Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Perempuan, Kerja Sunyi dan Ketahanan Keluarga

Perempuan, Kerja Sunyi dan Ketahanan Keluarga

Perspektif Redaksi Jalastoria10 Februari 2026

Oleh: Risa Maulegi

Dari temuan di lapangan, dalam pendampingan berbasis rumah tangga di Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak bersama 800 KK keluarga, sekitar 62% perempuan tercatat sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Label yang sering kali menutup kenyataan bahwa banyak dari mereka juga bekerja di kebun, membantu usaha keluarga, atau menjalankan kegiatan ekonomi kecil. Di banyak rumah, kerja perempuan nyaris tak pernah benar-benar selesai, ia dimulai sebelum matahari naik dan berakhir paling malam.

Data keluarga yang ditemui menunjukkan sesuatu yang menarik, rencana aksi paling dominan yang dipilih keluarga adalah menabung. Bukan investasi besar, bukan memperbesar usaha, bukan pula mimpi yang terdengar muluk. Di balik pilihan ini, ada kerja panjang yang kerap dilakukan perempuan, yaitu mengatur pemasukan dengan pengeluaran, menyisihkan sisa belanja dan memastikan dapur tetap mengepul. Pilihan menabung sebagai rencana aksi keluarga mencerminkan kesadaran akan masa depan, tetapi juga keterbatasan ruang. Menabung menjadi strategi paling aman dalam situasi ketika penghasilan tidak menentu, akses modal terbatas dan keputusan ekonomi masih didominasi oleh struktur yang tidak sepenuhnya setara. Perempuan membaca risiko itu dengan sangat baik karena merekalah yang pertama kali berhadapan dengan kekurangan, dengan dapur yang kosong dan kebutuhan anak yang tak bisa menunggu.

Ketika keluarga menyebut aset sebagai potensi utama yang mereka miliki, kita jarang bertanya: siapa yang merawat aset itu setiap hari? Siapa yang memastikan kebun tidak terbengkalai, rumah tetap layak, hasil panen disimpan atau dijual pada waktu yang tepat? Di banyak kasus, jawabannya kembali pada perempuan. Namun kepemilikan dan keputusan atas aset itu sering kali tidak berada di tangan mereka. Kerja perempuan, dalam konteks ini, bukan sekadar soal kontribusi ekonomi. Ia adalah kerja ketahanan. Kerja untuk menjaga keluarga tetap bertahan hari ini dan esok hari.

Sayangnya, kerja semacam ini jarang terlihat sebagai fondasi pembangunan. Ia tidak masuk laporan pertumbuhan, tidak dihitung sebagai produktivitas, dan kerap luput dari kebijakan. Padahal, data yang ditemui juga menunjukkan bahwa usia perempuan berada dalam rentang produktif. Artinya, ada potensi besar yang sesungguhnya bisa berkembang lebih jauh, jika perempuan diberi ruang dalam pengambilan keputusan, pengelolaan aset dan strategi ekonomi keluarga. Ketahanan keluarga tidak akan pernah benar-benar kuat jika separuh dari penopangnya terus bekerja dalam sunyi.

Kisah Ibu Susmiaty: Menjaga Hidup dari Pagi ke Pagi

Pengalaman itu terasa sangat nyata ketika saya mendengar langsung cerita Ibu Susmiaty, perempuan berusia 68 tahun. Dari pagi ke pagi, hidupnya adalah rangkaian kerja yang nyaris tak pernah selesai. Ia bangun lebih awal, mengawali hari dengan doa dan ucapan syukur, lalu menyiapkan sarapan sederhana, teh hangat, kasbi, nasi goreng, atau apa pun yang tersedia. Setelah membersihkan peralatan makan, ia menggenggam noken dan pisau, berjalan ke kebun, membawa pulang sayur, ubi, pisang, pinang, atau sirih, apa saja yang bisa dijual. Pulang dari kebun, ia kembali merapikan jualan, memasak makan siang, lalu bersiap ke pasar dengan menumpang taksi.

Di sana, ia mengatur hasil kebun atau ikan yang dijual dan dari hasil itu pula ia membeli kebutuhan makan keluarga. Sepulang dari pasar, pekerjaan belum usai, makan malam harus tetap tersedia. Malam hari diakhiri dengan makan bersama, berbagi cerita dengan keluarga, lalu doa sebelum tidur. Dalam seminggu, ia berjualan dua hingga tiga kali. Di hari-hari tanpa pergi ke pasar, ia menjaga rumah, mencuci pakaian, atau membantu proses pasca panen coklat seperti menjemur dan mengangkat hasil panen.

Cerita Ibu Susmiaty memperlihatkan bahwa kerja perempuan tidak pernah berdiri sebagai satu aktivitas tunggal. Ia merangkap peran domestik, ekonomi, sosial, dan spiritual dalam satu tarikan nafas. Tidak ada jam kerja yang jelas, tidak ada kontrak, tidak ada pengakuan formal. Namun dari kerja yang sunyi inilah kehidupan keluarga berjalan, kebutuhan anak terpenuhi, dan masa depan perlahan disiapkan.

Ketika keluarga menabung, mengelola aset, dan bertahan dalam ketidakpastian, sering kali fondasinya adalah ritme kerja seperti yang dijalani Ibu Susmiaty, kerja yang dilakukan dengan kesenyapan, tetapi menyimpan daya tahan yang luar biasa. Kerja itu jarang diberi nama. Ia tidak masuk laporan pertumbuhan dan tidak dihitung sebagai produktivitas. Kondisi ini sejalan dengan laporan UN Women (2019) yang menunjukkan bahwa kerja perawatan dan domestik perempuan sebagian besar tidak dibayar dan tidak tercatat dalam statistik ekonomi resmi.

Sumber rujukan:

UN Women. Progress of the World’s Women 2019-2020: Families in a Changing World.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.