Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Film»Pangku: Tubuh yang Bekerja, Tubuh yang Bertahan

Pangku: Tubuh yang Bekerja, Tubuh yang Bertahan

Film Redaksi Jalastoria12 Januari 2026

Oleh: Stella Anjani

Saya menonton Pangku (2025) dengan perasaan yang perlahan memberat. Ini akibat pilihan cara Reza Rahadian, sang sutradara, untuk melihat perempuan bukan sebagai tubuh yang dieksploitasi, melainkan tubuh yang bekerja, berkeringat, hening, dan bertahan. Tidak banyak film Indonesia yang berani mengisahkan pekerjaan rentan yang dilakukan oleh perempuan tanpa menambah sensasi, romantisasi, atau tatapan laki-laki yang mengintai dari balik kamera (voyeurism). Pangku melangkah hati-hati, seolah sadar betapa tipis batas antara representasi dan objektifikasi.

Sejak awal film mulai, saya memperhatikan bagaimana Reza menahan kamera agar tidak menjadi mata laki-laki. Adegan-adegan ketika Tika mulai jago pangku, atau saat rekannya melayani teman Hadi, adalah momen yang rawan menjadi tontonan voyeuristik. Namun yang muncul justru kebalikan. Reza menempatkan penonton sebagai saksi, bukan pengintip maupun hakim. Penonton melihat bukan sensualitas, melainkan kerja. Bagaimana tubuh letih, napas berat, dan keringat memadat di kulit. Seperti dokumenter yang enggan menilai, film ini pun memilih show, not tell, membiarkan keheningan mengisi ruang yang biasanya dikuasai dialog. Justru pilihan ini membuat ketidakadilan terasa nyaring.

 

Ketidakadilan Bekerja Diam-Diam

Di titik-titik tertentu saya merasa film ini sedang menyalakan cermin di hadapan penonton. Cermin itu bukan untuk melihat Tika, tetapi melihat dunia yang membuat Tika demikian. Setelah waktu terasa berlalu panjang dan judul Pangku muncul di pertengahan film, saya sempat menahan napas. Seolah-olah film sedang berkata “Ya, hidup perempuan memang seperti ini”. Berat, melelahkan. Bahkan ketika tidak diperlihatkan secara dramatis, tetap saja kuat terasa tidak adil. Apa yang membuat saya lelah bukan sosok Tika, tetapi hidup minim pilihan yang menghimpitnya.

Saya sempat merasakan pilu yang dalam, terlebih mengingat saya juga seorang perempuan pekerja. Kenyataannya, bahkan ketika sutradara laki-laki berusaha setulus mungkin menghindari bingkai perempuan di posisi rentan, struktur itu tetap ada. Mengungkung, menekan, sekaligus membatasi pilihan.

Pangku, bagi saya, mengingatkan bahwa ketidakadilan tidak selalu tampak dari teriakan, pelecehan, atau kekerasan gamblang. Ia turut hadir melalui keheningan, dalam repetisi harian, dalam kepasrahan “begitulah hidup”.

 

Menolak Fantasi “Laki-Laki Penyelamat”

Saya sempat menebak-nebak apakah film ini akan bermuara pada imajinasi usang, yaitu perempuan yang hidup susah lalu menemukan laki-laki yang “menyelamatkan”. Saya kira film ini hendak mengajak penonton berfantasi akan laki-laki ideal yang hadir sebagai perpanjangan tangan Tuhan, penebus segala malu, beban, dan jalan keluar dari kesulitan ekonomi. Untung Reza menolak jebakan itu.

Hadi, yang sekilas tampil seperti penyelamat, tidak dibiarkan menjadi pahlawan. Ya Hadi hadir. Ya Hadi membantu. Hadi pun tidak bersikap “mengambil keuntungan dalam kesempitan” ketika berhasil masuk ke hidup Tika. Paling penting, Hadi tidak menjadi jawaban tunggal atas hidup Tika. Pangku menolak menulis ulang kisah lama bahwa keselamatan perempuan selalu datang dari laki-laki baik hati yang kebetulan lewat.

Perbaikan hidup, bagi Tika, tetap mengandung risiko. Laki-laki baik tidak menghapus bahaya. Pilihan yang “benar” pun menambah luka. Film ini seperti berkata bahwa perempuan bisa mendapat kesempatan untuk bernapas, tetapi tidak ada jaminan dunia akan tiba-tiba menjadi lebih ramah. Itu, bagi saya, adalah salah satu keputusan estetis paling penting dalam Pangku.

Satu hal yang terus mengusik saya paska menonton ada di bagian akhir film. Ketika surat dari Bayu dibacakan, saya mendadak terlempar keluar dari ruang dunia Pangku. Kalimat-kalimatnya terlalu rapi, terlalu sentimental, terasa terlalu seperti surat dari Reza kepada ibunya bukan dari Bayu kepada Tika. Saya menduga ada beberapa hal yang membuat adegan itu goyah. Pertama, budaya menulis tidak pernah hadir sepanjang film. Tiba-tiba muncul sebagai perangkat penutup, membuatnya terasa tidak organik.

Kedua, rasa terima kasih Bayu mengaburkan kemarahan kecilnya sebagai anak yang pernah menolak pekerjaan sang ibu. Ketiga, penggunaan bahasa Indonesia alih-alih Sunda menarik saya keluar dari konteks, seolah film tiba-tiba melayang dari ruang lokal menjadi ruang universal yang generik.

Surat itu menjahit kisah, tapi benangnya terasa milik orang lain. Bukan suara Bayu, bukan pula gema hidup Tika. Ia terdengar seperti pesan pribadi yang diselipkan dalam amplop yang bukan miliknya. Tetapi justru di situ letak luka yang mungkin ingin ditinggalkan film ini, yaitu tidak semua kisah perempuan rapi ujungnya. Tidak semua perjuangan berakhir pada resolusi yang memuaskan. Tidak semua kerja keras dihargai dengan cara yang layak.

Tika, seperti banyak perempuan lain, tidak diberi jawaban yang utuh. Ia hanya diberi waktu untuk terus hidup. Dan hidup, seperti yang ditunjukkan film ini, tidak selalu memiliki penutup yang manis, logis, atau adil.

 

Pangku: Merayakan Keheningan, Mengakui Ketimpangan

Hal yang paling saya ingat dari Pangku bukanlah pekerjaan pangku itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa tubuh perempuan di film ini akhirnya mendapatkan posisi baru. Tubuh perempuan bukan objek, bukan fetis, bukan misteri yang harus diselamatkan. Tetapi tubuh yang bekerja, tubuh yang bertahan. Tubuh yang memikul dunia sendirian karena tidak ada yang akan melakukannya untuk mereka.

Reza Rahadian bisa saja melakukan pada cara paling mudah dalam membingkai perempuan dengan menghaluskannya, mengasihani mereka, atau menjadikan mereka cermin bagi perkembangan batin laki-laki. Namun ia memilih jalan yang lebih sulit, membuat kamera diam, mengamati, memberi ruang bagi Tika untuk menjadi subjek tanpa harus menjelaskan dirinya.

Namun pada akhirnya Pangku juga menunjukkan bahwa bahkan niat baik tidak selalu cukup untuk menandingi struktur ketimpangan yang sudah berurat berakar. Perempuan tetap membawa beban lebih berat. Perempuan tetap memikul risiko lebih banyak. Perempuan tetap berhadapan dengan dunia yang membiarkan mereka bekerja sampai lelah tanpa menjamin keselamatan mereka.

Dan mungkin itulah refleksi paling jujur dari film ini bahwa keadilan bagi perempuan bukan soal menemukan laki-laki yang tepat, tetapi soal dunia yang berhenti bergantung pada tubuh perempuan untuk tetap berjalan.

 

Penulis adalah seorang pekerja kemanusiaan dan alumni kajian gender

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Ketika Pengguna Jilbab Kini Menjadi Mayoritas

28 April 2026

Kesadaran Mengenal Identitas Diri Sebagai Perempuan

12 Februari 2026

Perlawanan Perempuan pada Takdir

12 Februari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.