Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Siapa yang Diuntungkan dari Obsesi Kulit Putih?

Siapa yang Diuntungkan dari Obsesi Kulit Putih?

Perspektif Redaksi Jalastoria2 September 2025

Oleh: Fatia Salma Fiddaroyni

Saya cukup geram dengan persepsi orang-orang yang mengukur kecantikan perempuan dari warna kulitnya. Kulit putih itu satu-satunya definisi cantik. Kalau begitu, apakah berarti yang tidak putih berarti tidak cantik? Melalui tulisan ini, saya akan mengupas latar belakang munculnya penilaian tersebut.

Pandangan semacam ini menimbulkan luka kolektif pada banyak perempuan. Mereka yang memiliki kulit sawo matang atau gelap sering kali tumbuh dengan rasa minder, merasa diremehkan, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Standar cantik yang hanya berpihak pada kulit putih membuat sebagian perempuan terjebak dalam perasaan rendah diri, seolah-olah tubuhnya tidak pernah cukup untuk diterima masyarakat.

Apa Penyebab Persepsi Ini Muncul?

Peneltian Li, dkk. (2008), Skin Lightening and Beauty in Four Asian Cultures, mengungkapkan bahwa fenomena kulit putih di Asia itu rumit, karena didorong oleh pengaruh Barat dan nilai lokal, dan punya efek ganda, yaitu bisa membuat perempuan merasa berdaya, tapi juga tertekan. Tak terkecuali pula obsesi kulit putih di Indonesia, tidak lepas dari warisan kolonial Belanda yang memposisikan ras Eropa sebagai superior. Setelah itu, industri kosmetik global mengkapitalisasi obsesi ini, yaitu dengan menjual produk pemutih, sabun, lotion, iklan, selebritas, semuanya mencuci otak bahwa kecantikan itu diukur dari kecerahan warna kulit. Miris sekali.

Hal ini didukung pula dengan temuan Arwanda, Wulandari, dan Patma Saputra (2021), yang menunjukkan bahwa perempuan dianggap ideal jika memiliki kulit cerah, sedangkan perempuan berkulit gelap dianggap tidak merepresentasikan standar kecantikan. Padahal, kondisi ini tidak sejalan dengan realitas mayoritas perempuan Indonesia yang cenderung memiliki kulit kuning langsat atau sawo matang.

Selain faktor kolonialisme dan industri, obsesi kulit putih juga berkaitan erat dengan relasi gender. Standar cantik yang dilekatkan pada tubuh perempuan kerap kali lahir dari pandangan laki-laki, yang kemudian dipelihara dan direproduksi oleh masyarakat. Dalam konstruksi patriarkal, tubuh perempuan kerap dijadikan objek penilaian. Kulit putih diposisikan sebagai daya tarik utama, seolah-olah nilai perempuan hanya diukur dari sejauh mana ia bisa memenuhi selera maskulin yang dominan.

Dalam praktiknya, tidak sedikit perempuan merasa harus menyesuaikan diri dengan standar tersebut agar dianggap pantas, cantik, dan layak dicintai. Iklan kosmetik kerap menegaskan narasi ini, bahwa perempuan dengan kulit putih lebih mudah mendapatkan perhatian publik. Dengan kata lain, obsesi pada kulit putih bukan hanya sekadar estetika, tetapi juga menyangkut hubungan sosial yang menekan perempuan untuk selalu tampil cantik menyesuaikan selera maskulin yang dominan. Ya, kulit putih.

Selain itu, jika dianalisis dari perspektif feminis, standar ini menunjukkan bagaimana kapitalisme dan patriarki saling bersekutu. Bak pahlawan, kapitalisme hadir menjual produk pemutih sebagai ‘solusi’ agar perempuan sesuai dengan standar cantik yang diciptakan patriarki. Akibatnya, perempuan bukan hanya terbebani secara psikologis, tetapi juga secara ekonomi, karena merasa perlu terus mengonsumsi produk-produk yang menjanjikan  untuk menjaadi cantik ideal. Dalam kondisi ini, perempuan ditempatkan sebagai konsumen yang rentan sekaligus sebagai subjek yang tubuhnya dikendalikan oleh konstruksi sosial yang tidak berpihak padanya.

Kenapa Warna Kulit Berbeda?

Tuhan menciptakan beragam warna kulit yang berbeda-beda menyesuaikan wilayah daerah masing-masing. Karena secara ilmiah, keberagaman warna kulit manusia bersinggungan dengan adaptasi terhadap sinar ultraviolet (UV) di wilayah tempat mereka hidup. Sebagaimana penelitian Jablonski dan Chaplin (2000), manusia di garis khatulistiwa punya kulit lebih gelap (perlindungan UV), sedangkan populasi lintang tinggi punya kulit lebih terang (produksi vitamin D).

Misalnya saja, orang yang tinggal di daerah beriklim tropis dengan intensitas sinar matahari tinggi seperti Afrika, memiliki kulit lebih gelap. Pigmen melanin yang tinggi pada kulit hitam berfungsi sebagai pelindung alami dari radiasi UV yang berlebihan, serta mencegah kerusakan DNA yang menyebabkan kanker kulit.

Menengok belahan dunia lain, wilayah Eropa Utara seperti Inggris, Jerman, dan lainnya, sebagai negara beriklim dingin dengan sinar matahari minim, cenderung berkulit putih pucat. Fungsinya agar memudahkan penyerapan sinar matahari supaya tubuh dapat memproduksi cukup vitamin D. Sementara di belahan wilayah kita sendiri, kawasan Asia Tenggara, mayoritas penduduk memiliki kulit kuning langsat hingga sawo matang. Wilayah ini beriklim tropis, namun vegetasi lebat dan pola hidup menyesuaikan sehingga kulit tidak sehitam orang Afrika tropis, tetapi tetap cukup gelap untuk melindungi dari sinar matahari.

Siapa yang Diuntungkan dari Obsesi Kulit Putih?

Tidak ada satu pun warna kulit yang lebih unggul atau lebih layak disebut cantik daripada yang lain. Perbedaan ini justru membuktikan bagaimana tubuh manusia menyesuaikan diri dengan alam demi bertahan hidup. Sayangnya, fakta ilmiah ini sering diabaikan oleh narasi iklan dan industri kosmetik yang terus menanamkan anggapan bahwa semakin cerah warna kulit, semakin tinggi pula nilai kecantikan seorang perempuan.

Ironisnya, mitos ini tidak hanya hidup di papan iklan atau media sosial, tetapi juga tumbuh di percakapan sehari-hari. Komentar seperti “Kok kamu iteman sekarang?” atau “Mau putihin kulit biar cantik” terdengar sepele, tetapi sebetulnya malah menanamkan rasa minder yang mengakar. Banyak perempuan rela mengeluarkan biaya besar untuk krim, suntikan, hingga perawatan ekstrem demi memutihkan kulit, yang padahal tidak jarang berisiko pada kesehatan mereka sendiri.

Mempercantik diri itu bukan dengan memutihkan kulit, tapi merawat kulit. Merawat kulit berarti menjaganya tetap sehat, bersih, terhidrasi, dan nyaman dipakai beraktivitas di iklim tropis yang cukup panas ini. Kulit sawo matang atau kuning langsat bukan memancarkan aura gelap yang terkesan kusam, justru anugerah Tuhan itulah yang membentengi kita dari sengatan UV yang tak terhindarkan di garis khatulistiwa. Kulit kusam itu bukan diukur dari jenis warnanya, tapi kebersihan dan kesehatan kulit.

Lalu, siapa sebenarnya yang diuntungkan dari obsesi putih ini? Sudah jelas jawabannya adalah industri kecantikan yang meraup untung dari krim pemutih, suntik vitamin C, dan upaya-upaya pemutihan lain. Indonesia mewakili pasar kosmetik yang sangat menjanjikan bagi industri—dengan pendapatan yang melonjak dari USD 1,31 miliar (sekitar Rp 21,45 triliun) pada 2021 menjadi USD 1,94 miliar (sekitar Rp 31,77 triliun) pada 2024 (Kemenperin Pacu IKM Kosmetik Maksimalkan Pasar yang Ekspansif, 2024).

Selain itu, estimasi dari Statista memperkirakan bahwa total pendapatan sektor kecantikan & perawatan diri pada 2024 mencapai USD 9,17 miliar, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 4 % hingga 2029 (Wandira, 2024). Fakta ini menegaskan bahwa industri kosmetik menjadi ladang subur keuntungan, terutama bagi produk pemutih yang masuk dalam kategori skincare dan kecantikan.

Di Indonesia sendiri, obsesi terhadap penampilan ternyata juga berdampak pada dompet perempuan. Survei ZAP Beauty Index menunjukkan bahwa mayoritas perempuan (71,4 %) menghabiskan lebih dari Rp 300.000 per bulan untuk produk skincare. Angka yang cukup besar jika dikonsolidasikan dengan pengeluaran perempuan lainnya, seperti makeup, perawatan rambut, atau kunjungan ke klinik kecantikan. Sedangkan untuk makeup, banyak yang hanya mengalokasikan hingga Rp 300.000 per bulan (Ananta, 2024).

Saya pun kerap menemui hal serupa dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang di sekitar saya sering kali merasa minder hanya karena warna kulit mereka tidak seputih standar yang dianggap cantik. Ada yang merasa enggan tampil percaya diri, ada pula yang rela mengeluarkan banyak uang demi membeli produk pemutih. Fenomena ini menunjukkan betapa dalamnya obsesi kulit putih memengaruhi psikologis perempuan.

Tubuh perempuan dijadikan pasar, warna kulit dijadikan komoditas. Sementara itu, kita mewarisi luka kolektif berupa minder, iri, hingga malu pada tubuh sendiri. Sudah saatnya standar palsu ini kita tolak. Sudah waktunya kita sadar bahwa cantik tidak punya warna tunggal. Tubuh kita bukan ladang bisnis orang lain. Warna kulit kita bukan untuk dipermainkan iklan.

Hal ini dapat kita lakukan dengan berdamai pada tubuh diri sendiri, tidak lagi terjebak membandingkan diri dengan standar di media sosial, serta mendukung produk, iklan, dan lingkungan yang merayakan keberagaman warna kulit. Kita juga bisa menguatkan narasi positif di lingkaran kecil, seperti keluarga dan teman, agar tidak ada lagi candaan atau stigma yang merendahkan warna kulit. Sebab, tidak ada satu warna pun yang ‘lebih cantik’ dibanding yang lain, karena semua memiliki fungsi biologisnya masing-masing.

 

Penulis adalah seorang sarjana tafsir yang kini sedang menekuni dunia kepenulisan.  Ia memilih menjadi freelance writer karena hobi membaca, mengamati, dan menulis.

Referensi:

Ananta, J. (2024, April 3). Makeup vs Skincare, Mana yang Lebih Penting bagi Perempuan? | IDN Times. IDN Times. https://www.idntimes.com/life/women/makeup-atau-skincare-yang-lebih-penting-00-p9v6l-wk2fsr

Arwanda, D., Wulandari, E. A., & Padma Saputra, M. R. (2021). Putih yang Ideal: Representasi Warna Kulit Perempuan dalam Iklan Kosmetik Vaseline Insta Fair Tahun 2013. Jurnal Audiens, 3(1), 48–60. https://doi.org/10.18196/jas.v3i1.11769

Jablonski, N. G., & Chaplin, G. (2000). The Evolution of Human Skin Coloration. Journal of Human Evolution, 39(1), 57–106. https://doi.org/10.1006/jhev.2000.0403

Kemenperin Pacu IKM Kosmetik Maksimalkan Pasar yang Ekspansif. (2024). Ikm.Kemenperin. https://ikm.kemenperin.go.id/kemenperin-pacu-km-kosmetik-maksimalkan-pasar-yang-ekspansif

Li, E. P. H., Min, H. J., Belk, R. W., Kimura, J., & Bahl, S. (2008). Skin Lightening and Beauty in Four Asian Cultures. Advances in Consumer Research, 35(January), 444–449.

Wandira, L. (2024). Industri Kosmetik Diprediksi Tetap Tumbuh di Tahun 2025. https://industri.kontan.co.id/news/industri-kosmetik-diprediksi-tetap-tumbuh-di-tahun-2025https://industri.kontan.co.id/news/industri-kosmetik-diprediksi-tetap-tumbuh-di-tahun-2025

 

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.