Jakarta — Kegiatan Literasi Pers Kampus yang diselenggarakan JalaStoria bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Kamis, 27 November 2025, menghadirkan pesan penting mengenai peran jurnalis muda dalam membangun jurnalisme yang berkeadilan dan berperspektif gender. Dalam sambutannya, Dr. Ninik Rahayu, S.H., M.S., Direktur Eksekutif JalaStoria, menegaskan bahwa jurnalisme kampus tidak hanya memerlukan kemampuan teknis menulis, tetapi juga kekuatan intelektual, keberanian etis, dan kesadaran sosial yang matang.
Ninik menyampaikan bahwa perlindungan terhadap jurnalis bukan berarti membenarkan kesalahan atau menutupi kekeliruan. Perlindungan sejati, menurutnya, adalah memberikan bekal intelektual yang memadai agar jurnalis—terutama jurnalis muda di lingkungan kampus—memiliki kemampuan untuk melakukan investigasi yang benar dan sesuai kaidah etika jurnalisme.
“Perlindungan itu bukan berarti kalau salah harus dihidup-hidupkan atau dibesar-besarkan. Perlindungan adalah ketika seorang jurnalis diberi kekuatan intelektual, bekal berpikir, dan kemampuan untuk memahami kebutuhan investigasi secara tepat. Dengan begitu, mereka tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fungsi jurnalisme itu sendiri,” ujarnya dalam sambutan.
Ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas intelektual di lingkungan kampus merupakan fondasi yang tidak bisa diabaikan. Mahasiswa, menurutnya, adalah agen penting dalam pembentukan ruang informasi yang sehat. Tetapi, Ninik juga mengingatkan bahwa masih banyak dinamika yang terjadi di kampus, termasuk pola pikir dan praktik menulis yang belum ideal.
“Tantangan kita hari ini adalah ketika menulis hanya sekadar mengikuti arus, mengikuti apa yang sedang ramai, atau bahkan hanya mengikuti keinginan kelompok tertentu. Padahal, menulis itu mestinya bukan soal ‘yang dimaui masyarakat’, tetapi apa yang benar-benar ‘dibutuhkan masyarakat’,” katanya.
Ninik menekankan bahwa jurnalisme kampus harus hadir sebagai pilar kritis yang mampu menyajikan informasi secara berimbang, mendalam, dan sensitif terhadap isu-isu ketidakadilan, termasuk ketidakadilan berbasis gender. Pers mahasiswa tidak boleh terjebak dalam pendekatan dangkal yang hanya mementingkan popularitas atau sensasi.
Dalam sambutannya, ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang berperan dalam penyelenggaraan kegiatan literasi tersebut. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Dekan FDIKOM UIN Jakarta, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto., M.Si, civitas akademika, para mentor dan tim relawan JalaStoria. Serta para sponsor acara seperti Pertamina, Antam, Astra dan berbagai pihak lainnya yang turut mensukseskan acara ini.
Kegiatan Literasi Pers Kampus ini sendiri mengangkat tema besar “Membangun Jurnalisme Berkeadilan dan Berperspektif Gender”, dengan komitmen mendorong lahirnya jurnalis muda yang memiliki kesadaran kritis terhadap isu-isu sosial, khususnya kesetaraan gender. Melalui sesi pelatihan yang berlangsung sehari penuh, peserta mendapatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip jurnalisme yang etis, teknik peliputan, serta bagaimana menghadirkan perspektif gender dalam setiap pemberitaan.
Di akhir sambutannya, Ninik Rahayu kembali menekankan bahwa jurnalisme kampus harus terus didorong untuk menjadi ruang aman, ruang belajar, dan ruang pembentukan karakter intelektual mahasiswa. Ia berharap kegiatan ini dapat membawa dampak berkelanjutan dalam memperkuat kapasitas pers mahasiswa di seluruh Indonesia.
“Jurnalisme kampus adalah kiblat awal bagi tumbuhnya jurnalis profesional. Jika pondasinya benar, kuat, dan berperspektif keadilan, maka masa depan jurnalisme Indonesia akan jauh lebih baik,” tutupnya.
Dengan pesan yang kuat dan menyentuh, sambutan Ninik Rahayu dalam kegiatan ini menjadi penegas bahwa jurnalisme kampus memiliki peran strategis dalam menghadirkan informasi yang adil, mendalam, dan berpihak pada kemanusiaan. Melalui kekuatan intelektual dan etika yang benar, pers mahasiswa diharapkan mampu terus tumbuh sebagai pilar kritis dalam kehidupan akademik dan masyarakat luas. [UH]

