Oleh: Fikri Tri Pradana
Ramadan sebentar lagi tiba, dan Idul Fitri akan kembali menjadi momen berkumpul bersama keluarga besar. Di tengah suasana silaturahmi yang hangat, biasanya ada obrolan ringan yang hampir selalu muncul, terutama bagi mereka yang belum menikah: “kapan nyusul?” Pertanyaan ini terdengar santai dan sering dimaklumi sebagai basa-basi, tetapi tanpa disadari mencerminkan cara kita memandang pernikahan sebagai pencapaian hidup yang ideal.
Pada momen Idul Fitri, status menikah atau belum seolah menjadi identitas yang paling mudah dikenali. Seakan-akan hidup seseorang baru dianggap “lengkap” ketika sudah menikah. Padahal, tidak semua orang memaknai kebahagiaan dan keberhasilan hidup dengan cara yang sama. Ada yang masih memilih fokus memperbaiki diri, menata karier, atau menjalani hidup tanpa relasi romantis, dan pilihan itu sama sahnya dengan memilih menikah.
Menikah dan Tidak Menikah dalam Perspektif yang Beragam
Pernikahan sering dipahami sebagai salah satu tahapan penting dalam kehidupan orang dewasa. Bagi sebagian orang, pernikahan menjadi ruang untuk membangun komitmen, berbagi tanggung jawab, dan menata kehidupan bersama. Namun, bagi sebagian lainnya, pernikahan bukanlah satu-satunya jalan untuk menjalani hidup yang bermakna. Ada individu yang memilih menunda atau tidak menikah karena pertimbangan pribadi, kesiapan mental, maupun kondisi hidup tertentu. Perbedaan pilihan ini menunjukkan bahwa makna kedewasaan dan kebahagiaan dapat dipahami secara beragam, bergantung pada nilai dan pengalaman masing-masing individu.
Bella DePaulo dan Pilihan Hidup Tanpa Menikah
Salah satu contoh yang menantang cara pandang tersebut adalah Bella DePaulo, ilmuwan sosial dan penulis asal Amerika Serikat. Di usianya yang sudah 71 Tahun, DePaulo menjalani hidup tanpa pernah menikah. Dalam wawancara yang terbit pada Agustus 2024, ia menyatakan secara terbuka bahwa dirinya memang tidak pernah memiliki keinginan untuk menikah.
Bagi DePaulo, hidup tanpa pasangan bukanlah hasil dari kegagalan relasi atau trauma masa lalu. Ia menyebut dirinya sebagai single at heart, yakni individu yang merasa paling autentik ketika hidup mandiri dan tidak menjadikan hubungan romantis sebagai pusat kehidupannya.
Hidup tanpa menikah sering disalahartikan sebagai bentuk menghindari komitmen. Namun, pengalaman DePaulo menunjukkan bahwa pilihan ini justru lahir dari kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Tanpa pernikahan, ia memiliki keleluasaan untuk mengatur waktu, pekerjaan, dan arah hidupnya secara mandiri.
Keleluasaan ini bukan berarti hidupnya terputus dari orang lain. DePaulo tetap menjalin relasi sosial yang kuat dengan teman, keluarga, dan lingkungan profesionalnya. Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan emosional tidak hanya bersumber dari pernikahan, tetapi juga dari hubungan yang dipilih dan dirawat secara sadar.
Anggapan bahwa orang yang tidak menikah pasti kesepian masih cukup kuat. Padahal, kesendirian dan kesepian merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang bisa hidup berpasangan tetapi merasa hampa, sementara yang lain hidup sendiri namun merasa utuh dan terhubung.
DePaulo menegaskan bahwa ia menikmati kesendirian tanpa merasa terisolasi. Baginya, kesendirian justru memberi ruang untuk refleksi dan otonomi. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa kualitas relasi jauh lebih penting daripada sekadar status relasi.
Meski hidupnya stabil dan produktif, DePaulo tetap menghadapi tekanan sosial. Pertanyaan tentang pernikahan terus muncul, seolah hidup tanpa menikah adalah sesuatu yang perlu dijelaskan. Situasi ini menunjukkan adanya bias terhadap kehidupan single, yang oleh DePaulo disebut sebagai singlism.
Bias tersebut membuat pernikahan kerap diperlakukan sebagai norma moral, bukan sekadar pilihan hidup. Mereka yang menikah jarang diminta pembenaran, sementara mereka yang tidak menikah sering merasa perlu membuktikan bahwa hidupnya tetap bermakna.
Produktivitas dan Kontribusi di Luar Pernikahan
Kisah hidup Bella DePaulo juga membantah anggapan bahwa pernikahan merupakan syarat stabilitas dan produktivitas. Sepanjang hidupnya, ia aktif menulis buku, artikel ilmiah, serta berkontribusi dalam diskursus akademik dan publik. Di usia lanjut, ia tetap produktif dan berpengaruh.
Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi sosial tidak ditentukan oleh status pernikahan, melainkan oleh kesempatan, kebebasan, dan pilihan hidup yang dijalani secara sadar.
Meninjau Ulang Makna Hidup yang “Lengkap”
Kehidupan Bella DePaulo mengajak kita meninjau ulang makna hidup yang selama ini dianggap lengkap. Kelengkapan tidak selalu berarti mengikuti satu jalur hidup yang sama, melainkan berkaitan dengan kesesuaian antara nilai personal dan cara hidup yang dipilih.
Bagi sebagian orang, pernikahan adalah sumber makna. Bagi yang lain, hidup tanpa menikah justru menjadi jalan untuk hidup lebih jujur terhadap diri sendiri. Keduanya sama-sama valid. Di tengah standar sosial yang masih kuat menempatkan pernikahan sebagai tujuan utama, kisah Bella DePaulo menjadi pengingat bahwa tidak ada satu pola hidup yang berlaku untuk semua orang. Mungkin, alih-alih terus menanyakan “kapan menikah?”, kita bisa mulai memberi ruang untuk memahami dan menghormati pilihan hidup yang berbeda, selama pilihan itu dijalani dengan sadar dan bertanggung jawab
Penulis merupakan mahasiswa ilmu komunikasi
Sumber :
Business Insider (Agustus 2024)
Bella DePaulo (2006)
Singled Out: How Singles Are Stereotyped, Stigmatized, and Ignored.
University of California – News & Research

