Dalam rangka memperingati semangat perjuangan R.A. Kartini yang jatuh setiap 21 April, JalaStoria menghadirkan sebuah inisiatif literasi yang inklusif dan kolaboratif melalui proyek buku bertajuk “Belajar Gender dari Kartini.” Program ini menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk merefleksikan kembali pemikiran Kartini dalam konteks kekinian, terutama terkait isu-isu gender yang masih relevan hingga hari ini.
Proyek ini dirancang sebagai buku kumpulan esai yang tidak hanya mengangkat sosok Kartini sebagai simbol emansipasi, tetapi juga mengajak para penulis untuk menggali lebih dalam bagaimana gagasan-gagasannya dapat diterjemahkan dalam realitas sosial masa kini. Dalam banyak suratnya, Kartini telah menyinggung pentingnya pendidikan, kebebasan berpikir, serta kesetaraan bagi perempuan—nilai-nilai yang hingga kini masih menjadi perjuangan di berbagai lapisan masyarakat.
Melalui program ini, JalaStoria membuka kesempatan bagi 20 penulis terpilih untuk berkontribusi dalam buku tersebut. Peserta diharapkan mampu menghadirkan tulisan yang tidak hanya reflektif, tetapi juga berbasis data dan analisis yang kuat. Hal ini penting agar narasi yang dibangun tidak sekadar opini, melainkan memiliki landasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun sosial.
Adapun beberapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh calon penulis antara lain: tulisan harus orisinal dan belum pernah dipublikasikan di media manapun, berbentuk esai dengan pendekatan analitis, serta memiliki panjang minimal 600 kata. Selain itu, karya yang dikirimkan tidak boleh mengandung unsur SARA dan harus mengikuti format penulisan yang telah ditentukan, yakni menggunakan Microsoft Word dengan font Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5, dan perataan teks justify.
Proses pengumpulan karya dibuka dalam waktu terbatas, yakni mulai tanggal 20 hingga 28 April 2026. Seluruh karya dapat dikirimkan melalui email ke [email protected] dengan subjek “PROJECT BUKU KARTINI”. Dalam kurun waktu tersebut, JalaStoria akan menyeleksi tulisan terbaik yang dinilai memiliki kedalaman analisis, relevansi tema, serta kekuatan narasi.
Sebagai bentuk apresiasi, para penulis yang terpilih akan mendapatkan berbagai manfaat, di antaranya publikasi karya dalam bentuk e-book, piagam penghargaan, serta souvenir dari penyelenggara. Lebih dari itu, para kontributor juga berkesempatan untuk menjadi penulis tetap di platform JalaStoria, membuka peluang yang lebih luas untuk terus berkarya dan menyuarakan isu-isu sosial melalui tulisan.
Inisiatif ini tidak hanya menjadi ajang menulis semata, tetapi juga merupakan bagian dari gerakan literasi gender yang lebih besar. Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan di Indonesia, mulai dari ketimpangan akses pendidikan, diskriminasi di dunia kerja, hingga kekerasan berbasis gender. Ruang-ruang seperti ini menjadi penting untuk memperkuat kesadaran kolektif.
Dengan mengusung semangat Kartini, JalaStoria mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga melanjutkan perjuangan melalui medium yang relevan dengan zaman, yakni tulisan. Sebab, sebagaimana Kartini pernah menyuarakan gagasannya melalui surat-surat yang kini abadi, generasi masa kini pun memiliki peluang yang sama untuk meninggalkan jejak pemikiran melalui karya tulis.
Melalui proyek “Belajar Gender dari Kartini,” diharapkan lahir perspektif-perspektif baru yang kritis, inklusif, dan mampu mendorong perubahan sosial. Ini adalah momentum bagi siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap isu gender untuk ambil bagian, menyuarakan gagasan, dan menjadi bagian dari sejarah yang terus ditulis.

