Judul Buku : Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan
Penulis : Ester Lianawati
Penerbit : EA books
Tahun Terbit : 2020 (Cetakan Pertama)
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : 292 Halaman
Kesadaran untuk mengenal identitas diri sebagai perempuan kini semakin besar. Di tengah gempuran wacana kesetaraan, saya sering merenung: “Mengapa menjadi perempuan masih harus diukur dengan kepatuhan, bukan keberanian?”
Dari kecil, kita sering diajarkan bahwa anak perempuan harus pandai membersihkan rumah, berbicara lembut, dan menjaga diri. Sementara anak laki-laki diajarkan untuk bebas, berani, dan berpetualang. Dari situ, saya mulai mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar: “Mengapa ada perbedaan yang begitu tajam antara sesama manusia hanya karena gender?”
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawa saya menemukan buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan karya Ester Lianawati. Buku setebal hampir tiga ratus halaman ini menjelajahi bagaimana sejarah, psikologi, dan budaya membentuk citra perempuan, di mana sering kali dengan cara yang membungkam dan menundukkan.
Membaca Jejak Psikologi Feminis
Ester menulis dengan gaya yang ringan, tetapi padat pengetahuan. Ia membuka buku ini dengan penjelasan mengenai sejarah panjang psikologi feminis, cabang ilmu yang berupaya menantang bias laki-laki dalam teori psikologi klasik.
Nama-nama besar seperti Sigmund Freud, Carl Jung, dan Erik Erikson dibedah dengan tajam. Teori mereka banyak membentuk fondasi ilmu psikologi modern, tetapi sebagian besar gagal memahami psikologi perempuan. Freud, misalnya, dengan teori tentang “penis envy”, menempatkan perempuan dalam posisi inferior secara biologis maupun psikis–merasa tidak mempunyai penis seperti laki-laki adalah sebuah kekurangan.
Kegagalan tokoh-tokoh besar tadi memacu perempuan mengambil suara mereka yang selalu disalahartikan oleh laki-laki yang berusaha mewakilkan mereka. Ada Karen Horney, Sabina Spielrein, Catherine Vidal, Melanie Klien, Clara Thompson, Jules Michelet, dan Mona Chollet yang nantinya akan diceritakan di dalam buku ini.
Buku ini seperti perjalanan intelektual yang membuka mata: bahwa pemahaman tentang perempuan selama ini lebih sering dibentuk oleh sudut pandang laki-laki.
Sejarah yang Membungkam
Salah satu bagian paling menggugah bagi saya adalah ketika Ester menyinggung bagaimana sejarah turut menanamkan rasa takut pada perempuan yang berani berpikir dan menentang ‘takdir’ yang sejak awal seharusnya diterima oleh setiap perempuan.
Pada tahun 1892, seorang tokoh medis bernama Sir James Chichon-Browney menulis tentang penyakit bernama Anorexia-Scholastica yang konon hanya menyerang perempuan yang terlalu banyak belajar. Pernyataan bias seperti ini, yang tampak sepele di masa itu, ternyata menanamkan akar panjang dalam pikiran masyarakat: bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi, karena belajar hanya akan membuatnya “sakit”.
Sejak awal, manusia yang terlahir sebagai perempuan di dunia yang selalu memusatkan segalanya pada laki-laki akan dibelenggu supaya tidak melebihi laki-laki. Hidupnya harus dikuasai laki-laki, dan jika Anda sebagai seorang perempuan menolak jalan yang seharusnya diterima menjadi takdir, maka Anda harus bersiap akan dicap sebagai perempuan pemberontak dan liar.
Peristiwa itu pernah terjadi kira-kira hampir 700 tahun yang lalu. Sebuah tragedi perburuan penyihir di Eropa yang diinisiasi oleh Jean XXII. Perburuan yang berakhir dengan pembantaian itu dilakukan secara sistematis dan berlangsung selama empat abad (hal. 200). Sekitar 50.000 hingga 100.000 perempuan dibakar hidup-hidup, digantung, atau dipenjara hanya karena dianggap berbeda (tetapi karena di bawah pengaruh gereja Katolilk, mereka dianggap sebagai perkumpulan setan, sebab kemampuan para penyihir di bidang medis pada saat itu sudah melampaui zaman). Mereka ditangkap dan diadili dengan tidak adil.
Mereka disebut “penyihir” karena hidup mandiri, tidak mempunyai suami (entah karena sudah menjanda atau memang memilih hidup sendiri), dan tidak mempunyai anak. Sebuah fenomena yang tidak seharusnya terjadi oleh perempuan-perempuan pada zaman itu.
Melalui buku La Sorcière (1862) karya Jules Michelet dan Sorcieres, La Puissance Invaincue des Femmes (2018) karya Mona Chollet, Ester menunjukkan bahwa citra penyihir diciptakan untuk menakuti perempuan lain agar tidak berani menuntut ilmu dan kebebasan. Kini, “penyihir” justru menjadi ikon feminis. Penyihir sebagai simbol kecerdasan, kemandirian, dan keberanian untuk hidup di luar norma sosial di bawah kuasa patriarki.
Refleksi dari Diri Sendiri
Membaca buku ini membuat saya menoleh pada pengalaman pribadi dan lingkungan sekitar. Saya menyadari, betapa halusnya sistem yang melanggengkan kontrol terhadap perempuan: dari nasihat orang tua yang mengatakan “nanti laki-laki takut kalau kamu terlalu pintar,” hingga iklan-iklan yang terus mengulang pesan bahwa cantik adalah kunci kebahagiaan.
Buku ini mengajak saya untuk memandang diri bukan sebagai korban sejarah, tapi sebagai bagian dari generasi yang mampu menulis ulang narasi tentang perempuan. Bahwa menjadi “serigala betina” bukan berarti liar dalam arti negatif, melainkan berani menolak jinak dan tunduk pada ketidakadilan.
Ester Lianawati tidak hanya menulis buku tentang perempuan. Ia menulis tentang keberanian untuk berpikir, untuk marah, dan untuk memahami diri sendiri. Jika kamu ingin memulai perjalanan memahami sejarah feminisme dan patriarki dari sisi psikologi, buku ini adalah titik awal yang sangat layak.

