Oleh : Rima Putri Handayani
Judul Buku : Pusparatri, Gairah Tarian Perempuan Kembang
Penulis : Nurul Ibad, Ms
Penerbit : Pustaka Sastra LKis
Tahun Terbit : 2011
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : 220 Halaman
Pernahkah terpikirkan oleh kita bagaimana kerasnya dunia yang menghakimi perempuan hanya karena masa lalunya? Hal ini sangat terasa dalam novel Pusparatri karya Nurul Ibad. Novel ini bukan sekadar cerita cinta, tetapi juga menelanjangi diskriminasi sosial, moral, dan agama yang kerap kali menjerat perempuan, terutama mereka yang dianggap “berdosa” atau tak pantas mendapat cinta dan pengakuan.
Melalui tokoh Pusparatri, sang penulis memotret bagaimana seorang perempuan penari kembang jatuh cinta pada seorang Kiai terkenal, Gus Rukh. Namun, cinta mereka tak berjalan mulus. Masyarakat menolak secara mentah hubungan itu hanya karena profesi Pusparatri yang identik dengan dunia malam. Inilah potret nyata bagaimana perempuan masih sering dinilai hanya dari masa lalunya.
“Pulang dan bercerminlah siapa dirimu ini, sehingga merasa pantas mendapatkan Gus Rukh anak Kiai Jalaludin…” (hlm. 47)
Kutipan ini menunjukkan betapa kerasnya stigma sosial. Bahkan kerap terjadi di dunia nyata, di mana perempuan dengan latar belakang pekerja malam atau profesi yang dianggap tercela terus disudutkan. Bahkan setelah bertobat atau berganti profesi, masyarakat tetap menolak membuka pintu penerimaan.
Cinta yang Jadi Ujian Berat
Novel ini juga membongkar ilusi kita bahwa cinta selalu membahagiakan. Bagi perempuan seperti Pusparatri, cinta justru menjadi ujian paling besar. Ia harus bergulat dengan rasa rendah diri, rasa bersalah, dan keraguan apakah ia pantas dicintai oleh sosok terhormat seperti Gus Rukh.
Masyarakat menolak kisah mereka bukan karena cinta itu salah, tetapi karena dunia tidak siap menerima perempuan dengan masa lalu yang dianggap buruk bersanding dengan laki-laki terhormat. Bahkan ketika Gus Rukh mencintai Pusparatri dengan tulus, tekanan sosial begitu besar. Gus Rukh pun akhirnya menyerah. Inilah potret cinta yang dikalahkan oleh norma sosial yang tidak adil.
Ketika Pusparatri hamil anak Gus Rukh, kebahagiaan berubah menjadi pedih. Kehamilan di luar nikah dianggap seperti aib, sementara Gus Rukh nyaris tidak menanggung konsekuensi sosial. Pusparatri harus menanggung beban sebagai ibu tunggal. Hal ini menjadi gambaran potret ketimpangan gender yang masih terjadi pada saat ini, laki-laki sering lolos dari hukuman sosial, sementara perempuan memikul beban stigma seorang diri
Perempuan Bukan Sekadar Masa Lalu
Tokoh Pusparatri mengajarkan hal penting, yakni masa lalu tak selayaknya memenjarakan harga diri perempuan. Ia memang pernah bekerja sebagai penari kembang demi bertahan hidup, tapi ia tetap perempuan berprinsip. Ia bahkan menolak merebut suami orang meski statusnya sering direndahkan.
Pilihan hidupnya yang tegar dan independen- meski penuh luka, membuat Pusparatri menjadi simbol perlawanan perempuan terhadap diskriminasi. Ia memilih melahirkan dan membesarkan anaknya tanpa memaksa Gus Rukh kembali. Ia tak mau hidupnya bergantung pada belas kasihan lelaki, atau menuntut diterima masyarakat. Sikapnya mengingatkan kita, bahwa martabat perempuan tak ditentukan oleh latar belakang atau status sosial, melainkan oleh keberanian dan prinsip yang dipegangnya.
Selain itu, yang juga sangat menyentuh dalam novel ini adalah bagaimana stigma tidak hanya datang dari masyarakat, tetapi juga dari dalam diri Pusparatri. Ia sering merasa tidak layak dicintai karena masa lalunya. Ini menggambarkan luka psikologis yang nyata, perempuan dengan masa lalu kelam sering memikul beban rasa bersalah, malu, bahkan meyakini mereka tak berhak bahagia.
“Aku sendiri bertanya, pantaskah aku dicintai? Atau selamanya aku harus terbelenggu masa lalu?” (hlm. 77)
Ini adalah realitas yang sangat nyata. Perempuan yang memiliki masa lalu kelam sering memanggul beban psikologis yang berat. Mereka dihantui rasa bersalah, malu, dan keyakinan bahwa mereka tidak layak mendapatkan kebahagiaan. Novel ini menunjukkan jika perjuangan perempuan tidak hanya melawan masyarakat, tetapi juga melawan suara-suara jahat dalam pikirannya sendiri. Namun yang menjadi luar biasa, seiring perjalanan cerita, Pusparatri belajar berdamai dengan dirinya. Ia menyadari bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh masa lalu, melainkan oleh bagaimana ia hidup saat ini dan nilai-nilai yang ia pegang.
Membaca Pusparatri terasa seperti menampar kesadaran kita. Hingga kini, perempuan dengan masa lalu masih sering mengalami kekerasan berbasis gender, baik secara verbal, sosial, maupun psikologis. Bahkan di era digital, label perempuan nakal mudah sekali disematkan, misalnya melalui perundungan di media sosial.
Salah satu kelebihan dari novel Pusparatri adalah keberanian penulis dalam mengangkat isu yang masih dianggap sensitif, tentang stigma sosial terhadap perempuan, dengan bahasa yang puitis dan menyentuh. Tokoh Pusparatri juga tergambar kuat dan berani mengambil keputusan meski harus menanggung risiko besar membuat karakter Pusparatri terasa hidup dan menginspirasi.
Namun, novel ini juga memiliki kelemahan. Salah satunya, latar sosial yang dihadirkan terasa kurang luas. Beberapa konflik penting juga diselesaikan terlalu cepat, seperti saat Pusparatri hamil di luar nikah, terasa diselesaikan terlalu cepat. Padahal, bagian itu bisa digali lebih dalam untuk menunjukkan tekanan sosial yang lebih kompleks. Sementara tokoh Gus Rukh kurang dieksplorasi lebih mendalam. Padahal, memahami pikirannya akan memperkaya kisah cinta mereka sekaligus memperlihatkan dilema laki-laki saat berhadapan dengan norma sosial.
Pusparatri mungkin hanya tokoh fiksi. Tapi kisahnya adalah suara ribuan perempuan yang nyata. Mereka yang dihakimi, diremehkan, dan dilarang bermimpi hanya karena masa lalu. Lewat novel ini, Nurul Ibad seolah berkata, perempuan juga manusia, layak bahagia dan layak dihormati. sementara kita, pembacanya, diajak bertanya, sampai kapan kita mau mengukur perempuan hanya dari masa lalu mereka?
Penulis merupakan lepas yang tertarik dengan isu perempuan. Aktif menulis di berbagai platform dan saat ini terlibat dalam komunitas sustainHER.

