Oleh: Regita Dwi Cahyani
Ada banyak hal kecil yang dianggap sepele, tapi bisa meninggalkan goresan panjang pada ingatan. Hal kecil seperti payung, kursi dan ucapan singkat, bisa memberi luka hingga trauma berkepanjangan. Aku tidak menyangka, sesuatu yang tampaknya sepele ternyata bisa begitu membekas pada adikku. Remaja 13 tahun yang sedang tumbuh di tengah masyarakat dengan segudang aturan tak tertulis, terutama tentang standar bagaimana menjadi laki-laki.
Payung dan Standar Menjadi Laki-laki
Musim hujan datang lagi. Seperti biasa, Mama menyelipkan payung kecil ke tas adikku dan rutinitas kecil ini sudah menjadi kebiasaan kami tiap musim hujan. Sebuah rutinitas kecil yang tampak remeh, tapi ternyata menyimpan banyak cerita. Hari itu, hujan deras mengguyur selepas bel pulang sekolah. Adikku, yang sudah siap dengan payung di tangan, berjalan santai menuju gerbang. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara ejekan dari belakang.
“Lho, kamu kan cowok, masa pakai payung?” celetuk temannya sambil tertawa.
Adikku menoleh dan menjawab pelan, “Emang kenapa?”
“Lemah banget sih. Cowok kok pakai payung? Gak malu apa?” lanjut temannya dengan nada meremehkan.
Ia tak membalas, hanya diam dan terus berjalan sambil tetap memayungi dirinya. Tapi malam harinya, ia duduk di sebelahku sambil membuka bungkus jajanan. Tanpa diminta, ia meluapkan isi hatinya.
“Kak,” katanya pelan, “emang cowok gak boleh pakai payung ya? Kan kita gak waterproof.”
Aku tersenyum kecil. Kalimat itu terdengar lucu, tapi juga menyakitkan. Karena dalam candaannya, ada luka yang ia tahan. Di usianya yang masih sangat muda, adikku mulai merasakan sendiri bagaimana standar gender bisa begitu sempit, bahkan soal perlindungan dari hujan.
Itu bukan pertama kalinya ia menghadapi perlakuan semacam itu. Suatu sore, ia pulang menggunakan KRL seperti biasa. Di gerbong umum, ia duduk di kursi kosong, membuka novel yang ia bawa. Tak lama, seorang pria dewasa masuk bersama anak perempuannya yang berseragam SMP.
Tanpa basa-basi, pria itu berkata, “Dek, berdiri ya, kasih duduk adik perempuan ini. Kamu kan laki-laki, harus ngalah.”
Adikku berdiri, tentu saja, tapi sambil menunduk heran. Bukan karena tak mau memberi tempat, tapi karena merasa ia pun punya hak yang sama untuk beristirahat. Baginya, perlakuan itu ganjil—bukan karena datang dari anak seumuran, tapi dari orang dewasa yang mestinya lebih bijak.
Laki-laki juga Punya Batas
Di rumah, kami dibesarkan dalam keluarga yang cukup terbuka. Mama dan Papa selalu memberi ruang untuk kami mengekspresikan perasaan. Tangisan bukan hal yang dilarang. Jika salah satu dari kami berbuat salah, mereka tidak langsung marah. Mereka akan duduk, bertanya pelan, dan menunggu hingga kami siap bicara. Saat kami menangis, mereka tak pernah menyuruh berhenti. Mereka mendengarkan, memverifikasi rasa itu, dan memeluknya.
Namun semua itu perlahan berubah ketika adikku memasuki usia sekolah dasar. Ia mulai pandai menyembunyikan tangis. Tak lagi banyak bercerita. Murung berkepanjangan. Ada jarak yang tiba-tiba tumbuh tanpa kami tahu sebabnya. Baru setelah beberapa waktu, Mama berhasil membuka pintu ceritanya. Rupanya, semua berawal dari ucapan gurunya sendiri, “Laki-laki itu harus kuat. Gak boleh cengeng!”
Sejak itu, ia memutuskan untuk diam. Setiap rasa sakit, kekecewaan, atau kebingungan ia pendam dalam hati. Ia takut dianggap lemah. Ia takut ditertawakan. Bagiku, ini bukan sekadar cerita kecil tentang payung atau bangku kereta. Ini tentang bagaimana masyarakat membentuk citra laki-laki sejak usia dini, harus kuat, harus tahan banting, tak boleh mengeluh, apalagi menangis. Padahal, manusia tetap manusia. Laki-laki juga punya batas. Dia juga bisa takut, sedih, dan boleh mengungkapkan perasaannya tanpa harus merasa rendah diri atau malu.
Tidak Ada Satupun Manusia yang Waterproof
Aku dan adikku sering mengobrol tentang banyak hal, mendengar cerita barunya atau sekedar opini konyolnya. Adakala kami membahas tentang standar ganda yang ada di sekitar, walau akhirnya dia sendiri yang mengalami itu semua. Untuk anak seusianya, obrolan kami terasa lebih dari sekadar percakapan ringan karena ada luka kecil yang tertinggal.
Adikku bukan tipe anak yang suka melawan aturan atau ingin tampil berbeda. Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri. Tapi dari kecil, dia sudah digiring untuk masuk ke kotak: diberi label, aturan, harapan tentang bagaimana laki-laki harus bersikap. Yang membuatku sedih, semua itu perlahan membuat dia ragu akan perasaannya, apalagi bicara.
Kini, kami sedang belajar bersama untuk kembali memberi ruang. Untuk menangis, marah, takut, atau bingung dan mengakuinya tanpa rasa malu. Karena kami tahu, tidak ada satu pun manusia yang waterproof.
Mungkin, cerita ini bisa jadi satu titik tolak kecil: bahwa menjadi laki-laki nggak pernah berarti harus menyingkirkan rasa. Cuma ya, kadang suara anak-anak seperti adikku terlalu gampang tenggelam di antara suara mayoritas yang merasa paling tahu, paling berhak mengatur seperti apa seharusnya laki-laki.
