Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Kekerasan Seksual Itu Terjadi di Rumahku

Kekerasan Seksual Itu Terjadi di Rumahku

Storimini jalastoria31 Agustus 2022
kekerasan seksual
Ilustrasi (Sumber: Free-vector/Freepik.com)

Oleh: IKD

Di hari itu, seperti biasa aku menyempatkan pulang ke rumah di sela jam istirahat kerja agar bisa memberikan ASI pada anak keduaku yang baru berusia 9 bulan. Aku sengaja menyewa rumah yang tidak jauh dari kantor, hanya sekitar 150 meter dan bisa kutempuh dengan berjalan kaki.

Di rumah anak-anakku senang sekali menyambutku. Mereka ditemani pekerja rumah tangga yang sudah 9 bulan ini bekerja menjaga anak-anak dan mengurusi rumah. Sebut namanya Aya. Dia sangat baik pada anak-anak, selalu patuh setiap kali kuperintah mengerjakan tugas. Usianya sekitar 14 tahun dan memiliki 3 adik yang masih kecil-kecil. Kesulitan ekomoni, akhirnya Aya harus putus sekolah dan hanya mengenyam pendidikan sampai tamat SD. Wajahnya tidak cantik. Kulitnya hitam. Namun kuakui, Aya punya bentuk badan yang semok di usia pertumbuhannya.

Selesai aku menyusui anak keduaku dan menidurkannya, Aya menghampiriku dan menyampaikan keputusannya untuk berhenti bekerja hari itu juga. Sontak aku terkejut dan menanyakan alasannya untuk berhenti. Awalnya dia menolak untuk bicara. Namun setelah didesak, akhirnya dengan nada marah dia buka suara. Betapa terkejutnya aku mendengar alasannya untuk berhenti bekerja bahwa dia merasa kecewa pada suamiku.

Baca Juga: Kekerasan Seksual pada Anak, Kenali 3 Tanda Ini

Aku makin penasaran. Apa alasannya dia kecewa pada suamiku? Terpikir dalam benak apakah dia tidak puas dengan gajinya? Apakah ada pekerjaan yang membuatnya keberatan karena dia harus mengurus anak balita sekaligus bayi dari pagi buta hingga malam? Ternyata bukan itu alasannya. Dia pun mulai menceritakan bahwa sudah dua kali suamiku masuk ke kamarnya di tengah malam. Aya tidur di kamar depan. Sengaja kupesan pada pemilik kontrakan agar dibuatkan kamar. Walau non permanen, hanya dari kayu dan triplek tapi cukup kokoh dan layak dijadikan ruang tidur. Kukira itu sudah cukup nyaman dan aman.

Aya mengaku salah karena tidak mengunci pintu kamarnya saat tidur karena dia merasa hal itu tidak perlu dilakukan. Dia pun tak menyangka suamiku yang selama ini sopan dan sayang pada keluarganya, diam-diam masuk ke kamarnya dan tidur di sebelahnya. Saat malam Aya terbangun, dia pun terkejut. Lalu bertanya pada suamiku yang dipergokinya tengah tidur, “bapak ngapain disini?” “Nggak apa-apa, saya nggak ngapa-ngapain,” jawab suamiku. Aya ragu mendengar jawaban suamiku. Memang suamiku orang yang berpendidikan dan selalu menyempatkan diri untuk beribadah. Namun, apa saja mungkin bisa dilakukan pada dirinya saat dia tertidur. Aya pun mengusir suamiku dari kamarnya dengan berdalih akan mengadu padaku jika dia tidak keluar.

Aya tidak pernah menceritakan peristiwa itu padaku. Hingga sampai hari ini, itu pun Aya memberanikan diri dan mengambil risiko berhenti bekerja, walau dengan perasaan marah bercampur rasa takut. Sebab malam tadi, saat dia belum tidur karena masih main ponsel dan belum mengunci kamarnya, suamiku masuk kembali ke kamarnya dan menggodanya. Namun Aya menolak dan mengusirnya kembali, bilang akan mengadu padaku.

Baca Juga: Celah Pelindungan dalam 6 Kasus Kekerasan terhadap PRT

Dalam hati aku berterima kasih pada Aya karena dia mempunyai pendirian dan berani untuk berbicara. Entah apa yang akan terjadi jika perempuan pekerja rumah tangga dihadapkan dengan majikan pria yang berani menggodanya dan tidak mampu menolak lalu bungkam. Semoga kisah ini memberi pelajaran bagi siapa saja yang mempekerjakan perempuan pekerja rumah tangga untuk memberikan tempat tinggal yang nyaman dan aman. Sebab niat jahat bisa muncul tiba-tiba di saat ada kesempatan, seperti kisah yang kubagikan ini.[]

 

Untuk menjaga kerahasiaan identitas penulis, nama kami samarkan

 

Kekerasan Seksual
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.