Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Perubahan Sikap Beragama: Trauma Pasca Kekerasan Seksual

Perubahan Sikap Beragama: Trauma Pasca Kekerasan Seksual

Perspektif Redaksi Jalastoria18 Oktober 2025
Ilustrasi (Sumber: Freepik.com/redgreystock)

Oleh: Najwa Alifah

Sebuah trauma dapat menjadi salah satu faktor kuat terjadinya perubahan sikap seseorang dalam menekuni suatu agama. Termasuk trauma yang disebabkan oleh kekerasan seksual. Menurut data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA), per Juli 2025 tercatat 15.615 kasus kekerasan, dengan kekerasan seksual menjadi bentuk kekerasan tertinggi yaitu sebanyak 6.999 kasus. Disebabkan oleh banyaknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia maka penting untuk memahami bagaimana kekerasan seksual, khususnya pada kasus pemerkosaan, dapat memengaruhi sikap beragama seseorang.

Sebagai negara dengan mayoritas masyarakat penganut agama adalah hal yang krusial untuk mengetahui kaitan pandangan agama seseorang dengan kemampuannya dalam mengenali dan mengakui tindak pemerkosaan. Apalagi dengan dampak kekerasan seksual yang biasanya lebih difokuskan ke bagian fisik, psikis, ekonomi, dan relasi sosial, sertakan pemahaman komprehensif terkait dampaknya bagi sisi keagamaan butuh untuk diberikan. Dengan mengetahui sangkut paut akan kedua hal ini, diharapkan untuk dapat memberikan pertolongan terhadap korban kekerasan seksual dan menurunkan angka kekerasan seksual di Indonesia.

Tingkat Perubahan Sikap Beragama dari Korban Kekerasan Seksual

Sebuah studi yang publikasikan pada tahun 2023 oleh Journal of Interpersonal Violence telah meneliti 310 perempuan di Amerika dari rentang umur 18-31 tahun dan mengelompokkan subjek dari yang merupakan korban pemerkosaan dan yang bukan. Data tingkat frekuensi dan kualitas subjek tersebut dalam menekuni agama juga dikumpulkan sebagai bahan diskusi. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan yang merupakan korban permerkosaan mendapati perubahan signifikan terhadap keyakinan mereka dalam beragama, dan sekitar setengah dari mereka sama sekali tidak menganut agama lagi.

Trauma yang dimiliki korban kekerasan seksual memiliki efek yang cenderung besar terhadap spiritual korban. Disebutkan bahwa korban yang memiliki trauma kekerasan seksual mendapati dirinya kurang yakin akan kebenaran eksistensi tuhan. Keraguan ini menyebabkan korban menjadi kurang aktif dalam partisipasi kegiatan beragama. Perubahan keyakinan spiritual ini dapat terjadi untuk melindungi mental korban dalam memahami peristiwa buruk yang telah mereka hadapi.

Pengakuan Terhadap Peristiwa Kekerasan Seksual dan Dampaknya Terhadap Proses Memahami Trauma

Untuk mengetahui lebih lanjut efek dari pemerkosaan bagi spiritual penganut agama, korban dibagi menjadi dua kelompok; yang mengakui terjadinya peristiwa pemerkosaan tersebut dan yang tidak mengakuinya. Meskipun definisi dari tindak pemerkosaan sudah banyak diketahui, karena tabunya pendidikan seks bagi masyarakat umum, masih banyak orang yang tidak mengenali sejauh apa tindakan yang dilakukan agar dapat disebut sebagai sebuah pemerkosaan. Selain itu, ada korban yang sulit untuk mengakui bahwa peristiwa ini terjadi kepada mereka walaupun mereka mengenalinya. Hal ini dapat dimaklumi mengingat setiap manusia memiliki kemampuan mental yang berbeda untuk memproses informasi trauma, oleh karena itu belajar untuk memahami macam tindak kekerasan dan meminta bantuan ahli adalah hal terbaik bagi semua.

Walaupun spiritual korban sangat terpengaruh oleh peristiwa kekerasan yang mereka hadapi, pengakuan atas pemerkosaan ini kurang dipengaruhi oleh religiusitas. Dalam kata lain, keseriusan dalam beragama tidak memengaruhi korban untuk dapat mengakui kejadian tersebut. Hal ini dapat dikaitkan dengan dukungan dari nilai-nilai agama secara tidak langsung terhadap peran gender tradisional dan mitos tentang pemerkosaan yang memunculkan keraguan dalam pengakuan.

Tidak jarang kita mendengar di sekitar tentang tuduhan yang diberikan masyarakat penganut agama kepada perempuan terhadap cara berpakaian, berbicara, atau hanya sekadar berjalan karena mereka mengaku telah menjadi korban kekerasan seksual. Sikap ini memiliki pengaruh yang besar terhadap korban dalam memproses informasi pemerkosaan. Walaupun begitu, sebenarnya nilai-nilai agama yang disalahgunakan ini merupakan contoh dari skema keagamaan yang hanya secara spesifik dicirikan oleh sikap seksisme. Penganut agama yang tidak memiliki prasangka gender akan mengerti bahwa setiap agama menjunjung tinggi keadilan bagi semua manusia dan mencela sikap menuduh.

Perubahan pengalaman dalam beragama bagi korban yang dapat mengakui terjadinya peristiwa pemerkosaan, lebih drastis dibanding dengan korban yang tidak mengakuinya. Perubahan drastis ini menyebabkan banyak dari mereka menjadi kurang aktif dalam beragama. Sedangkan yang tidak mengakui, diperkirakan karena mereka belum sepenuhnya memproses trauma peristiwa tersebut, mereka jadi kurang memahami sejauh mana agama mereka telah dipengaruhi oleh peristiwa yang mereka alami. Hal ini menunjukkan hubungan dari korban yang mengakui terjadinya peristiwa tersebut lebih serius dalam menangani dan menyembuhkan trauma daripada menghindarinya. Sehingga mereka dapat lebih merasakan efek perubahan spiritual mereka sementara korban yang tidak mengakuinya merasakan sebaliknya.

Pemulihan Korban Kekerasan Seksual dengan Fokus Religius

Terbukti bahwa tindak pemerkosaan memiliki dampak negatif yang berakar luas hingga ke kesejahteraan korban dalam beragama. Pihak berwajib harus mengetahui pentingnya integrasi perawatan yang dikaitkan dengan agama ke dalam pemulihan korban kekerasan seksual, apalagi mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut agama yang beribadah dengan intensitas yang tinggi. Perawatan untuk mengatasi keraguan dalam beragama yang disebabkan oleh pemerkosaan dapat membantu mengelola PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) dan gejala depresi yang sering didapati di kasus pelecehan seksual.

Komunitas agama juga dapat membentuk kelompok dukungan bagi mereka yang pernah mengalami pemerkosaan dan kekerasan seksual. Pesan-pesan agama sering disalahgunakan dan dijadikan alasan terjadinya pemerkosaan, sehingga para pemimpin agama bertanggung jawab untuk melawan dampak ini. Para pemimpin agama dapat memberi contoh dengan secara terbuka menolak keyakinan yang merugikan dan diskriminatif serta mendorong gaya hidup religius yang memotivasi (tulus) untuk berbuat kebaikan ke seluruh manusia tanpa melihat gender.

 

Penulis adalah pendidik dan pegiat isu perempuan

Referensi

Piggott D. M., Anderson, R. E. (2023). Religion After Rape: Changes in Faith and Hindered Acknowledgment. J Interpers Violence.

SIMFONI-PPA.(2025). Kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.