Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Seluruh Gaji untuk Istriku: Sebuah Pilihan, Bukan Penyerahan

Seluruh Gaji untuk Istriku: Sebuah Pilihan, Bukan Penyerahan

Storimini Redaksi Jalastoria10 September 2025
Foto JalaStoria ID

Oleh: Nur Hasanah Hasibuan

Aku pernah mendengar orang berkata, “Suami itu kepala keluarga, kalau sampai uang penghasilan sendiri dijatah istri, itu artinya harga dirinya jatuh.” Tapi, kalau saja mereka mengenal ayahku, mungkin mereka akan berpikir ulang.

Ayah adalah sosok lelaki sederhana yang tak banyak bicara, apalagi menuntut. Sejak masih lajang, ia bekerja di sebuah pabrik, pekerjaan yang tak menjanjikan kemewahan, tetapi cukup untuk menghidupi kami dengan layak dalam kesederhanaan. Sejak hari pertama membina rumah tangga bersama ibu, ada satu kebiasaan yang tak pernah berubah hingga kini, lebih dari tiga dekade berlalu: setiap kali menerima gaji, seluruhnya ia serahkan kepada Ibu, tanpa menyisakan sepeser pun untuk dirinya sendiri. Tapi pastinya, Ibu sangat peka, Ibu tahu kapan Ayah memerlukan uang dan seringnya Ibu akan memberikannya sebelum diminta.

Tak pernah ada paksaan, apalagi perjanjian tertulis di antara mereka. Hanya ada keyakinan tulus dari Ayah bahwa Ibu adalah sosok yang paling layak dipercaya untuk mengelola keuangan keluarga. Mungkin itu juga cara Ayah mencintai Ibu. Ia tahu benar dirinya bukan pengelola uang yang baik. Beberapa lembar rupiah di tangannya bisa cepat lenyap, bukan karena boros, tapi karena hatinya yang mudah luluh, seperti memberikan uang jajan tambahan kepada anak-anak, membelikan makanan kesukaan kami, atau sekadar menuruti keinginan kecil yang kami ucapkan sambil tersenyum.

Bukan berarti Ibu tak senang melihat Ayah bersikap hangat dan pemurah pada anak-anaknya, justru sebaliknya. Namun, Ibu memahami bahwa keuangan keluarga harus dikelola dengan bijak agar semua kebutuhan bisa terpenuhi. Ia ingin setiap rupiah punya tujuan yang jelas: kebutuhan pokok, pendidikan anak-anak dan berjaga-jaga untuk kebutuhan mendesak. Tak sekalipun aku mendengar Ayah mengeluh, bahkan untuk membeli makanan ringan ia harus meminta uang kepada Ibu. Lucunya, bahkan untuk membeli rokok, kebiasaan lamanya, Ayah tetap meminta pada Ibu. Dan Ibu akan memberinya, secukupnya, sesuai kebiasaan dan kebutuhan.

Ayah tak pernah merasa direndahkan. Ia justru bersyukur menyadari keterbatasannya dan dengan lapang dada mempercayakan hal itu kepada Ibu. Bukan karena ia menyerah, tapi karena ia percaya. Percaya bahwa cinta bukan hanya soal memberi, tapi juga soal tahu kapan harus menerima dan kepada siapa sebaiknya sesuatu dipercayakan.

Sering Dianggap Tak Berwibawa

Respon positif tentu datang dari sebagian orang, tetapi tak sedikit pula yang memandang keputusan ini dengan sinis. Ayah sering dianggap tak punya wibawa karena ‘hanya’ diberi uang oleh istrinya. Komentar seperti “Kok bisa-bisanya laki-laki dijatah begitu?” atau “Kalau aku, nggak akan mau seperti itu,” terdengar dari beberapa orang yang mengatakan langsung di depan Ayah.

Namun, Ayah tidak pernah goyah. Bahkan, jika diperlukan, ia akan dengan tegas membela pilihannya di hadapan siapa pun yang menghakimi. Baginya, harga diri bukan ditentukan oleh siapa yang memegang uang, melainkan siapa yang mampu menjaga keluarga tetap utuh dan berjalan baik. Omongan orang bisa beraneka ragam, tidak akan ada yang mengetahui bagaimana kehidupan dalam rumah tangga kecuali keluarga sendiri, jadi baginya tidak penting mendengarkan omong kosong orang seperti itu. Ia merasa jauh lebih tenang ketika tahu urusan keuangan tidak menjadi sumber keretakan dalam rumah tangga. Egonya tidak lebih penting dari keutuhan yang ia bangun bersama Ibu.

Aku tumbuh besar dalam rumah yang seperti itu, yang tidak mengenal siapa lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan siapa yang bersedia saling memahami dan melengkapi. Kami, anak-anaknya, belajar bahwa menjadi laki-laki bukan berarti harus dominan segala bidang, dan menjadi perempuan bukan berarti harus tunduk dan hanya mengikut saja. Justru kekuatan kami ada pada kemitraan yang saling menyadari kekurangan dan menghargai kelebihan masing-masing. Ibu pun bukan sosok yang merasa berkuasa atas ayah. Ia selalu memperlakukan Ayah dengan hormat, penuh kasih, tanpa sedikit pun mengurangi martabatnya.

Hingga kini, setelah Ayah pensiun, kebiasaan itu tak berubah. Ibu tetap mengelola semuanya, tentu dengan diskusi dan kesepakatan bersama. Tak pernah ada dominasi, hanya kesepahaman dalam cinta yang telah teruji waktu.

Relasi Suami Istri Sebagai Mitra

Apakah ini bentuk penyerahan diri? Tidak. Ini adalah bentuk kemitraan sejati. Bukan karena Ayah tidak mampu, tapi karena ia tahu siapa yang lebih tepat memegang kendali. Bukan karena Ibu ingin menguasai, tapi karena ia ingin segalanya berjalan sebagaimana mestinya, penuh perhitungan, penuh pertimbangan.

Di dunia yang kadang menilai relasi suami-istri hanya dari kacamata kuasa dan dominasi, kisah Ayah dan Ibu adalah bukti bahwa ada cinta yang tumbuh dari kepercayaan. Cinta yang tidak menghakimi kekurangan, melainkan merayakannya sebagai bagian dari perjalanan bersama.

Dan kini, semakin dewasa aku memahami, keputusan Ayah menyerahkan seluruh penghasilannya bukanlah bentuk kelemahan, melainkan wujud cinta yang paling jujur dan paling utuh.

 

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.