Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Suara Sunyi Perempuan Desa: Sulitnya Memutuskan untuk Tubuh Sendiri

Suara Sunyi Perempuan Desa: Sulitnya Memutuskan untuk Tubuh Sendiri

Storimini Redaksi Jalastoria15 Agustus 2025

Oleh: Desi Fajar Permatasari

Sebagai seorang bidan dan tumbuh besar menjadi perempuan pedesaan, saya sering menyaksikan satu kenyataan yang terus mengusik: Mengapa perempuan begitu sulit memutuskan tentang tubuhnya sendiri?

Saya pernah mendampingi seorang ibu muda berusia 19 tahun. Baru melahirkan anak pertama, ia tampak sangat lelah dan cemas. Ketika saya bertanya apakah ia ingin menggunakan alat kontrasepsi, ia tersenyum ragu, lalu menunduk. “Suami belum mengizinkan, Bu,” katanya pelan.

Itu hanya satu dari banyak cerita. Cerita tentang perempuan yang ingin menggunakan alat kontrasepsi tapi harus minta izin dulu. Tentang remaja putri yang kebingungan saat pertama kali menstruasi tapi dilarang bicara karena dianggap tabu. Tentang ibu rumah tangga yang ingin memeriksakan keputihan tapi malu, dan atau tak punya keberanian untuk membuat keputusan seorang diri.

Tubuh yang Dipinjam, Suara yang Dikebiri

Perempuan  sering kali tidak punya ruang untuk bertanya, apalagi memutuskan. Padahal, tubuh merekalah yang mengalami semua perubahan. Dari haid pertama, kehamilan, persalinan, nifas, hingga menopause. Ironisnya, banyak dari mereka bahkan tidak tahu nama organ tubuh mereka sendiri.

Pembicaraan soal organ reproduksi masih dianggap tabu. Menyebut kata “vagina” saja bisa bikin suasana jadi kikuk. Belum lagi tekanan dari keluarga dan adat yang sering membungkam suara perempuan.

Di desa, kesehatan reproduksi masih menjadi wilayah sunyi. Mereka mengira bahwa tubuh mereka adalah milik suami, keluarga, bahkan adat. Padahal, siapa lagi yang paling tahu tentang tubuh perempuan, kalau bukan dirinya sendiri?

Akar masalah ini tumbuh dari konstruksi sosial patriarki yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang wajib menurut, tanpa membangun relasi yang kompromistis. Perempuan diposisikan sebagai pihak subordinat dan laki-laki dianggap superior dengan legitimasi sosial untuk mengontrol tubuh, seksualitas, serta organ reproduksi perempuan. Akibatnya, banyak perempuan terbungkam dan tidak terlibat sebagai subjek yang berdaya dalam mengambil keputusan terkait kesehatan dirinya sendiri, bahkan dalam hal-hal yang menyangkut kehamilan, persalinan, dan penggunaan kontrasepsi. Situasi ini bukan hanya membatasi kebebasan mereka, tetapi juga melanggengkan ketidakadilan gender yang diwariskan dari generasi ke generasi.Diam, Simbol Ketabahan yang Dianggap Wajar

Mereka tidak berteriak, tidak pula menuntut didengar. Namun di balik senyum yang dibias-bias, tersembunyi letusan sunyi yang tak pernah selesai mereka uraikan. Perempuan-perempuan di desa kami terbiasa diam. Bukan karena tidak punya suara, tapi karena terlalu sering suara mereka teredam oleh adat, oleh suami, oleh stigma, oleh keharusan untuk tunduk, sabar, dan terima saja.

Sejak kecil, kami diajari bahwa perempuan yang baik adalah yang tidak banyak bertanya. Bahwa rasa sakit saat haid adalah ujian iman. Bahwa saat tubuh terluka oleh proses persalinan, itu adalah bagian dari takdir dan kodrat, juga ladang pahala.

Di sudut kamar bersalin Puskesmas, saya pernah mendapati seorang ibu yang sudah putus asa. Usianya sudah kepala empat, tidak memiliki riwayat pemeriksaan kehamilan sebelumnya, dan saat diperiksa menunjukkan kategori kehamilan risiko tinggi. Sayangnya persalinan saat itu tidak berjalan baik, beliau mengalami pendarahan hebat pasca bersalin. Melihat demikian, apakah suami dan keluarga yang hadir lantas memberikan dukungan?

Tanpa kami duga, keluarga pasien justru memberikan penghakiman pada ibu tersebut. Atas pilihannya untuk pergi ke Puskesmas, atas sikapnya yang menolak untuk kembali melahirkan bersama dukun beranak. Keluarga berdalih, persalinan sebelumnya dilakukan di rumah, dan semuanya berjalan lancar. Keluarga juga menolak tegas untuk dirujuk ke rumah sakit. Padahal nyawa dipertaruhkan.

Jelas kami tidak menyerah. Dalam waktu kritis, kami terus berupaya untuk membujuk sang suami, satu-satunya pemegang kunci dalam situasi tersebut. Tapi ia tak bergeming. Hingga terucap pertanyaan, “Kalau istrimu meninggal hari ini, kamu siap mengasuh empat anakmu sendiri? Siap menjawab jika kelak mereka bertanya kenapa ibunya tak diselamatkan?”

Suara itu masuk lebih dalam dari argumen medis manapun. Ia terdiam lama. Lalu akhirnya mengangguk.

Bersyukur ibu tersebut mampu melewati masa kritisnya. Kini ia telah baik-baik saja. Namun, siapa yang tahu apa yang sebenarnya tersisa dari hari itu? Tubuhnya mungkin sembuh, tapi batinnya telah melewati sebuah ujian, tentang betapa rapuh nyawa seorang perempuan di mata orang yang ia cintai. Tentang bagaimana nyawanya sempat harus dinegosiasikan.

Perempuan dan Dapur: Ruang yang Paling Ramai Sekaligus Sepi

Di sudut-sudut desa, aku menyaksikan perempuan bangun sebelum subuh, menanak nasi, menyuapi anak, menyusui bayi, lalu bergegas ke sawah atau ke pasar. Saat malam datang, tubuh mereka sudah remuk. Tapi tetap saja masih harus melayani, tanpa jeda, tanpa tanya, tanpa pamrih. Salah satu dari mereka adalah ibu. Perempuan tangguh yang sejak remaja tak mengenal kata libur.

Pernah kutanya, “Ibu, kenapa ibu tidak pernah marah?”

Ia hanya tersenyum, “Kalau bukan ibu yang kuat, siapa lagi?”

Jawaban itu kutelan bersama nasi dan air mata. Karena aku tahu, bukan ibu tidak ingin marah, tapi ia tak punya ruang untuk itu. Sunyi mereka bukanlah tanda kelemahan, tapi hasil dari sistem yang lama membisukan. Mereka tidak kalah, mereka sedang menunggu waktu untuk menyuarakan.

Dari Sunyi Menuju Suara, Jalan yang Masih Panjang

Aku seorang anak perempuan satu-satunya, telah bersumpah akan menuliskan sunyi mereka agar tak hilang ditelan zaman, agar perempuan desa bisa bicara tentang tubuhnya tanpa malu. Tentang luka batinnya tanpa takut. Tentang impiannya tanpa dikecilkan. Aku percaya, suara sunyi perempuan desa bukan hanya butuh didengar, tapi juga dihormati.

Saya percaya bahwa cerita bisa mengubah cara pandang. Maka saya mulai menulis. Tentang ibu-ibu yang belajar berkata “tidak” pada kehamilan yang tidak diinginkan. Tentang remaja putri yang berani bertanya soal menstruasi. Tentang rasa sakit yang berhak diaukui. Tentang perempuan yang pelan-pelan mulai sadar, mereka punya hak atas tubuhnya sendiri.

Saya menulis ini bukan hanya sebagai bidan atau penulis. Saya menulis ini sebagai seorang perempuan yang percaya bahwa tubuh kita bukanlah ruang diam. Ia punya suara. Dan kita harus belajar mendengarkannya. Jika ada satu hal yang selalu saya katakan pada setiap perempuan yang saya temui di desa, itu adalah:

“Tubuhmu milikmu. Kamu berhak tahu, berhak memilih, dan berhak memutuskan.”

Semoga pelan-pelan, kita bisa menciptakan dunia di mana keputusan tentang tubuh bukan lagi hak istimewa, tapi hak semua perempuan, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat kota, di sudut-sudut sunyi pedesaan.

 

Ditulis oleh seorang bidan dan Founder KesproKU

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.