Oleh: Desi Fajar Permatasari
Perselingkuhan adalah kata yang berat, membawa serta rasa sakit, perasaan malu, dan pengkhianatan yang mendalam. Biasanya, fokus kita akan langsung tertuju pada satu orang, perempuan yang menjadi korban dari janji pernikahan yang dikhianati.
Namun, ketika pihak ketiga yang masuk ke dalam hubungan itu juga seorang perempuan, lukanya terasa jauh lebih rumit. Ini menciptakan sebuah dilema emosional. Bagaimana mungkin seorang perempuan, yang tahu betul rasanya sakit hati, bisa menjadi penyebab kehancuran rumah tangga perempuan lain?
Hal ini menciptakan sebuah kondisi getir, dua perempuan (yang seharusnya memiliki solidaritas) terjebak dalam pusaran konflik yang dipicu oleh satu laki-laki, sebuah skenario yang meninggalkan luka tak tersembuhkan pada salah satu maupun kedua belah pihak.
Pihak Ketiga Bukan Hanya ‘Jahat’, Tapi Mungkin Juga ‘Patah’
Di mata publik, perempuan pihak ketiga seringkali langsung divonis sebagai ‘perusak’ atau ‘pelakor’ yang penuh niat jahat. Stigma ini begitu kuat hingga menutupi sisi manusiawinya.
Padahal, dalam banyak kasus, pilihan untuk terlibat dalam hubungan terlarang bisa datang dari tempat yang rumit:
- Pencarian Validasi dan Keutuhan: Ada kalanya perempuan pihak ketiga berada dalam kondisi emosional yang rentan, mencari kasih sayang, pengakuan, atau validasi yang mungkin tidak ia temukan dalam hidupnya sendiri. Keterlibatan ini, meskipun merusak, bisa jadi berakar dari kekosongan pribadi.
- Dinamika Kekuasaan dan Manipulasi: Tidak jarang, perempuan pihak ketiga juga menjadi korban dari manipulasi atau gaslighting laki-laki yang berpasangan, yang secara persuasif meremehkan ikatan pernikahannya demi membenarkan perselingkuhan.
- Penting untuk digarisbawahi, apa pun kekosongan atau luka yang dirasakan oleh pihak ketiga, proses menyembuhkan dan mencari keutuhan diri sendiri tidak seharusnya dilakukan dengan cara menyakiti dan merusak ikatan yang dimiliki oleh perempuan lain (istri sah).
Tentu saja, memahami alasan ini tidak berarti membenarkan tindakannya. Namun, dengan melihatnya sebagai manusia yang kompleks (bukan sekadar tokoh jahat) kita bisa lebih memahami alasan mengapa lingkaran perselingkuhan ini terus berulang.
Korban Sejati, Perempuan yang Harus Menata Kembali Puing-Puing
Di sisi lain, perempuan yang menjadi korban perselingkuhan (istri) harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan, pengkhianatan ganda. Ia tidak hanya dikhianati oleh pasangannya, tetapi juga merasa ‘diserang’ oleh sesama perempuan.
- Trauma dan Kerentanan: Rasa sakit ini melampaui patah hati. Ia meruntuhkan rasa aman, harga diri, dan keyakinan akan masa depan. Sering kali, perempuan korban menghadapi stigma bahwa ‘ada yang salah’ pada dirinya sehingga pasangannya mencari perempuan lain.
- Beban Ganda yang Mengasingkan: Beban untuk mempertahankan martabat, mengelola emosi, dan juga pengasuhan anak ditimpakan di pundaknya, sementara perhatian publik sering kali lebih tertarik pada drama penghakiman pihak ketiga daripada penyembuhan korban.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa perselingkuhan yang melibatkan perempuan pihak ketiga adalah salah satu bentuk konflik yang paling melukai solidaritas perempuan, memecah belah alih-alih menyatukan.
Mari Geser Fokus dari Drama Menuju Solusi
Untuk keluar dari siklus penghakiman dan kepahitan ini, kita perlu mendorong sebuah diskursus yang lebih sehat:
- Prioritaskan Penyembuhan Korban: Masyarakat, termasuk media sosial, harusnya mengalihkan fokus dari penghakiman publik pihak ketiga menjadi dukungan nyata bagi perempuan sebagai korban agar mereka dapat menjalani proses penyembuhan dengan tenang.
- Tuntut Tanggung Jawab Laki-Laki: Ingatlah selalu bahwa pihak yang melanggar janji adalah orang yang sudah berikrar. Dialah yang paling bertanggung jawab. Jangan biarkan fokus publik hanya tertuju pada perempuan pihak ketiga, sehingga laki-laki merasa bebas dari kesalahan.
- Hentikan Perang Sesama Perempuan: Stigma ‘pelakor’ hanya menciptakan konflik antar perempuan. Kita perlu berhenti untuk melihat sesama perempuan sebagai musuh dalam perebutan laki-laki. Selain itu, kita harus menghentikan kebiasaan membandingkan secara publik mana yang lebih baik antara perempuan. Tindakan membandingkan ini seringkali justru membuat perempuan (sebagai korban) semakin terluka. Mari kita fokuskan dukungan penuh pada pemulihan korban.
Pada akhirnya, perselingkuhan adalah cermin yang menampakkan kerapuhan komitmen dan kerumitan emosi. Dengan memahami bahwa baik pihak ketiga maupun pihak yang dikorbankan adalah perempuan yang sama-sama rentan dalam sistem relasi yang kompleks, kita berharap dapat merajut kembali hati yang patah dengan empati dan kebenaran yang bertanggung jawab.

