Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Meningkatkan Empati terhadap Korban Child Grooming melalui Novel Fiksi

Meningkatkan Empati terhadap Korban Child Grooming melalui Novel Fiksi

Perspektif Redaksi Jalastoria10 Februari 2026

Oleh: Vanessa Naomi Dicta

Ketika saya sedang scroll for your page (FYP) di TikTok, lewat satu video yang menarik perhatian saya. Dalam video tersebut, tampak seorang perempuan dewasa tengah membahas isu terkait child grooming. Secara keseluruhan saya dapat mengerti maksud yang ingin disampaikannya dalam video tersebut, intinya ia ingin menyadarkan para anak remaja untuk tidak mudah percaya dengan gombalan-gombalan pria dewasa. Namun, ada beberapa kalimatnya yang cukup membuat saya risih, salah satunya ketika ia berkata, “Kalau gue sih bodo amat. Selama si child-nya ini mau di-grooming, ya itu terserah dia gitu.”

Pernyataan ini seolah menempatkan anak sebagai subjek yang sepenuhnya sadar dan bertanggung jawab atas relasi yang sejak awal timpang. Cara pandang seperti ini tidak hanya menyederhanakan persoalan, tetapi juga mengaburkan teknik manipulasi yang justru menjadi inti dari praktik child grooming itu sendiri.

Saya merasa marah ketika melihat video tersebut, terlebih ratusan ribu orang menyukai kontennya. Dari situ saya menyadari satu hal, bahwa minimnya empati terhadap korban sering kali berangkat dari ketidaktahuan akan apa yang sebenarnya dialami oleh mereka, para korban kekerasan seksual.

Saya jadi teringat akan beberapa novel fiksi bertemakan child grooming yang pernah saya baca, salah satunya berjudul My Dark Vanessa karya Kate Elizabeth Russell. Meski saya tidak pernah menjadi korban child grooming, novel ini membuat saya memahami bahwa proses child grooming tidak pernah sesederhana “mau sama mau”, tetapi lebih kompleks. Melalui pengalaman tokoh-tokohnya, saya diajak melihat dan menyaksikan cara manipulasi itu bekerja secara perlahan sehingga membuat korban meyakini bahwa relasi yang mereka alami adalah sebuah kisah cinta.

Empati dan Novel Fiksi

Empati umumnya dipahami sebagai kemampuan untuk melihat suatu situasi dari sudut pandang orang lain. Rowe (2018) menyebutnya dengan istilah “feel their pain”. Dilansir dari BBC, disebutkan bahwa melalui novel fiksi, pembaca dapat mengakses dunia batin tokoh secara lebih mendalam, lebih mudah terlibat secara emosional tanpa terus mempertanyakan kebenaran cerita, serta mengikuti perjalanan hidup tokoh dalam rentang waktu yang panjang. Hal ini tentunya sulit dilakukan dalam kehidupan nyata.

Rowe (2018) juga menyebutkan bahwa banyak penelitian membuktikan bahwa fiksi dapat memengaruhi cara berpikir dan pola kognitif pembaca. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Santi et al. (2025) yang membuktikan bahwa membaca fiksi dapat mendukung empati kognitif dan afektif remaja. Manfaat empati ini disebutkan muncul ketika pembaca merasa benar-benar terhanyut ke dalam dunia cerita melalui narasi yang menarik (Santi et al., 2025).

Penelitian serupa dari Indonesia yang dilakukan oleh Irwanto et al. (2020) juga menunjukkan bahwa membaca bacaan fiksi dapat meningkatkan empati seseorang. Dalam novel My Dark Vanessa karya Kate Elizabeth Russell, pembaca diajak mengikuti kisah hidup Vanessa Wye melalui sudut orang pertama. Teks naratif ini membuat pembaca tidak hanya sekadar mengetahui apa yang terjadi, tetapi turut merasakan kebingungan, kepasrahan, dan keterikatan emosional yang dialami korban.

Vanessa masih berusia 15 tahun saat ia pertama kali menjadi korban child grooming oleh guru di sekolah asramanya, Jacob Strane yang berusia 42 tahun. Vanessa versi remaja digambarkan sebagai sosok yang berada dalam kondisi sangat rentan. Vanessa sering merasa terasing, kehilangan arah, dan rendah diri. Kerentanan emosionalnya membuka celah bagi Strane untuk menjadikannya target grooming.

Strane tidak serta-merta langsung melakukan kekerasan kepada Vanessa, sebaliknya ia membangun relasi secara pelan dan bertahap dengan membangun kepercayaan, memvalidasi perasaan, memberi pujian, dan membuat dirinya seolah paling memahami Vanessa. Bagi Vanessa yang masih remaja, perhatian semacam ini terasa istimewa dan romantis, bukan manipulatif.

Meski Vanessa memahami bahwa hubungan mereka jelas terlarang, manipulasi yang terus-menerus membuatnya terjebak dalam keyakinan bahwa apa yang dialaminya adalah cinta. Keyakinan ini bahkan bertahan hingga Vanessa berusia 32 tahun, menunjukkan betapa dalam dan bertahannya dampak child grooming terhadap korban.

Child Grooming

Sejumlah kajian menyebutkan bahwa sebagian pelaku pelecehan seksual terhadap anak kerap melakukan tahap pendekatan atau “rayuan” sebelum melakukan kekerasan. Tahap ini, yang umumnya dikenal sebagai grooming, dipahami sebagai metode yang digunakan pelaku untuk memperoleh akses serta mempersiapkan calon korban agar bersikap patuh terhadap tindakan kekerasan yang akan dilakukan (Bennett & O’Donohue, 2014).

Helgheim dan Frøyland (2025) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa pelaku grooming umumnya menargetkan anak yang berada dalam kondisi rentan, seperti kurangnya pengawasan atau kebutuhan emosional sehingga memudahkan pelaku memperoleh akses tanpa menimbulkan kecurigaan. Akses ini sering diperoleh melalui peran-peran yang dekat dengan anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun institusi lain, yang memungkinkan pelaku tampil sebagai figur yang peduli dan dipercaya.

Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku menciptakan ketergantungan emosional secara bertahap, menormalisasikan komunikasi dan kontak seksual. Ketika batas-batas telah dilanggar, berbagai strategi digunakan untuk menjaga kerahasiaan dan mempertahankan relasi eksploitatif, termasuk manipulasi emosi, rasa malu, ancaman, atau imbalan.

Child grooming, Empati, dan Novel Fiksi

Novel fiksi dapat menawarkan ruang bagi pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandang korban. Pembaca dapat merasakan kebingungan, keterikatan korban dengan pelaku, serta memahami alasan-alasan korban kerap sulit keluar dari relasi tersebut.

Dengan demikian, membaca fiksi bukan hanya sekadar aktivitas hiburan saja, melainkan bisa dijadikan medium penting untuk membangun empati dan cara pandang yang lebih bijaksana terhadap korban kekerasan seksual, sepeti child grooming. Pembaca dapat melihat dan menyaksikan proses grooming yang tidak selalu terasa seperti paksaan, melainkan kerap hadir dalam bentuk kasih sayang yang menipu.

 

Penulis adalah lulusan jurnalistik yang gemar membaca novel fiksi, terutama topik perempuan dan anak.

 

Referensi:

Bennett, N., & O’Donohue, W. (2014). The Construct of Grooming in Child Sexual Abuse: Conceptual and Measurement Issues. Journal of Child Sexual Abuse, 23(8), 957–976. https://doi.org/10.1080/10538712.2014.960632

Hammond, C. (2022). Does reading fiction make us better people?. BBC News. https://www.bbc.com/future/article/20190523-does-reading-fiction-make-us-better-people

Helgheim, É. P. B., & Frøyland, L. R. (2025). Conceptualizing “grooming” in child sexual abuse: A scoping review of Scandinavian and non-Scandinavian research. Nordic Journal of Criminology, 26(2), 1–23. https://doi.org/10.18261/njc.26.2.7

 

Irwanto, K. A., Aditomo, A., & Natalya, L. (2020). “Why Fiction is Better than Reality”: The Influence of Reading Fiction Narrative on Empathy. ANIMA Indonesian Psychological Journal, 35(2). https://doi.org/10.24123/aipj.v35i2.2909

Rowe, D. B. (2018, July 23). The “novel” Approach: Using fiction to increase empathy. Virginia Libraries. https://virginialibrariesjournal.org/articles/10.21061/valib.v63i1.1474

Santi, E., Cebula, K., & McGeown, S. (2025). Reading and Empathy: Qualitative insights into adolescents’ exper

iences with fiction books. Literacy.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.