Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Pembangun di Atas Tubuh dan Ruang Perempuan

Pembangun di Atas Tubuh dan Ruang Perempuan

Perspektif Redaksi Jalastoria14 April 2026

Oleh: Indo Alang

Mengapa pembangunan smelter nikel di Sulawesi justru melahirkan kerentanan baru bagi perempuan di wilayah lingkar industri?

Pertanyaan ini menjadi pintu masuk penting untuk membaca ulang kebijakan hilirisasi nikel yang selama satu dekade terakhir dipromosikan sebagai tonggak kemajuan ekonomi nasional. Pemerintah Indonesia mendorong pembangunan smelter sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya untuk industri baja dan baterai kendaraan listrik. Kebijakan hilirisasi mineral yang dijalankan pemerintah Indonesia sejak pertengahan dekade 2010-an menandai perubahan besar dalam tata kelola sumber daya alam nasional. Melalui pelarangan ekspor bijih mentah dan percepatan pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri, negara berupaya meningkatkan nilai tambah komoditas strategis, terutama nikel, yang menjadi bahan baku utama industri baja dan baterai kendaraan listrik.

Dalam peta kebijakan ini, Pulau Sulawesi menempati posisi sentral karena cadangan nikel lateritnya yang melimpah. Berbagai kawasan industri nikel dan smelter kemudian tumbuh pesat di wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan, seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kawasan industri nikel Kolaka, dan Kawasan Industri Bantaeng. Narasi resmi pembangunan sering menempatkan smelter sebagai simbol kemajuan, industrialisasi, dan transisi energi global. Namun, di balik retorika pertumbuhan ekonomi dan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto, muncul kenyataan sosial-ekologis yang jauh lebih kompleks. Operasional smelter tidak hanya mengubah lanskap fisik melalui pembukaan lahan, deforestasi, dan pembangunan infrastruktur besar-besaran, tetapi juga membentuk ulang relasi sosial, pola mata pencaharian, dan struktur kerentanan masyarakat lokal.

Sejak fase awal pembangunan dan operasional smelter, berbagai laporan masyarakat dan organisasi masyarakat sipil menunjukkan terjadinya degradasi lingkungan di wilayah lingkar industri nikel. Pencemaran udara akibat debu industri, limbah cair yang mencemari sungai dan laut, serta sedimentasi pesisir akibat aktivitas pertambangan dan reklamasi telah mengganggu keseimbangan ekosistem lokal. Di kawasan pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, masyarakat melaporkan penurunan kualitas perairan laut yang berdampak langsung pada budidaya rumput laut dan hasil tangkapan nelayan. Sementara di wilayah daratan Sulawesi Tengah, deforestasi dan perubahan bentang alam memperburuk risiko banjir serta krisis air bersih.

Kerusakan lingkungan ini tidak berdampak secara netral. Dalam banyak komunitas, perempuan memegang peran sentral dalam pengelolaan air rumah tangga, kesehatan keluarga, dan ekonomi subsisten berbasis sumber daya alam. Ketika sumber air bersih tercemar atau mengering, perempuan harus menempuh jarak lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan domestik. Ketika hasil laut dan pertanian menurun, perempuan kehilangan sumber pendapatan informal yang selama ini menopang ketahanan ekonomi keluarga. Dengan demikian, degradasi ekologis akibat smelter secara langsung memperbesar beban kerja reproduktif dan produktif perempuan. Teori seperti Ekofeminisme turut menyoal situasi ini. Memulai dan berangkat dari asumsi bahwa penindasan terhadap alam dan penindasan terhadap perempuan bersumber dari logika yang sama, yaitu patriarki dan kapitalisme. Vandana Shiva (1988) dan Maria Mies (1993) menjelaskan bahwa sistem pembangunan modern cenderung mengeksploitasi alam sebagai objek dan pada saat yang sama meminggirkan pengetahuan serta peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Dalam konteks Sulawesi, perempuan memiliki keterikatan langsung dengan lingkungan melalui peran mereka sebagai pengelola air, pangan, kesehatan keluarga, serta pelaku ekonomi subsisten seperti petani rumput laut dan pengolah hasil laut. Ketika lingkungan rusak akibat aktivitas smelter, perempuan menjadi kelompok yang paling pertama dan paling berat merasakan dampaknya. Namun, pengalaman ekologis perempuan ini sering tidak diakui sebagai pengetahuan yang sah dalam perencanaan pembangunan. Ekofeminisme membantu membaca situasi ini sebagai bentuk kekerasan struktural, di mana tubuh perempuan dan alam sama-sama diposisikan sebagai objek yang dapat dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi.

Dalam perspektif keadilan lingkungan, situasi ini menunjukkan bagaimana beban ekologis pembangunan ditanggung oleh kelompok yang paling minim kontribusinya terhadap kerusakan tersebut. Perempuan berada di persimpangan krisis ini. Tanpa integrasi perspektif keadilan gender dan keberlanjutan lingkungan, hilirisasi nikel berisiko mereproduksi pola lama ekstraktivisme, di mana pembangunan nasional dibayar mahal oleh tubuh, ruang hidup, dan masa depan perempuan di wilayah tambang. Dengan demikian, agenda industrialisasi nikel di Sulawesi menuntut evaluasi kritis yang tidak hanya mengukur keberhasilan melalui angka investasi dan produksi, tetapi juga melalui keadilan sosial dan ekologis. Mengakui pengalaman perempuan sebagai subjek terdampak sekaligus agen pengetahuan lokal merupakan langkah penting untuk membangun model pembangunan yang lebih adil, berkelanjutan, dan manusiawi.

DAFTAR PUSTAKA

Asian Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA). 2023. Nickel Mining and Smelter Expansion in Indonesia: Environmental and Social Risks.

Asian Energy Economics and Financial Analysis (AEER). 2022. Dampak Industri Nikel terhadap Kehidupan Perempuan di Lingkar Smelter Morowali. Jakarta: AEER.

Blaikie, P., & Brookfield, H. 1987. Land Degradation and Society. London: Methuen.

CERAH (Center of Economic and Law Studies for Human Rights). 2023. Nikel untuk Dunia, Polusi untuk Rakyat. Jakarta.

ESDM Republik Indonesia. 2021. Kajian Dampak Pembangunan Smelter di Kawasan Ekonomi Khusus. Jakarta: Kementerian ESDM.

IUCN NL. 2023. Nickel Rush in Indonesia: Environmental and Social Consequences. Amsterdam.

Kabeer, Naila. 1994. Reversed Realities: Gender Hierarchies in Development Thought. London: Verso.

Mies, Maria & Shiva, Vandana. 1993. Ecofeminism. London: Zed Books.

Robbins, Paul. 2012. Political Ecology: A Critical Introduction. Oxford: Wiley-Blackwell.

Shiva, Vandana. 1988. Staying Alive: Women, Ecology and Development. London: Zed Books.

WALHI. 2022. Pernyataan Resmi Dampak Industri Nikel terhadap Lingkungan dan Masyarakat Sulawesi. Jakarta.

World Bank. 2020. Minerals for Climate Action: The Mineral Intensity of the Clean Energy Transition. Washington DC.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.