Oleh: Glykeria
Setiap kali memperhatikan salinan putusan pengadilan, hati saya terasa patah berkeping-keping. Seperti ada sebilah pedang yang ditusukkan ke ulu hati. Amarah, luka, kesal bercampur menjadi satu. Saya membayangkan betapa bodohnya saya ketika harus mempertaruhkan masa depan terbaik saya kepada laki-laki yang sama sekali tidak menganggap pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan berharga. Malahan, dia pernah mengatakan bahwa alasan dia menikah itu hanya sebagai tameng agar banyak orang tahu dia sudah menikah dan tidak lajang. Padahal, dia menikah tanpa tahu tanggung jawab sejatinya sebagai seorang suami, minimal perlu memberi makan anak orang.
Di dalam salinan putusan pengadilan tersebut, saya mendapati ada banyak sekali kesaksian palsu yang dibuat olehnya. Bersama ibunya, dia bahkan tidak mengakui pernah menempati rumah yang saya cicil rutin selama beberapa tahun. Rumah yang akhirnya dibalik-namakan menjadi milik adik kandungnya setelah saya memutuskan pergi dari rumah demi melanjutkan studi.
Saya memang akui pernah menjalani pernikahan yang rasanya seperti neraka. Kami belum dianugerahkan buah hati yang bisa kami banggakan. Meski begitu, saya sadar bahwa pada akhirnya itu membuat saya terhindar dari beban berlebih pasca perceraian. Di satu sisi, saya bersyukur lepas dari hubungan toxic dan mulai menata hidup kembali.
Namun, di sisi lainnya, saya perlu berani menghadapi stigma negatif masyarakat tentang janda setiap harinya: janda penggoda suami orang lah, janda miskin lah, janda pemberi harapan palsu, dan sebagainya. Di manapun saya berada, selalu saja ada mereka yang iseng ingin menggosipkan apa saja yang berhubungan dengan diri saya. Mereka seperti tidak punya pekerjaan lain, selain bergunjing ria di teras salah satu rumah yang menjadi base camp mereka sehari-hari sambil menunggu tukang sayur datang.
Lebih herannya lagi, dalam salinan putusan pengadilan yang saya perhatikan dengan seksama, hadir juga pelanggan lama usaha saya yang menjadi saksi kedua selain ibu kandungnya. Saksi tersebut menginformasikan bahwa saya tengah berselingkuh dengan rekan kerja saya. Padahal, yang bersangkutan tidak tahu secara detail apa yang terjadi.
Saat itu, rasanya saya ingin datang ke pengadilan untuk memenuhi undangan yang diberikan. Kalau perlu saya akan membuat onar dengan marah tidak karuan, membolak-balikkan meja yang ada di persidangan, atau menonjok wajah mantan suami saya sampai memar. Namun, hati kecil saya tidak mengizinkan. Saya berpikir berulang, daripada hati saya kelak bertambah sakit dan malah yang ada membuat rusuh, lebih baik saya mengambil waktu untuk tetap berdiam diri di rumah, lebih banyak berdoa dan menenangkan diri.
Segala fitnahan lisan maupun tertulis, ataupun bukti dan kesaksian palsu selama proses perceraian di pengadilan, akhirnya saya relakan dengan lapang dada. Saya percaya kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
Mempelajari Masa Lalu
Saat ini, sudah 5 tahun kenangan pahit itu berlalu. Sampai saya memutuskan pindah kota demi bisa melupakan semua kekerasan yang pernah saya alami selama berumahtangga dengannya. Terutama, kekerasan finansial. Selama berpacaran, saya memang terlalu menoleransi banyak hal yang saya tidak bisa terima. Saya menggampangkan dengan berpikir bahwa kelak akan terjadi banyak perubahan setelah kami menikah nanti.
Namun ternyata, saya seperti mendapat kucing dalam karung. Justru, soal kepribadian seseorang memang perlu diteliti sejak masa berpacaran. Benar adanya, dia sangat pemalas, tidak bisa mandiri dan bergantung secara berlebihan dengan ibunya, serta tidak memiliki inisiatif untuk berjuang menafkahi saya. Hal ini sudah terlihat sejak masa berpacaran, tetapi karena saya terlalu tidak memedulikan, terjadilah tidak jauh berbeda dari itu setelah pernikahan.
Lambat laun, saya mulai merenung: jika secara ekonomi pernikahan saya tidak ada bedanya dengan kehidupan saya selama lajang, mengapa saya harus melanjutkan hubungan ini semakin jauh? Perkataannya juga kasar dan tidak penuh cinta, jadi buat apa lagi saya bertahan?
Dari perenungan tersebut dan mempertimbangkan nasihat dari beberapa orang yang saya anggap bijaksana, saya pun mulai menyelamatkan diri untuk pergi dan meninggalkannya, sampai beberapa tahun kemudian digugat cerai olehnya. Bisa dikatakan, jaraknya sekitar 2 tahun 6 bulan sejak saya pergi dari rumah sampai surat gugatan cerai darinya dilayangkan. Basi!
Maka tidak heran, apabila alasan bahkan kesaksiannya yang dibeberkannya di depan hakim tidak sesuai dengan fakta yang ada. Seberat-beratnya penderitaan yang saya alami, akhirnya apa yang saya perjuangkan berhasil. Ya, saya berhasil menyelesaikan S1 Ilmu Komunikasi dengan predikat cum laude. Sedangkan dia, masih saja menjadi anak yang terus nyaman di bawah ketiak ibunya. Benar-benar memalukan!
Sampai hari ini, saya tidak habis pikir: ternyata anak yang bergantung berlebihan pada orangtuanya, terutama ibunya sangat meresahkan. Parahnya lagi, di dalam rumah yang kami tempati dulu, terpaksa ada 2 ratu yang dia hadirkan. Saya berharap kisah ini hanya terjadi pada diri saya saja dan tidak pada perempuan lain.
Kisah ini dibagikan melalui persetujuan dari penulis lansung. Disebarluaskan sebagai bahan edukasi dan agar orang lain yang mengalami hal sama tidak merasa sendiri.

