Oleh: Fadrika Hening Pangesti
Judul : …dan Janda Itu Ibuku
Tahun terbit : 2024
Penulis : Maman Suherman
ISBN : 139786020531199
Penerbit : Grasindo
“Tidak ada perempuan yang boleh dihina, Pak Kepala, apa pun pakaiannya, apa pun statusnya. Mau janda atau bukan ….” (hal. 39)
Luar biasa adalah satu kata yang menggambarkan keseluruhan novel ini. Memiliki judul “…dan Janda Itu Ibuku”, menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan yang ditinggal suaminya di usia yang teramat muda, dengan kelima anak yang masih butuh gendongannya dan di tanah yang jauh dari tempat lahirnya. Kisah ini begitu indah dan apik diulis dengan sudut pandang penulis selaku anak laki-laki tertua dari Ibu yang kehilangan penopang hidupnya, perjuangan janda muda ini mengalir deras, dari mulai betapa hancur dan rapuhnya Ia saat kekasihnya pergi untuk selamanya dan harus berjuang hidup.
Ketika membaca novel ini, berbagai emosi akan kamu temukan. Mulai dari sedih, tawa, bahkan ikut murka. Novel ini bukan sekadar novel perjuangan seorang Ibu belaka, tapi potret betapa kejam dan menakutkannya dunia bagi seorang janda.
Mirisnya Nasib Perempuan dan Sebongkah Pelajaran Bagi Perempuan Lain
Membaca novel ini berarti membaca nasib perempuan yang begitu menyedihkan. Bukan hanya wanita malam yang dianggap hina, tapi ternyata janda muda pun dianggap sebagai hama. Mereka diremehkan, direndahkan, bahkan sadisnya, dilecehkan. Seorang perempuan yang digelari janda dianggap layak untuk diperlakukan semena-mena, seakan kehormatan yang didapatnya ikut terkubur saat suaminya diletakkan di peristirahatan terakhirnya.
Di novel ini, sang ibu harus mengalami pelecehan. Mulai dari pelecehan verbal yang dilakukan oleh anak muda dan preman di desanya, bahkan ada yang melakukan pelecehan fisik saat mencoba berjuang untuk anak-anaknya. Naasnya, ketika ia dilecehkan secara verbal oleh anak muda, yang lebih mirisnya lagi anak orang terpandang, ia bukannya mendapat pembelaan justru diberi nasihat tentang aurat. Bukannya ia menolak nasihat, tapi bukankah harusnya ia dibela atas perlakuan tak mengenakkan yang diterimanya, mengapa seoalah-olah yang terjadi hanya karena dirinya semata? Lalu ketika dilecehkan secara fisik oleh orang yang menjanjikannya bangkit dari keterpurukan, ia tak bisa berbuat apa-apa karena pelakunya bisa memutar balikan keadaan.
Akan tetapi yang membuat saya salut adalah keteguhan hati dan mental dari sang Ibu. Ia tak gentar saat dilecehkan, bahkan ketika ia mendapat cat calling dari preman, ia tak segan mengacungkan badik yang disimpan di balik bajunya. Ia berani melawan, tidak pura-pura tak dengar dan tidak mengaggapnya angin lalu. Ia memberi pelajaran bagi seluruh perempuan, bahwa pelecehan sekecil apapun tetap pelecehan dan harus kita permasalahkan.
Namun jika kamu membaca novel ini, tidak akan menemukan cerita seperti sinetron yang dipenuhi drama dan nangis bombay, bukan menampilkan sosok perempuan yang terkesan lemah dan tersakiti. Di sini janda muda yang dicerca dan dihina ini begitu tegak kepala. Ia tak segan maju bila ada orang yang berani mencederai kehormatannya, ia begitu kuat setidaknya untuk pura-pura kuat di hadapan anak-anaknya. Ia manusia tangguh yang tidak mudah dikalahkan keadaan. Novel ini menggugah dan menjadi contoh bagi para perempuan untuk tetap menegakkan kepala dan menjunjung kehormatan, meski badai ujian menerjang tanpa ampun.
Parenting Luar Biasa Menghasilkan Anak yang Luar Biasa
Penulis novel ini adalah Kang Maman Suherman, penulis sekaligus wartawan dan reporter. Bukan latar belakangnya yang perlu diketahui, tapi pemikiran dan sikapnya terhadap perempuan. Kamu bisa melihat betapa hebat pemikiran dan perlakukannya kepada perempuan setelah membaca novel-novelnya. Sikap ini tidak luput dari perjuangan hidupnya dan tentu tidak luput dari ajaran ibunya, Ia tumbuh dalam sikap non-patriaki yang sangat memuliakan perempuan. Peran bapak yang meski tidak begitu lama menemaninya juga tidak bisa dikesampingkan, dalam novel ini terlihat sosok bapak sangat mencintai dan menghormati ibu bahkan tak pernah kata-kata kasar dilontarkan pada sang istri, hal tersebut ditunjukkan dan diajarkan pada anak-anaknya. Tentu, sikap luar biasa ini dicontoh oleh anak laki-laki pertamanya. Sekali lagi ini hanya bisa kamu lihat ketika kamu membaca novel ini sendiri, pemilihan bahasa dan pemikiran yang Ia kemukakan tentang perempuan terlihat sangat penuh penghormatan.
Dari semua isi novel ini yang membuat saya begitu sedih dan merenung tidak lain, karena …dan Janda Ibuku ini kisah nyata, bukan karangan fiksi. Artinya setiap kejadian-kejadian dalam novel ini nyata, termasuk ketika ibu Kang Maman dilecehkan, ketika ia dikucilkan kawan-kawannya setelah suaminya pergi, dan ketika Ia harus hidup membesarkan anak-anaknya seorang diri dalam kondisi jauh dari keluarganya sendiri, dengan hanya sedikit peran dari keluarga suaminya. Akan tetapi syukurnya seluruh pelajaran yang ia berikan kepada anaknya juga nyata, sebab anaknya menjadi laki-laki yang mampu menghormati perempuan.
…dan Janda Itu Ibuku sangat indah dibaca, diisi dengan diksi dan diselingi dengan ilustrasi-ilustrasi yang sangat menyegarkan mata memberi nilai tambah dalam novel ini. Sebagai penulis, Kang Maman berhasil membawa pembaca ikut meringis, terharu, dan bahkan ikut geram melihat perjuangan ibu tunggal ini.
Novel ini sangat layak dibaca untuk seluruh kalangan. Novel ini mengandung besarnya perjuangan ibu membesarkan anak-anaknya, perjuangan seorang perempuan yang kehilangan separuh jiwanya. Mari membaca ini, maka akan kamu temukan betapa indahnya keluarga di mana kasih sayang mengalir deras di dalamnya meskipun satu pilar penyangganya telah tiada. Setelah membaca ini kamu bisa menilai apakah logo best seller di depan hanya sekadar gaya-gayaan saja atau memang layak diberikan pada novel ini.
Satu pesan bapak Kang Maman yang sangat indah yang menjadi semacam permintaan terakhir seorang bapak ke anak laki-lakinya, “Kalau Bapak meninggal, jangan mewahkan makam bapak, tapi mewahkan hati ibumu.” (Hal. 52)
