Oleh: Tya Fitria
Di bawah pengaruh budaya patriarki yang masih mengakar, laki-laki menempati kuasa yang lebih tinggi ketimbang perempuan. Ketimpangan relasi kuasa ini justru banyak terjadi dalam keluarga. Di Indonesia, masih banyak laki-laki yang tumbuh dengan keyakinan bahwa tanggung jawab mereka dalam rumah tangga hanya sebatas mencari nafkah. Sementara tugas pengasuhan anak, mengurus pekerjaan domestik, dan menjaga emosi dalam keluarga justru diserahkan sepenuhnya kepada perempuan. Pola asuh seperti ini memiliki konsekuensi terhadap tumbuh kembang anak.
Dampak dari ketidakhadiran sosok ayah secara emosional memiliki pengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Studi dari University of Florida dalam publikasinya yang berjudul The Impact of Fathers on Children’s Well-Being, menegaskan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak beperan penting dalam perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak.
Kehadiran ayah akan membantu meningkatkan kemandirian pada anak, meningkatkan rasa percaya diri, dan membentuk anak menjadi pribadi yang lebih sehat secara emosional, positif secara berpikir, dan kuat dalam membangun relasi sosial. Sehingga risiko anak terkena gangguan emosional karena pengabaian dari sosok ayah saat dewasa dapat diminimalisir.
Ketidakhadiran sosok ayah secara emosional dalam pertumbuhan anak dikenal dengan istilah fatherless. Mengutip dari laman Tempo, fatherless merupakan sebuah kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah atau seorang anak yang memiliki ayah, tetapi ayahnya tidak beperan secara maksimal dalam proses pengasuhan anak.
Fenomena fatherless masih sering terjadi di Indonesia. Tak heran, Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat fatherless tertinggi ketiga di dunia sebagai negara tanpa ayah atau fatherless country (Tempo, 2024). Namun yang jarang disadari, fenomena fatherless ini tidak hanya merujuk pada ketidakhadiran fisik sosok ayah akibat perceraian ataupun kematian, tetapi juga pada ketidakhadiran sosok ayah yang hidup satu rumah, namun tidak memiliki keterikatan emosional dengan anaknya.
Melansir dari laman Unair, data UNICEF tahun 2021 mencatat bahwa sekitar 20,9% anak-anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran sosok Ayah. Angka ini mencakup berbagai kelompok usia, termasuk anak usia dini. Dari total sekitar 30,83 juta anak usia dini di Indonesia, hampir 3 juta diantaranya kehilangan figur ayah, sebuah kondisi yang bisa berdampak pada tumbuh kembang anak sejak awal kehidupan.
Kehadiran sosok ayah dalam pengasuhan anak sangat penting karena akan berpengaruh terhadap kondisi psikis, emosional, dan kognitif anak. Ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang tak bisa digantikan perannya dalam pembentukan karakter, pendidikan moral, dan sebagai sistem pendukung yang baik bagi anak secara emosional. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan akan berdampak positif terhadap tumbuh kembang anak.
Kepala Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Diana Setiyawati pada laman UGM mengatakan bahwa dalam pengasuhan anak sangat dibutuhkan keterlibatan orang tua, yaitu ayah dan ibu secara berimbang. Artinya, pengasuhan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab Ibu, tetapi juga menjadi tanggung jawab ayah.
Fenomena di mana ayah tidak terlibat dalam pengasuhan anak telah menjadi suatu hal yang dinormalisasi. Salah satu penyebabnya adalah masih melekatnya budaya patriarki pada masyarakat Indonesia. Masyarakat di Indonesia masih banyak yang terjebak pada konstruksi peran gender tradisional. Tugas ayah dianggap “selesai” ketika sudah memenuhi tanggung jawab ekonomi. Sementara kebutuhan emosional anak dan pengasuhan sehari-hari dianggap sepenuhnya menjadi ranah Ibu. Akibatnya, ketika seorang ayah tidak hadir dalam kehidupan anaknya secara emosional, hal tersebut dianggap lazim dan tidak dianggap sebagai bentuk kekerasan emosional atau pengabaian terhadap hak anak.
Disisi lain, ketika seorang anak “bermasalah,” masyarakat akan cenderung dengan cepat menyalahkan Ibu. Ketimpangan ini tidak hanya melemahkan posisi perempuan sebagai pengasuh tunggal, tetapi juga menutup fakta bahwa anak yang “kehilangan sosok ayah” dalam hidupnya, sebenarnya sedang mengalami kekerasan emosional yang sistemik, karena kekerasan ini terjadi secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam struktur sosial yang besar dan saling berkaitan.
Budaya patriarki menempatkan laki-laki hanya sebagai pencari nafkah utama sekaligus pemegang kuasa dalam keluarga, sehingga kehadiran emosional ayah dalam pengasuhan sering kali dianggap bukan kewajiban. Distribusi peran gender yang timpang juga membuat pengasuhan anak sepenuhnya dibebankan kepada ibu, sementara peran ayah cukup “hadir” secara simbolik.
Masih dari laman UGM, Diana juga menyampaikan bahwa kehadiran sosok ayah dalam pengasuhan memengaruhi perkembangan emosional anak. Relasi positif yang terjalin antara ayah dan anak akan membantu anak mengembangkan emosi yang matang. Dengan terlibatnya ayah dalam pengasuhan maka beban yang dimiliki Ibu akan berkurang sehingga kualitas hubungan anak dan ibu juga akan terjalin dengan baik.
Di Indonesia permasalahan mengenai fenomena fatherless nyatanya belum menjadi prioritas utama yang harus diselesaikan. Hal ini terlihat dari belum banyaknya regulasi atau pun kampanye publik yang menyoroti pentingnya kehadiran ayah secara emosional dalam mengasuh anak.
Wacana seputar parenting masih banyak terfokus pada Ibu. Padahal, apabila kita ingin memutus rantai relasi lintas generasi, kita tidak bisa terus menutup mata terhadap peran ayah yang kosong. Kini sudah saatnya, kita perlu secara kolektif mendobrak narasi lama yang menyempitkan peran ayah. Peran ayah dalam keluarga tidak hanya tentang memberi uang nafkah, tetapi juga membangun relasi yang baik dengan semua anggota keluarga, menghadirkan rasa aman dan nyaman, serta hadir secara aktif dalam kehidupan anak-anaknya, seperti mendengarkan cerita anak, memberikan dukungan dan kasih sayang, terlibat dengan aktivitas sehari-hari anak, serta menjadi teladan bagi kehidupan anak.
Penulis adalah perempuan penuh mimpi yang percaya bahwa menulis bisa menyembuhkan luka.
Referensi :
Ellis, M Sarah, Yasmin S, dkk. 2017. The Impact of Father on Children’s Well-Being. https://edis.ifas.ufl.edu/publication/FY1451. (Data tentang dampak fatherless secara emosional, paragraf 3)
Ayu, Rizka Dewi. 2024. Mengenal Apa Itu Fatherless dan Dampaknya pada Anak. https://www.tempo.co/gaya-hidup/mengenal-apa-itu-fatherless-dan-dampaknya-pada-anak-6824 (Data dari pengertian fatherless dan peringat Indonesia sebagai negara fatherless, paragraf 4 dan 5)
Azky, Wildan. 2024. Mengungkap Pengaruh Fatherless, Tantangan Anak Tanpa Peran Seorang Ayah. https://unair.ac.id/post_fetcher/fakultas-kesehatan-masyarakat-mengungkap-pengaruh-fatherless-tantangan-anak-tanpa-peran-seorang-ayah. (Data dari UNICEF, paragraf ke 6)
Ika. 2023. Psikolog UGM Beberkan Dampak Minimnya Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan. https://ugm.ac.id/id/berita/23757-psikolog-ugm-beberkan-dampak-minimnya-keterlibatan-ayah-dalam-pengasuhan/ (Data dari paragraf 8 dan 11)

