Oleh: Risma Alifia Khoirunnisa
Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah disutradarai oleh Kuntz Agus. Film ini menampilkan Sha Ine Febriyanti sebagai ibu. Bucek Depp sebagai ayah. Amanda Rawles sebagai Alin. Dua anak perempuan lainnya, Amin dan Aira, melengkapi cerita. Ketiga anak perempuan ini tumbuh dalam rumah yang sunyi. Mereka tumbuh tanpa dukungan emosional ayah. Situasi ini memberi gambaran nyata tentang bagaimana perempuan dan anak perempuan memaknai keluarga ketika ada ketidakhadiran figur ayah.
Film dibuka dengan rutinitas rumah yang tampak biasa. Namun suasananya menekan. Tidak ada suara keras. Konflik hadir dalam bentuk diam. Ayah berada di ruang yang sama, tetapi tidak hadir secara emosional. Ibu memilih menahan diri. Ia mengambil peran yang masyarakat anggap sebagai kewajiban. Ia memastikan kehidupan tetap berjalan. Ia menjaga tiga anaknya agar tidak melihat konflik. Sikap ibu menciptakan rumah yang tampak stabil di luar, tetapi rapuh di dalam.
Tokoh Amin menjadi titik masuk yang penting. Amin menghadapi pilihan yang sulit. Ia ingin kuliah kedokteran. Namun ada tekanan untuk menikah muda. Pilihan ini mencerminkan pola yang pernah dialami ibu mereka. Tekanan tersebut datang dari keluarga besar. Datang dari lingkungan. Datang dari nilai sosial yang menilai perempuan berdasarkan status pernikahan. Amin akhirnya mempertimbangkan kembali pilihannya setelah melihat kondisi ibunya. Ia menyadari bahwa keputusan menikah bukan keputusan sederhana.
Alin juga mengalami keraguan serupa. Temannya mengatakan bahwa hidup akan lebih mudah jika menikah dengan lelaki kaya. Alin menolak cara pandang itu. Ia pulang ke rumah dengan pertanyaan yang lebih serius. Ia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah menikah akan membuatnya bahagia. Apakah ia akan mengalami hal yang sama seperti ibunya. Pertanyaan ini muncul dari pengamatan sehari-hari. Ia melihat ibunya memendam sedih. Ia melihat ibunya diam. Diam yang panjang dan melelahkan.
Film ini memberi perhatian pada kekerasan emosional. Bentuk kekerasan ini jarang dibicarakan. Namun dampaknya besar. Ayah mempunyai kekuasaan dalam rumah. Ia mengontrol suasana. Ia menentukan keputusan penting. Ia bersikap dingin. Ia tidak memberi ruang aman bagi anak-anak. Ibu berada dalam posisi yang serba salah. Ia ingin melindungi anak-anak. Ia juga ingin mempertahankan rumah. Ia berada dalam tekanan yang tidak terlihat. Setiap hari ia menjalankan peran yang berat.
Evelyn Afnilia sebagai penulis naskah menyoroti beban yang dipikul perempuan. Beban itu tidak terlihat oleh banyak orang. Beban itu berlangsung bertahun-tahun. Film ini memperlihatkan tekanan tersebut melalui tindakan kecil. Misalnya ibu yang selalu mengurus segalanya sendiri. Ibu yang tidak pernah mengeluh. Ibu yang tetap tersenyum di depan anak-anaknya. Anak-anak membaca pola itu. Tanpa sadar mereka mempelajari cara bertahan yang sama.
Isu subordinasi perempuan hadir jelas dalam alur cerita. Keputusan menikah tidak netral. Perempuan sering mengikuti nilai sosial. Nilai tersebut menempatkan pernikahan sebagai ukuran keberhasilan. Film ini mengajak untuk melihat kembali bagaimana norma tersebut bekerja di keluarga. Ibu menjadi contoh nyata bahwa perempuan bisa kehilangan ruang untuk menentukan hidup sendiri. Ia bertahan dalam situasi yang tidak sehat. Ia melakukannya karena merasa itu kewajiban.
Namun film tidak hanya memuat luka. Ada bentuk matriarki domestik yang penting untuk diperhatikan. Dalam banyak adegan, ibu dan anak-anak menjadi pusat rumah. Mereka yang menjaga stabilitas. Mereka yang menyediakan kehangatan. Mereka yang memastikan rumah tetap berjalan. Kehidupan keluarga bertahan karena kerja emosional yang dilakukan perempuan. Kerja ini tidak diakui secara formal. Namun perannya sangat besar dalam keberlangsungan keluarga.
Beberapa adegan memperlihatkan kehangatan. Mereka menonton kembang api bersama. Mereka makan bersama. Mereka tidur berdekatan. Adegan ini memberi gambaran bahwa kasih sayang tetap ada di tengah tekanan. Adegan ini juga memberi pemahaman bahwa hubungan keluarga tidak selalu hitam dan putih. Ada bagian yang hangat. Ada bagian yang menyakitkan. Dua hal itu bisa muncul dalam satu tempat yang sama.
Bagian setelah ibu meninggal membawa perubahan penting. Ayah mulai bekerja. Ia mengambil tanggung jawab yang ia abaikan sebelumnya. Perubahan ini kecil tetapi nyata. Ia mulai melihat kebutuhan anak-anak. Situasi rumah berubah perlahan. Di sisi lain, Alin mengambil keputusan hidupnya sendiri. Ia memilih kuliah kedokteran. Keputusan ini tidak lagi didorong oleh ketakutan. Keputusan ini muncul dari keinginannya untuk menentukan masa depannya sendiri.
Film ini memberi banyak pelajaran praktis. Kita dapat memperhatikan bagaimana tekanan sosial mempengaruhi perempuan. Kita dapat mengamati pola hubungan yang tidak sehat, dapat mempertimbangkan ulang keputusan besar seperti pernikahan, dapat melihat bahwa perempuan berhak menata hidupnya sendiri dan dapat memahami bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana.
Melalui film ini banyak orang bisa melihat ulang dinamika rumah tangga. Banyak orang bisa mengenali tanda-tanda beban emosional dalam keluarga. Keberanian untuk mengambil keputusan pribadi juga terlihat sebagai hal yang penting. Film ini memberi ruang untuk membaca pengalaman perempuan dari sudut yang lebih jujur. Ceritanya mengajak siapa saja untuk menilai hubungan secara lebih sadar. Kisah ini relevan bagi siapa pun yang ingin memahami dinamika keluarga dari perspektif perempuan

