Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Buku»Sepatu Lusuh Saksi Bisu Idealisme Guru

Sepatu Lusuh Saksi Bisu Idealisme Guru

Buku Redaksi Jalastoria12 Januari 2026

Oleh : Nadia Nahdatur Ramadhani

Judul Buku : Guru Aini

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : Penerbit Bentang

Tahun Terbit : 2024

Halaman : 306 halaman

Guru Aini, merupakan salah satu novel karangan Andrea Hirata yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2021. Guru Aini merupakan novel pertama dari trilogi Guru Aini. Berkisah tentang Desi, seorang jenius lulusan terbaik di sekolahnya yang memilih menjadi guru matematika. Badannya yang ideal tak membuatnya tergoda untuk menjadi seorang model. Tak tanggung-tanggung, sebagai lulusan terbaik di angkatannya semasa kuliah, harusnya ia bisa bebas melenggang mendapatkan sekolah tempat mengajar terbaik di kota. Desi mau untuk menukarkan undian pengabdiannya dengan seorang temannya yang mendapatkan lokasi mengajar di Ketumbi. Sebuah daerah diujung Sumatera yang namanya pun jarang orang tahu.

Sebagai lulusan baru Desi sangat idealis, Desi bersumpah tak ingin mengganti sepatuh putih pemberian ayahnya sebelum menemukan si jenius matematika. Tahun dilaluinya, hingga dia bertemu dengan Debut Awaludin. Seorang murid SMA yang sangat pintar ketika mengerjakan soal-soal matematika. Sungguh girang hati Bu Desi mendapatkan murid seperti Debut. Di siapkannya sebuah meja dan kursi di rumah, sebagai tempat belajar Debut Awaludin. Namun, nyatanya harapan yang melambung diangkasa berubah menjadi lara, saat Debut memutuskan meninggalkan sekolah dengan gengnya.

Tahun demi tahun berlalu, Desi masih teguh dengan sepatu putihnya yang kini sudah memudar dan mulai rusak. Bentuk sepatu itu adalah gambaran idealismenya yang masih dijaga. Dalam buku ini ditegaskan alasan mengapa sepatunya tidak pernah diganti

“Tak pernahkah kau lelah menjadi seorang idealis Desi?” tanya guru Laila.

“Lelah Laila, tapi tanpa idealisme aku akan lebih lelah. Tanpa idealisme orang akan hidup dengan menipu diri sendiri dan tak ada yang lebih lelah dari pada hidup menipu diri sendiri” jawab Desi.

Desi terus mencari murid yang mau belajar hingga hadir sosok Aini, murid dari grup “Trio Aljabaria” dengan alergi matematika yang akut, tiap akan belajar matematika perutnya akan melilit, katanya dia sudah mengidap alergi ini sedari SD. Nilai ulangannya berputar pada dua bilangan biner, iya jika tidak 0 ya 1. Matematika adalah momok menyeramkan baginya. Hingga suatu hari, Aini mendapati ayahnya jatuh sakit. Dia mencoba berbagai macam pengobatan dari yang tradisional hingga modern, tapi tidak berhasil. Katanya yang bisa menyembuhkan penyakit ayahnya adalah seorang dokter ahli.

Rasa sayang yang menggunung terhadap ayahnya, membuat Aini membulatkan tekad ingin jadi dokter. Ia juga dapat berita bahwa dokter harus pandai matematika. Tekad yang bulat membuatnya ingin pindah kelas di kelas Bu Desi, guru yang masyhur sebagai ahlinya matematika. Meninggalkan “Trio Aljabaria” menjadi “Duo Aljabaria”. Tentu, dua teman grup “Aljabaria” nya terkaget, sebab selama ini semua murid menghindari kelas Bu Desi. Apalagi ini adalah seorang Aini, murid yang nilai ulangan matematikanya bilangan biner semua. Tak tanggung-tanggung Aini juga ingin mendapatkan bimbingan langsung oleh Bu Desi di rumahnya. Sore demi sore dia lalui dengan didikan dari Bu Desi. Bu Desi mengajari Aini bukan mulai dari aljabar, dengan setitik harapan yang ada dia mengajarkannya kalkulus.

Novel ini, tidak hanya berkisah tentang guru dan murid, tapi juga seorang wanita yang mengambil keputusan sulit. Merantau di daerah terpencil tentu bukan hal yang mudah, apalagi menjaga obor idealismenya di tengah masyarakat terpencil di Sumatera. Bekal semua potensi mulai dari otak yang cemerlang hingga tubuh yang ideal tidak membuat Desi memudarkan citanya menjadi guru untuk pilihan pekerjaan yang dinilai orang-orang lebih baik.

Selain belajar bahwa wanita dapat mempertahankan idealismenya, novel ini juga mengajarkan bahwa wanita menjadi sosok yang pantang menyerah seperti Aini. Aini dengan segala keterbatasan pengetahuan dan ekonomi yang ingin bercita-cita menjadi seorang dokter. Novel ini melukiskan realitas yang ada, bahwa kemampuan dan tekad saja terkadang tak cukup untuk meraih cita. Terdapat kerentanan ekonomi yang bisa menjadi jerat pembatas bagi cita manusia.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Ketika Pengguna Jilbab Kini Menjadi Mayoritas

28 April 2026

Kesadaran Mengenal Identitas Diri Sebagai Perempuan

12 Februari 2026

Perlawanan Perempuan pada Takdir

12 Februari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.