Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Anak Lelaki dan Dapur: Saat Norma Gender Menghalangi Bakat

Anak Lelaki dan Dapur: Saat Norma Gender Menghalangi Bakat

Perspektif Redaksi Jalastoria4 Agustus 2025

Oleh: Khairiah El Marwiah

Sejak lama, pembagian peran berdasarkan gender telah mengakar dalam budaya masyarakat, termasuk dalam hal pekerjaan domestik. Aktivitas seperti memasak, merawat anak, dan membersihkan rumah masih sering dilabeli sebagai tugas perempuan. Sementara anak laki-laki lebih diarahkan untuk melakukan pekerjaan fisik atau aktivitas luar ruangan. Pola pikir ini tak jarang membatasi ruang anak laki-laki untuk mengembangkan minat di bidang yang dianggap kurang maskulin.

Memasak masih kerap dilihat sebagai aktivitas yang identik dengan perempuan. Anak laki-laki yang suka memasak sering kali menerima komentar merendahkan atau bahkan ejekan dari lingkungan sekitarnya. Padahal, memasak merupakan keterampilan hidup dasar yang seharusnya dapat dikuasai oleh semua orang tanpa batasan gender. Sayangnya, norma sosial yang kaku kerap membuat anak laki-laki menahan diri untuk menyalurkan minatnya di dapur.

Anehnya standar ini hanya berlaku saat laki-laki memasak di dalam rumah. Sementara jika pekerjaan tersebut dilakukan di ruang publik, justru lebih diakui dan dihargai. Ini bisa kita lihat dari banyaknya koki atau chef laki-laki yang cenderung dibayar lebih mahal dari pada koki perempuan. Bisa jadi perlakuan ini karena laki-laki dianggap berhasil mengusai dapur (baca- wilayah perempuan) sehingga patut diapresiasi. Tentu saja, standar ganda ini amat merugikan pada anak laki-laki dan perempuan untuk menekuni dan melakukan hal yang mereka sukai.

Sejak dini, anak-anak dipengaruhi oleh norma-norma sosial yang menentukan apa saja yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan sesuai jenis kelamin. Pekerjaan domestik seperti memasak, menjahit, atau merawat anak masih sering dipandang sebagai wilayah perempuan. Anak laki-laki yang mencoba memasuki wilayah tersebut kerap dicap lemah atau tidak pantas. Pola pikir ini kemudian diteruskan dalam lingkungan sekolah dan pertemanan, yang semakin mempersempit ruang berekspresi anak.

Salah satu kisah inspiratif yang menarik perhatian dunia datang dari Omari McQueen, seorang anak laki-laki asal Inggris yang mulai memasak sejak usia 8 tahun. Awalnya, Omari juga menghadapi pandangan sinis dari lingkungan karena hobinya yang dianggap tidak lazim untuk anak laki-laki. Namun, berkat dukungan keluarganya, Omari berhasil membuktikan bakatnya dengan menjadi chef vegan termuda di Inggris dan membuka restoran pop-up di Boxpark Croydon London pada usia 11 tahun (Eater London, 2019). Kisah Omari menjadi contoh bagaimana dukungan lingkungan dapat membebaskan anak dari belenggu norma gender yang sempit.

Sayangnya, banyak anak laki-laki di berbagai belahan dunia masih harus menghadapi stigma ketika menunjukkan ketertarikan terhadap aktivitas domestik. Ketakutan akan ejekan dan stigma maskulinitas tradisional membuat mereka menyembunyikan minatnya. Hal ini berpotensi besar membatasi perkembangan kreativitas, kemandirian, serta kesehatan mental anak. Terlebih ketika lingkungan sosial tidak memberi ruang aman bagi ekspresi diri yang berbeda dari norma umum. Jika kondisi ini terus dibiarkan, generasi muda laki-laki akan tumbuh dengan identitas yang tertekan dan potensi yang tak pernah benar-benar berkembang.

Lebih jauh, studi Gordon et al. (2018) dalam Journal of School Health menegaskan bahwa laki-laki feminin yang mengalami bullying menghadapi risiko dampak serius di berbagai aspek kehidupan mereka. Bentuk bullying yang mereka alami kerap berupa ancaman fisik, ejekan, hingga kekerasan langsung yang berujung pada perkelahian fisik. Banyak diantaranya mengalami cedera serius akibat serangan tersebut, baik di lingkungan sekolah maupun sosial. Kondisi ini memperlihatkan betapa konstruksi maskulinitas yang kaku dapat melahirkan kekerasan terhadap anak laki-laki yang menampilkan ekspresi diri berbeda.

Sejalan dengan itu, laporan UNICEF & UNFPA (2020) melalui Technical Note on Partnering with Men and Boys to End Child Marriage menekankan pentingnya mendorong konsep positive masculinities sejak anak-anak. Norma maskulinitas tradisional yang mengutamakan dominasi dan agresivitas terbukti berbahaya, tidak hanya bagi perempuan, tapi juga bagi laki-laki itu sendiri. Oleh karena itu, program-program berbasis gender-transformatif perlu melibatkan anak laki-laki untuk membangun pemahaman bahwa menjadi laki-laki tidak harus identik dengan kekuatan fisik atau kontrol sosial. Memberi ruang bagi anak laki-laki untuk memasak, merawat, dan menunjukkan emosi justru membantu membentuk masyarakat yang lebih adil dan setara.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan lingkungan sekitar untuk memberikan ruang yang aman bagi anak laki-laki dalam mengekspresikan minat mereka, termasuk di bidang domestik. Memberikan edukasi tentang kesetaraan gender sejak usia dini juga menjadi langkah penting agar anak memahami bahwa bakat dan minat tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Seperti yang ditulis R.W. Connell dalam bukunya Masculinities (2005), konsep maskulinitas seharusnya bersifat fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Dengan begitu, generasi muda bisa tumbuh dengan identitas yang sehat dan terbebas dari tekanan norma sosial yang membatasi.

Referensi

Connell, R. W. (2005). Masculinities (2nd ed.). University of California Press.

 

 

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.