Oleh: Lena Susanti
“Bisa tidak kalau pesta terus? Biar transpuan bisa mendapatkan kesempatan berekspresi dengan nyaman”, kalimat dari teman transpuan saya tersebut terngiang sampai sekarang. Bora (bukan nama sebenarnya) bercerita tentang pesta-pesta yang selalu ia nantikan. Bora merupakan seorang transpuan yang kecil hingga dewasa di Nusa Tenggara Timur. Saat pesta, Bora merasa diterima seutuhnya dan menunjukkan kemampuan menarinya untuk menghibur orang-orang dengan tarian, nyanyian, kostum yang dipakai, serta meramaikan suasana. Bagi Bora, pesta merupakan ruang aman untuk dirinya berekspresi, tidak disalahkan, dan mendapatkan apresiasi.
Bora bukan satu-satunya manusia dari kelompok ragam gender yang tidak bisa bebas berekspresi dalam kehidupannya sehari-hari. Orang-orang seperti dia juga mengalami diskriminasi di dunia kerja maupun keseharian. Patriarki memang merugikan bagi orang-orang untuk menjadi manusia yang ingin jujur seutuhnya, bisa memilih, mengeluarkan pendapat. Patriarki bagaikan pagar berduri yang menghambat orang menjadi manusia. Pagar tersebut dengan cepat atau lambat mencekik mereka.
Bora merasa perlu bekerja lebih keras untuk bertahan hidup dengan menunjukkan kemampuan kepada orang sekitar, menuntun orang untuk berdaya, mandiri, dan menunjukkan keahlian. Bora bahkan membiayai transpuan lainnya untuk kursus keahlian salon dan mempekerjakan transpuan lain di salonnya.
Bora mendirikan salon di daerahnya. Pelanggan pun puas dengan pelayanan yang diberikan serta obrolan jenaka yang dibawakan oleh Bora. Saya sangat mengapresiasi Bora yang coba mendobrak belenggu patriarki dengan berdaya untuk diri sendiri dan sekitarnya. Bora menyelamatkan hidup dirinya dan orang lain dengan pemberdayaan diri.
Tidak Hanya Bora, Ada Juga Loka
Ada juga Loka (bukan nama sebenarnya) yang tinggal di Indonesia bagian tengah. Ia merupakan selebgram yang suka membagikan foto-foto menggunakan gaun kreasinya yang unik, selain itu kerap mencetuskan humor-humor untuk audiennya. Kostum yang dikenakan Loka berasal dari bahan-bahan dari alam, seperti daun pisang, dunga liar, cabai, tomat, batok kelapa, dan masih banyak lagi. Ada saja idenya!
Saya dan banyak orang merasa terhibur dan terpancing melakukan hal-hal kreatif setelah melihat unggahan Loka. Karena kreativitasnya, Loka kerap mendapatkan tawaran untuk meng-endorse beragam produk. Di balik itu, ada juga yang merasa terganggu, menganggap dia gila, dihujat, dikutuk, bahkan pernah diancam untuk dibunuh.
Loka pernah merasakan tidak aman ketika berekspresi di media sosial karena mendapatkan perundungan di dunia maya (cyberbullying). Cyberbullying sendiri merupakan kekerasan mental. Hal tersebut membuat aktivitas Loka menjadi terganggu dan pekerjaannya terbengkalai. Padahal, kegiatan yang dilakukan Loka sama sekali tidak merugikan dirinya maupun orang di sekitar. Ia hanya menunjukkan ekspresi gender di media sosial dan memaksimalkan bakat yang ia punya.
Kelompok Gender Non Binary Hidup dalam Ancaman
Diskriminasi yang kerap menimpa kelompok gender non binary itu mengakibatkan ruang bebas terbatas, pemiskinan, menimbulkan masalah mental, dan membahayakan nyawa dan jiwa. Tak jarang mendengar berita kelompok non binary mengakhiri hidupnya karena merasa bersalah dan berdosa akibat nilai-nilai patriarki yang mengakar, terus dipupuk, dipelihara, dan dilanggengkan. Lingkungan sekitar dan masyarakat sebenarnya yang sudah mengakhiri hidup mereka.
Semua Orang Berhak Aman
Ketika suara non binary tidak didengar, menurut saya para allies perlu bersuara lantang untuk kemanusiaan, secara verbal, non verbal, seni, dan sebagainya. Semakin saya bertemu dengan ragam gender, semakin yakin kalau keberagaman itu perlu dirawat dan dilindungi. Patriarki perlu pelan-pelan disingkirkan dengan cerita-cerita baik dan hangat bersama teman ragam gender. Mendengarkan penuh perhatian, tulus, dan berusaha memahami.
Saat kebebasan berekspresi dilarang, orang menjadi sulit jujur kepada dirinya sendiri dan orang lain. Ekspresi yang secara sadar dipilih, ditunjukkan, dan dimaknai itu merupakan sebuah proses perjalanan, penerimaan diri, keberanian, dan pemulihan. Ketika pekerjaan gender non binary dibatasi, orang-orang akan menjadi lebih sulit untuk mendapatkan kesetaraan ekonomi, sulit untuk berdaya, dan terus-terusan mendapatkan diskriminasi lainnya.
Semua orang berhak aman ketika berekspresi dan menunjukkan kreativitasnya di sosial media maupun dunia nyata. Semua orang perlu mendapatkan haknya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak tanpa didiskriminasi oleh perusahaan, peraturan, lingkungan, masyarakat, dan sebagainya. Perlu kerja sama antara pendidik, orang tua, perusahaan, pemerintah, lingkungan sekitar untuk menghentikan diskriminasi dan kekerasan.

