Oleh: FN
“Kalau semua perempuan bisa bicara, dunia ini pasti sudah sejak lama berisik.”
Aku pernah mendengar kalimat itu dari saluran radio dan aku hanya tersenyum pahit karena aku tahu yang lebih menyakitkan dari dibungkam adalah berbicara, tetapi tak pernah didengar. Aku menjadi salah satunya, sudah sejak lama aku berbicara, tapi suaraku seolah jatuh di lantai dan hancur sebelum sampai ke siapa pun, bahkan suamiku sendiri. Sudah hampir dua puluh tahun aku menikah dan selama itu pula, aku lupa rasanya didengarkan sebagai manusia.
Suamiku bukan sosok yang lembut apalagi romantis, dia dingin dan cuek. Aku tak bisa mengutarakan apa pun tanpa membuatnya marah, sekalipun itu di depan umum. Entah sudah berapa kali, harga diriku terluka karena dibentak di depan umum oleh suamiku sendiri. Segala persoalan tidak pernah terselesaikan dengan baik. Setiap kali aku bicara soal anak, uang belanja, atau pun rencana hidup, ia selalu menolak mentah-mentah dan menganggap remeh semua ucapanku.
Pernah satu waktu, aku memberi saran kepada dia untuk lebih perhatian kepada anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa, tetapi dia justru marah karena merasa lelah sudah pontang-panting mencari uang. Dia sama sekali tidak pernah menerima saran yang aku berikan. Setiap pendapatku dianggap melawan. Kalau aku berbicara, dia merasa aku sedang menantangnya. Dia bilang, aku selalu melecehkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki, tetapi dia tidak pernah menyadari jika dia juga sudah merendahkan posisiku sebagai perempuan.
Dia tak pernah menyentuhku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kalau pun menyentuh, itu hanya saat dia menginginkan sesuatu. Bahkan, ketika aku terbaring lemah karena sakit, sekadar ditanya bagaimana kondisiku atau mau makan apa, sama sekali tidak pernah dia lakukan. Aku tak pernah diberi nafkah secara cukup. Tidak lahir, tidak juga batin, tetapi aku bertahan karena aku tahu, aku tidak punya jalan keluar yang aman.
Aku terjebak.
Aku ingin pergi, benar-benar ingin pergi dari suami dan rumah yang membuatku merasa sesak tak bisa bernapas. Tetapi aku ingat, aku memiliki dua anak perempuan yang masih membutuhkan penghidupan. Aku tak ingin mereka tumbuh tanpa akses pendidikan. Cukup aku saja yang mengalami sulitnya mendapatkan pendidikan. Aku tidak bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi dan aku tidak ingin anak-anakku bernasib sama denganku.
Aku korbankan diriku demi anak-anak. Meskipun aku juga merasa berdosa kepada mereka karena mereka harus menyaksikan bagaimana aku terus bertengkar dengan ayah mereka. Bahkan, tak jarang pertengkaran itu berubah menjadi kekerasan fisik. Dia kerap membanting barang yang meskipun tidak diarahkan kepadaku, tetapi tetap membuatku merasa takut.
Orang-orang mungkin tak tahu atau pura-pura tak tahu tentang apa yang aku alami di dalam rumah. Hanya agar suaraku dapat didengar, aku perlu perjuangan yang tidak mudah untuk mewujudkannya. Selalu ada airmata yang mengalir di sela-sela perjuanganku.
Masih banyak orang yang mengira jika kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga itu harus ada lebam di tubuh korban terlebih dulu. Selama tidak ada luka di tubuh, maka rumah itu dianggap baik-baik saja. Padahal luka yang ada di dalam jiwa yang tidak berdarah itu terasa sangat menyakitkan ketimbang luka lebam yang ada di tubuh. Untuk menyembuhkannya pun tak semudah dengan mengompres air dingin pada luka lebam.
Aku tahu betul bagaimana rasanya sakit itu karena aku benar-benar merasakannya. Aku perempuan dan aku bisa bicara hanya saja suaraku tak pernah didengar apalagi dipercaya oleh suamiku sendiri. Sekarang anak-anakku sudah mulai besar. Satu diantaranya sudah masuk kuliah semester awal. Aku menangis sendirian malam itu, bukan karena meratapi nasib, tetapi karena aku tahu semua luka yang aku tahan dan pengorbanan yang aku lakukan tidak sia-sia. Anak-anakku bisa tumbuh, mereka hidup tanpa harus merasa kekurangan seperti aku dulu. Mereka bisa pergi dari rumah ini dan menjadi perempuan yang berdikari.
Aku yakin mereka juga merasakan luka karena pengabaian yang dilakukan oleh ayahnya dan pertengkaran yang sering mereka saksikan. Aku tidak ingin mereka kelak harus berkorban seperti yang aku lakukan. Aku hanya ingin mereka tumbuh sebagai manusia yang utuh, memiliki rumah yang tidak hanya bisa menjadi tempat untuk pulang, tetapi juga tempat untuk bicara, dan yang pasti memiliki keluarga yang bisa mendengarkan dan saling menghargai.
Lewat tulisan ini aku hanya ingin bercerita dan bukan ingin dikasihani. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku pernah ada dan aku pernah bicara. Jika ada perempuan lain yang membaca ini dan merasa suaranya pun tak pernah didengar, semoga kamu tahu kalau kamu tidak sendiri.
Kisah ini adalah kisah nyata, dipublikasikan dengan tujuan edukasi dan saling berbagi cerita. Serta agar semua perempuan yang mengalami hal sama tidak merasa sendirian. Mari kuat bersama.

