Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Kontrasepsi Bukan Urusan Perempuan Saja

Kontrasepsi Bukan Urusan Perempuan Saja

Storimini jalastoria28 September 2022
kontrasepsi
Ilustrasi (Sumber: Free-vector/Freepik.com)

Seorang ibu dua anak bercerita tentang pengalamannya menggunakan alat kontrasepsi. Sebut saja namanya Yunita. Selesai masa ASI eksklusif anak keduanya, Yunita memilih menggunakan suntik KB sebagai cara untuk mencegah kehamilan. Selama kurang lebih tiga tahun, dia lalu menghentikan menggunakannya.

“Aku berhenti KB suntik karena badan aku kok tambah gede. Terus di muka itu tambah banyak bintik-bintik hitam,” katanya.

Sejak saat itu Yunita bersama suaminya memilih menggunakan kontrasepsi secara kombinasi; alami dan penghalang/kondom.

Ini bukan kali pertama Yunita menggunakan kontrasepsi. Sebelum anak keduanya lahir, dia sudah lebih dulu mencegah kehamilan secara manual. Kepada suaminya dia bangun komunikasi. Menyatakan keinginannya untuk memiliki anak kedua setelah 4 tahun bayi pertamanya lahir.

“Tapi aku engga mau KB, terus suamiku yang inisiatif bilang ya udah nanti pas mau ke luar aku pakai kondom. Dia juga yang beli kondomnya,” terang Yunita.

Baca Juga: Pemaksaan Sterilisasi dan Kontrasepsi Melanggar UU TPKS

Pengalaman lain datang dari Margaretha. Sejak serius mau menikah, jumlah anak menjadi kesepakatan bersama antara Margaretha dan suami.

“Waktu udah ada anak pertama itu suami sempat pakai pengaman. Terus udah ada anak kedua maka aku yang KB karena pakai kondom itu menurutku juga masih riskan kalau buat kami,” terang Margaretha.

Kini Margaretha dan suami telah memiliki 3 orang anak. Sama seperti jumlah yang dikehendaki keduanya. Lantas, bagaimana cara Margaretha dan pasangan mencegah kehamilan berikutnya?

“Setelah anak ketiga lahir, rencana pasang KB tapi malas karena prosesnya lalu suamiku bilang kalau dia bersedia untuk KB. Tapi aku ga tega dan akhirnya pakai IUD,” kata Margaretha.

Margaretha memilih menggunakan IUD karena lebih banyak nilai plusnya. Menurut Margaretha, dengan IUD haid teratur seperti biasa, tidak mengganggu hormon. Jika ada kendala IUD bisa lepas sewaktu-waktu dan kontrol dilakukan sekali setahun bila terdapat masalah.

“Minusnya haid lebih banyak dan deg-degan kalau pas lepas pasang,” ucap Margaretha.

Dalam hal memilih alat kontrasepsi, keduanya punya jawaban serupa. Yunita dan Margaretha memilih alat kontrasepsinya sendiri setelah menerima informasi dari bidan atau dokter.

Baca Juga: Ngobrolin Hak dan Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Yunita dan Margaretha beruntung memiliki pasangan yang mau terlibat dalam mencegah kehamilan. Ini berbeda dengan yang dialami Septi. Suami Septi tidak peduli apakah istrinya menggunakan kontrasepsi atau tidak. Bagi suami Septi, yang terpenting adalah saat dia ingin berhubungan seksual istrinya ada.

Mengetahui itu, Septi memutuskan untuk menggunakan kontrasepsi. Septi pernah memberitahu suami tentang kontrasepsi yang dia gunakan. Tapi tetap saja suami seolah tak mau tahu jenis kontrasepsi apa yang digunakan istrinya dan bagaimana prosesnya. Bahkan untuk pengecekan rutin tentang kontrasepsinya pun suami Septi tak pernah mendampingi. Kalau sudah begini, pertanyaan lalu muncul, apakah kontrasepsi hanya jadi urusan perempuan? Yunita dan Margaretha punya jawabannya.

“Alhamdulillah suami saya terlibat dalam segala hal, urusan KB misalnya, jadi obrolan bersama tapi keputusan kembali ke aku. Kalau menurut aku baik, lanjut. Tapi kalau menurut aku engga baik dan aku berhenti, suamiku manggut,” terang Yunita.

“Kontrasepsi itu urusan suami istri karena dilakukan berdua dan konsekuensi ditanggung berdua. Jadi, ya harus kompak dan sepakat antara suami dan istri,” ungkap Margaretha mengakhiri obrolan. [Nur Azizah]

 

 

 

 

kontrasepsi
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.