Tanggal rilis : 10 Juli 2025 (Indonesia)
Sutradara : Yandy Laurens
Pemeran Utama : Dion Wiyoko, Sheila Dara
Durasi : 1 j 59 m
Rumah Produksi : Imajinari Pictures, Miles Films, Jagartha
Produser : Suryana Paramita
Skenario : Yandy Laurens
Oleh: Rahma
Dalam cinta heteroseksual, sering kali perempuan diajarkan untuk bertahan, sementara laki-laki dibiarkan pergi. Film “Sore: Istri dari Masa Depan” adalah cermin dari dinamika ini. Ia bukan sekadar film romansa tentang waktu dan kehilangan, tapi kisah tentang bagaimana perempuan mencintai dengan dalam bahkan sering kali terlalu dalam, dan bagaimana laki-laki, di balik sikap dinginnya, menyimpan luka yang tidak sempat sembuh. Film ini mengajak kita melihat bahwa cinta tidak terjadi dalam ruang hampa, ia terbentuk dari cara masyarakat membentuk emosi, tanggung jawab, dan harapan pada laki-laki dan perempuan secara berbeda.
Disutradarai oleh Yandy Laurens, Sore: Istri dari Masa Depan (2025) adalah film drama-romantis Indonesia yang diadaptasi dari webseries viral tahun 2017 dengan judul yang sama. Film ini tidak hanya menarik perhatian karena berasal dari iklan yang melegenda, tapi karena ia hadir dengan kedalaman emosional yang jarang ditawarkan film cinta lokal.
Film ini menceritakan Jo, seorang pria yang masa mudanya dipenuhi kebiasaan buruk hingga akhirnya membawanya pada nasib tragis. Sore, perempuan yang mencintainya dari masa depan, memilih untuk melakukan perjalanan lintas waktu demi menyelamatkan Jo. Dari premis tersebut, Sore: Istri dari Masa Depan menghadirkan kisah cinta yang melintasi logika, namun sekaligus memperlihatkan kenyataan bahwa cinta, sebesar apa pun, tidak selalu sanggup menyelamatkan seseorang.
Perempuan, Cinta dan Pengorbanan
Film ini menunjukkan bagaimana cinta seorang perempuan kerap digambarkan dengan kedalaman dan pengorbanan luar biasa. Disinilah kekuatan film ini, kita bisa melihatnya dari sudut pandang manapun kita berdiri.
Kita bisa melihatnya dari sisi Sore, perempuan yang mencintai dengan sangat dalam. Ketika Jo—pria yang dicintainya—harus pergi untuk selamanya akibat dari kebiasaan buruknya di masa muda. Sore tidak hanya berduka Ia memilih untuk kembali ke masa lalu demi menyelamatkan masa depan Jo. Cinta seperti apa yang sanggup melintasi waktu dan mengalahkan logika? Jelas ini bukan hanya fiksi, tapi representasi dari bagaimana perempuan sering kali mencintai dengan pengorbanan paling besar.
Karena begitulah seringnya peran perempuan dalam relasi romantik: mencintai lebih dalam, lebih dulu, lebih siap untuk hancur. Kita, sebagai perempuan, sering kali diajarkan untuk mencintai sepenuh hati, bahkan ketika itu berarti mengorbankan bagian dari diri sendiri. Dan dalam film ini, pengorbanan itu menjelma dalam bentuk waktu, jiwa, bahkan realitas itu sendiri.
Cinta yang Tak Selalu Menyelamatkan
Melalui narasi fiksi ilmiah yang melibatkan perjalanan waktu, film ini menyentuh kenyataan paling getir: bahwa cinta sebesar apa pun tidak selalu bisa mengubah seseorang. Dan perempuan, sekuat apa pun cintanya, tidak bisa menyelamatkan seorang laki-laki yang belum siap diselamatkan.
Kita tidak bisa memaksa seseorang berubah hanya karena kita menginginkannya. Perubahan sejati hanya bisa lahir dari orang itu sendiri. Cinta bukan alat paksaan, bukan formula mutlak. Ia hanya bisa menjadi bahan bakar jika mesin di dalam diri seseorang memang mau bergerak.
Laki-laki dan Luka yang Tak Terucap
Di sisi yang lain, ada perspektif baru yang disajikan dalam film ini. Jo awalnya tampak seperti representasi laki-laki pada umumnya: egois, lambat sadar, terikat dengan luka masa lalu tapi tidak tahu bagaimana menyembuhkannya. Laki-laki yang, mungkin tanpa sadar, menyakiti pasangannya karena sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Tapi kemudian saya sadar, film ini tidak berhenti di dikotomi “perempuan mencintai, laki-laki menyakiti”. Ada lapisan yang lebih dalam. Bahwa sebenarnya, Jo juga terluka. Bahwa laki-laki juga bisa merasa hancur, tapi dunia tidak memberi mereka cukup ruang untuk mengakuinya.
Film ini tidak hanya bicara soal cinta perempuan yang luar biasa besar, tapi juga tentang keterbatasan laki-laki dalam mengekspresikan luka. Bahwa di balik keheningan Jo, ada trauma yang belum selesai. Sebagai petonton, saya diberi kesempatan untuk melihat bahwa cinta, seberapa besar pun, kadang tidak bisa menyembuhkan seseorang yang belum berdamai dengan dirinya sendiri.
Refleksi Sosial di Balik Romansa
Film ini menjadi refleksi dari banyak relasi nyata. Kita tumbuh di masyarakat yang membentuk perempuan menjadi perasa, perawat luka, pemberi maaf. Sementara laki-laki diajarkan menekan emosi, menyimpan luka, dan tegar menghadapi semuanya sendiri. Maka tidak heran cinta perempuan sering kali terasa lebih utuh karena selalu diajarkan memberi. Sedangkan cinta laki-laki sering kali tampak tertahan, bukan karena kurang dalam, tapi karena mereka tumbuh tanpa cukup ruang untuk belajar menerima, merawat, dan bertumbuh bersama cinta itu sendiri.
Menonton film ini rasanya seperti menonton ulang fragmen relasi yang pernah kita jalani. Film ini bisa jadi meninggalkan keheningan setelah kredit akhir, keheningan yang mengajak kita bercermin pada diri sendiri.
Rahma, penulis lepas yang menaruh perhatian pada narasi perempuan.
