki (22,8%), dan gender lain (1,3%).

Hasilnya 91,6% responden mengaku pernah mengalami dan mengetahui secara tidak langsung sedikitnya satu bentuk kekerasan seksual. Survei juga mengungkap sebagian responden pernah mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan seksual. Ini ditunjukkan dengan 61,5% responden mengaku pernah disentuh pada bagian tubuh tertentu dan 37,6% responden menyebut pernah dipaksa berhubungan seksual.

Survei tersebut memang belum mewakili sikap dan pandangan 65.767.711 orang muda. Tapi setidaknya ini menjadi perhatian jika orang muda adalah “perangkat” dalam upaya memerangi kekerasan seksual. [Nur Azizah]

*Dari berbagai sumber

kekerasan Kekerasan Seksual
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

KemenPPPA dan JalaStoria Gelar Workshop Peningkatan Kualitas Pemberitaan Responsif Kekerasan Seksual

19 September 2024

Pilu, Kisah Korban Pemerkosaan Tragedi Mei 1998

17 Mei 2024

Hilangnya Rasa Aman dalam Keluarga

21 Maret 2024

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.