Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Normalisasi Menikah di Usia 30 Tahun

Normalisasi Menikah di Usia 30 Tahun

Storimini Redaksi Jalastoria6 November 2025
Foto JalaStoria ID

Oleh: Wurry Aprianty

Perempuan yang belum menikah pada usia di atas 30 tahun, sering dianggap tidak laku oleh masyarakat. Padahal menikah atau tidak menikah adalah hak pribadi setiap orang.  Ada beberapa sebab kenapa pere pada usia tertentu belum memiliki keinginan menikah. Meski tidak semua perempuan mempertimbangkan hal ini sebelum menikah, saya coba merangkum dari beberapa informasi sekitar dan pengalaman saya sendiri, diantaranya;

Pertama, ingin fokus karir. Banyak Perempuan yang belum menikah ingin fokus berkarir. Mereka memilih untuk menunda pernikahan walaupun mereka sudah punya pasangan. Hal ini dijadikan pertimbangan karena kultur patriarki yang menjadikan kerja domestik atau rumah tangga hanya dibebankan pada perempuan, dampaknya perempuan tidak memiliki banyak waktu untuk kerja publik bahkan untuk mengejar impian karirnya. Pilihan tersebut tidak menjadi masalah selama orang tersebut bahagia menjalaninya.

Kedua, Perubahan pandangan hidup. Zaman yang semakin maju, informasi yang semakin berkembang membuat perempuan memandang pernikahan bukan lagi menjadi kewajiban melainkan sebuah pilihan. Yang mana pilihan tersebut bisa dilakukan bisa juga tidak. Banyak peremousn yang dituntut untuk segera menikah, seakan pernikahan itu adalah fase wajib yang harus dilalui perempuan. Pergeseran cara pandang tentang pernikahan, memberi perempuan peluang untuk menunda pernikahan karena ia tahu hal ini bukan kewajiban.

Ketiga, Pengalaman masa lalu. Banyak Perempuan yang memilih menunda pernikahan karena ada pengalaman buruk dimasa lalu.  Misalnya, ia sering melihat orangtuanya bertengkar atau memiliki keluarga yang broken home. Ia mengalami banyak kesulitan akibat dari pernikahan yang bermasalah dan tidak bahagia, sehingga merasa ingin benar-benar menyiapkan diri supaya pernikahannya dapat berjalan baik, dan anaknya tidak mengalami hal buruk yang pernah dialami sebelumnya.

Keempat, belum selesai dengan diri sendiri. Meskipun usia perempuan sudah menjajaki usia 30 tahun, bukan berarti mereka sudah selesai dengan dirinya sendiri. Artinya, banyak perempuan yang merasa belum memahami dirinya sendiri, belum mampu mengontrol emosi atau merasa banyak hal yang ingin dia lakukan sebelum memutuskan menikah.

Kelima, ingin merawat orang tua. Orang tua sering menjadi alasan perempuan  menunda pernikahan. Karena ingin membiayai atau memberikan kehidupan yang lebih baik kepada orang tua atau bahkan adik-adiknya yang masih sekolah. Keenam, belum bertemu jodoh. Banyak perempuan yang merasa belum menemukan pasangan yang memiliki visi misi yang sama. Kesadaran bahwa berbeda pandangan dan visi dalam rumah tangga seringkali menjadi penyebab perceraian, karena itu yang terpenting bukan waktu atau umur saat menikah, tetapi yang terpenting adalah menemukan seseorang yang memiliki pandangan sama dengan pernikahan.

 

Fokus pada Diri Sendiri

Ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk diri sendiri, karena hidup bukan Cuma soal menikah! Yuk fokus pada diri

Pertama, Fokus dengan diri sendiri. Fokuslah pada  diri sendiri dengan memperbanyak ilmu dan pengalaman. Ilmu dan pengalaman yang luas akan membantu kita memperkuat cara pandang tentang diri sendiri, tentunya ini juga akan memengaruhi sikap saat nantinya memutuskan untuk menikah. Selain itu, rajin berolahraga akan membuat tubuhmu sehat dan bisa melakukan banyak aktifitas yang disukai.

Kedua, bangun karir dan kemandirian. Jodoh bukan pelarian dari masalah. Bangun karir, kembangkan minat, dan jadilah pribadi yang mandiri. Ketiga, Kuatkan iman dan perbaiki diri. Daripada sibuk menebak siapa jodoh kita, akan lebih baik untuk memperkuat iman dan mendekatkan diri pada Tuhan. Sambil lalu memperbaiki dan merawat diri. Kamu bisa mulai membeli baju atau hal yang kamu sukai, serta bergabung dengan komunitas atau organisasi yang sesuai dengan passion.

Keempat, jangan terburu-buru nikmati prosesnya. Tidak ada waktu batasan kapan seseorang harus menikah. Semua orang punya prosesnya masing-masing jadi nikmati aja!. Pilihlah seseorang yang tepat menurutmu bukan menurut orang lain. Kelima, siapkan hati dan pikiran. Jika kamu ingin menerima seseorang hadir dihidupmu maka kamu juga perlu menyiapkan hati dan pikiranmu. Menyiapkan diri jika dia yang datang tidak sesuai harapanmu. Siapkan pikiran jika ada hal antara kamu dan dia yang tidak sejalan. Semua itu harus disiapkan. Karena sejatinya berpasangan itu menerima baik buruknya lalu melengkapinya.

Jadi mulai sekarang normalisasi menikah pada usia 30 tahun ke atas atau umur berapapun di mana perempuan merasa siap untuk menikah. Karena setiap orang punya alasan tersendiri dan orang lain tidak berhak memutuskan. Tidak perlu berkata kapan tapi doakan yang terbaik untuk dia yang belum menikah semoga kelak mendapatkan pasangan yang terbaik.

Tulisan ini adalah refleksi penulis. Saya meyakini, setiap pembaca punya alasan dan pertimbangan sendiri tentang pernikahan. Mari sayangi diri, perempuan berharga karena dirinya, bukan karena umur atau pernikahannya!

 

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.