Oleh: Alfaira
Tak hanya laki-laki, perempuan juga punya hak untuk menentukan standar dalam memilih pasangan. Bagi sebagian orang, perempuan yang kesulitan mencari pasangan adalah perempuan yang terlalu banyak menelan konten sosial media dan memiliki standar yang terlalu tinggi. Padahal kenyataannya, banyak perempuan yang sulit mencari pasangan karena belum menemukan laki-laki yang bisa memperlakukannya sebaik Ayah mereka memperlakukannya di rumah.
Saya sering mendengar kalimat “Jodoh anak perempuan adalah cerminan dari sang ayah.” Jika hal itu benar-benar terjadi di kehidupan saya, maka saya akan menjadi salah satu perempuan yang beruntung.
Cerita ini dibagikan berdasarkan sudut pandang dan pengalaman seorang perempuan yang menjadikan sosok Ayah sebagai cinta pertamanya. Terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya menjadikan saya tumbuh dengan kasih sayang seutuhnya. Meski Ayah saya adalah sosok yang sederhana, tidak membatasi Ayah saya untuk mengusahakan segala hal yang saya minta. Hampir seluruh keinginan saya terpenuhi. Bahkan meski pun saya sudah punya penghasilan sendiri, kebutuhan saya masih ditanggung oleh Ayah saya. Bukan karena Ayah saya memiliki banyak uang, tapi sebagai bentuk tanggung jawab kepala keluarga.
Seorang Ayah Tak Akan Membiarkan Putrinya Disakiti
Tantrum adalah hal yang sering terjadi pada usia anak-anak. Waktu saya kecil, di pagi hari saya menangis keras di ruang tengah. Ibu saya yang sudah jengkel dan kehabisan cara untuk menenangkan akhirnya memukul paha saya hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Bukan berhenti, tangisan saya pada saat itu malah semakin menjadi. Tak berselang lama, Ayah saya datang dari arah kamar dengan wajah lelahnya dan memarahi Ibu saya. “Kalau anak saya salah, pukul saya saja, jangan anak saya.”
Dari kalimat singkat yang diucapkan, cukup membuktikan seberapa besar cinta Ayah saya untuk saya, bahkan istrinya sekali pun akan diberi peringatan tegas jika sudah menyakiti putrinya. Bukan berarti Ayah saya tidak memikirkan perasaan Ibu saya yang lelah mengurus anak-anaknya. Tapi Ayah saya paham, perasaan putri kecilnya lebih sensitif. Ayah saya membuktikan jika ia akan selalu membela putrinya dari siapa pun yang sudah menyakiti.
Sejak saya kecil, tak pernah sekali pun Ayah saya melakukan kekerasan fisik kepada saya. Bahkan, ketika saya remaja, ada masa dimana saya membentaknya dengan nada tinggi. Tapi yang Ayah saya lakukan hanya diam, tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Justru Ibu saya yang saat itu menegur dan memarahi saya.
Saat itu, bisa saja Ayah saya membalas perkataan saya. Tapi Ayah saya lebih memilih untuk diam. Bukan karena ia tak bisa marah, tapi karena ia tak ingin menyakiti hati putrinya. Jika saat itu Ayah saya membalas perkataan saya, mungkin saya akan mendapat luka yang sulit untuk disembuhkan. Mengingat Ayah adalah cinta pertama untuk anak perempuannya. Jika hal itu terjadi, kepercayaan saya terhadap Ayah saya akan berkurang.
Sering Dianggap Terlalu Memanjakan
Tak jarang saya mendapat julukan “anak kesayangan” dari orang-orang sekitar. Meski terdengar agak kurang tepat, saya tak akan menyangkal hal tersebut. Pernah satu hari saya memiliki janji dengan teman saya di stasiun. Saya meminta tolong kepada Ayah saya untuk mengantar saya ke sana. Kebetulan saat itu cukup terik dan saya menyuruh Ayah saya untuk segera kembali karena Ayah harus bekerja. Tapi yang dilakukan Ayah saya justru sebaliknya, ia menemani saya sampai akhirnya saya benar-benar bertemu teman saya.
Peran Penting Seorang Ayah
Perhatian-perhatian kecil yang sering diberikan oleh Ayah saya membuat saya tumbuh menjadi perempuan yang tak haus kasih sayang laki-laki lain. Bahkan, saya sendiri tak pernah menahan laki-laki mana pun yang memang ingin pergi dari kehidupan saya. Terkadang sikap tidak peduli dengan laki-laki inilah yang membuat saya kesulitan mendapatkan pasangan. Bukan karena saya memiliki standar tinggi, tapi saya ingin membangun keluarga yang di dalamnya penuh cinta. Saya pribadi menjadikan sosok Ayah saya sebagai standar untuk mencari pasangan. Akan terlalu menyakitkan jika anak perempuan kesayangan Ayahnya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari laki-laki yang bahkan tidak pernah merawatnya sejak kecil.
Mungkin bukan hanya saya, tapi banyak perempuan di luar sana yang juga melihat sosok Ayahnya sebagai standar dalam mencari pasangan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian gambaran pemilihan pasangan hidup yang dilakukan pada tahun 2024, yang menyatakan bahwa gambaran pemilihan pasangan anak perempuan dipengaruhi oleh keterlibatan Ayah mereka.
Seorang Ayah memang tidak pandai mengungkapkan cintanya melalui kata. Tapi cintanya tak akan bisa digantikan dengan cinta laki-laki mana pun. Bahkan sosok Ayah rela mengorbankan apa pun demi anak perempuannya. Meski begitu, sangat disayangkan ada beberapa anak perempuan yang malah menjadi korban keegoisan sang Ayah dan mendapatkan trauma dari sosok bernama Ayah. Saya harap mereka yang sudah menjadi Ayah benar-benar mengerti betapa pentingnya peran seorang Ayah bagi anaknya.
Penulis adalah seorang perempuan yang gemar membaca dan menulis. Memiliki beberapa cerpen dan puisi dalam karya antologi.

