Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Ketimpangan Beban Pengasuhan Pada Anak Perempuan

Ketimpangan Beban Pengasuhan Pada Anak Perempuan

Perspektif Redaksi Jalastoria9 Januari 2026

Oleh: Risma Alifia Khoirunnisa

Di banyak keluarga, nasihat yang paling sering diberikan kepada anak perempuan terdengar mirip : “Jaga dirimu, jangan pulang malam, jangan pakai baju itu, hati-hati di luar”. Pesan ini lahir dari kasih sayang orang tua yang ingin melindungi. Namun, pola ini diam-diam meletakkan beban keselamatan hanya di pundak anak perempuan.

Pertanyaan penting lalu muncul kalau anak perempuan terus diajarkan melindungi diri, kapan anak laki-laki diajarkan untuk tidak menjadi pelaku? Dan benarkah larangan-larangan ini sepenuhnya bentuk cinta? Ataukah justru cerminan pendekatan protektif yang konversional yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus dijaga, bukan diberdayakan? Pendekatan seperti ini memang lahir dari niat baik, tetapi gagal menyentuh akar masalah, bagaimana membentuk laki-laki agar tidak menjadi pelaku kekerasan.

Budaya Proteksi yang Tak Seimbang

Masyarakat masih terjebak dalam cara pandang bahwa perempuan adalah pihak yang rentan, sementara laki-laki dianggap “tak bisa dikendalikan”. Hasilnya, pendidikan soal consent (persetujuan), empati, dan penghormatan atas tubuh orang lain jarang ditanamkan kepada anak laki-laki sejak dini.

Kita sering mendengar larangan pada anak perempuan, jangan berpakaian terbuka agar tidak dilecehkan. Tapi jarang sekali ada pesan tegas pada anak laki-laki agar tidak pernah menyentuh tubuh perempuan tanpa izin, tidak melontarkan komentar yang membuat perempuan tidak nyaman dan tidak menganggap tubuh perempuan sebagai objek. Jika pola asuh hanya satu arah seperti ini, maka kekerasan akan terus berulang. Bukan karena perempuan tidak berhati-hati, melainkan karena laki-laki tidak pernah diajarkan menghormati.

Fakta Terkini Tentang Angka Kekerasan terhadap Perempuan

Data terbaru menunjukkan betapa mendesaknya perubahan pola pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Pada tahun 2023, Komnas Perempuan mencatat 289.111 kasus kekerasan terhadap perempuan, dan angka tersebut melonjak menjadi 330.097 kasus pada 2024, meningkat 14,7% dari tahun sebelumnya. Dari laporan yang terintregasi melalui Simfoni PPA, SintasPuan, dan Titian perempuan, kekerasan seksual menempati posisi tertinggi dengan 15.621 kasus, disusul kekerasan psikis dan fisik. Lebih jauh, 75,5% kasus terjadi di ranah personal atau rumah tangga yang terdiri dari kekerasan psikis, fisik, seksual, dan ekonomi. Namun angka-angka tersebut sesungguhnya hanyalah puncak gunung es, karena banyak korban memilih diam akibat stigma sosial dan praktik victim-blaming.

Dampak Pendidikan “Jaga Diri” yang Tak Setara

Pola pendidikan yang menekankan “jaga diri” pada perempuan sering kali menumbuhkan rasa takut, bukan rasa aman. Anak perempuan tumbuh dengan kewaspadaan berlebih terhadap dunia luar, sementara anak laki-laki tumbuh tanpa kesadaran akan batas dan tanggug jawab. Akibatnya, relasi antar gender menjadi timpang, perempuan belajar menghindar, laki-laki belajar menghargai.

Melindungi anak perempuan tetap penting. Tapi lebih bijak jika beban ini dibagi dengan mengajarkan anak laki-laki bagaimana bersikap. Riset psikologi perkembangan menunjukkan identitas gender mulai terbentuk sejak usia 2-5 tahun, periode emas untuk menanamkan nilai kesetaraan dan penghormatan antar individu. Metode sederhana seperti storytelling (bercerita) dan role-playing (bermain peran) juga terbukti efektif untuk memperkenalkan konsep consent sejak usia dini. Contoh praktis ketika seorang anak memaksa memeluk temannya, orang tua bisa berkata, “Kalau dia tidak mau dipeluk, kamu tidak boleh memaksa. Tubuh orang lain bukan milikmu”.

PUSKAPA Universitas Indonesia yang menekankan pentingnya Comprehensive Sexuality Education sejak dini, dengan consent sebagai fondasi utama. Hal ini juga ditegaskan psikolog Farraas Afiefah Muhdiar bahwa pendidikan seksual pada anak mencakup pengenalan organ tubuh, kebersihan, serta pemahaman bahwa tubuh orang lain tidak boleh disentuh tanpa izin.

Artikel di merahputih.com menambahkan pentingnya membebaskan anak laki-laki dari stereotip “harus kuat dan tidak boleh menangis” agar tumbuh dengan empati. Dikutip dari magdalene.co, menyarankan memperkenalkan konsep goodtouch dan badtouch pada anak prasekolah dengan istilah anatomis yang benar, dan ibupedia.com menekankan kebiasaan sederhana seperti meminta izn sebelum menyentuh barang pribadi anak sebagai latihan menghormati batas tubuh dan ruang pribadi. Semua ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari rumah, bahkan sejak anak balita.

Tanggung Jawab Kolektif: Bukan Hanya “Protect Your Daughter”

Pencegahan kekerasan bukan tugas anak perempuan semata, melainkan tanggung jawab kolektif. Jika orang tua mengajarkan anak laki-laki tentang kepedulian (respect), sekolah memasukkan pendidikan gender dalam kurikulum, dan media berhenti menormalisasi objektifikasi perempuan, maka fondasi masyarakat yang lebih adil bisa tercipta. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain dengan mengajarkan consent sejak dini dengan bahasa sederhana, melatih empati lewat cerita atau permainan peran, membebaskan pola asuh dari stereotip gender seperti “anak laki-laki tidak boleh menangis”, mendorong keterlibatan guru laki-laki di PAUD dan sekolah dasar sebagai role model, serta membangun kurikulum responsif gender di sekolah.

Pendidikan kesetaraan bukan semata untuk melindungi perempuan, melainkan untuk menumbuhkan manusia yang saling menghargai. Mengajarkan anak laki-laki agar tidak menjadi pelaku kekerasan bukan menuduh, tetapi membekali mereka dengan empati dan tanggung jawab.

Penulis aktif sebagai freelance writer

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.