Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Ragam»Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

Ragam Redaksi Jalastoria9 Mei 2026

Oleh: Laurensia Junita Della*

Di Indonesia, kita terbiasa dengan fakta tentang perempuan yang harus memakai hijab jika dia adalah seorang muslim. Namun, pernahkah kalian berpikir tentang suatu tempat dimana para perempuan tak perlu menutupi diri mereka, sedangkan para laki-laki melakukannya? Di Suku Tuareg, kalian akan menemukan pemandangan seperti itu.

Sejarah Suku Tuareg

Secara historis, suku Tuareg adalah kelompok etnis nomaden yang mulai mendiami jantung gurun Sahara, Afrika. Namun jangan salah. Meski disebut suku nomaden, mereka memiliki warisan pengetahuan ekologi yang mendalam. Suku Tuareg memiliki pakaian tradisional yang didominasi oleh warna indigo. Pewarna alami yang luntur ke kulit anggota suku membuat mereka kerap pula dijuluki sebagai “Bangsa Biru dari Sahara” atau “Orang Biru.” Untuk penghidupan sehari-hari, mereka sangat bergantung pada penggembalaan ternak. Mereka tinggal dalam tenda-tenda yang terbuat dari kulit hewan atau tikar tenun.

Sistem Matrilineal dan Berbagai Hak Istimewa Perempuan

Salah satu yang paling menonjol adalah sistem matrilineal mereka. Garis keturunan ditarik dari pihak ibu. Perempuan memiliki status sosial yang tinggi daripada laki-laki. Perempuan di sana memiliki hak milik atas tenda dan ternak. Selain itu, mereka berperan penting dalam mengelola pendidikan keluarga. Sebagai penjaga tradisi lisan, tingkat melek huruf di kalangan perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Mereka mewarisi pengetahuan pengobatan herbal dan magis lewat lagu-lagu ritual dan cerita rakyat (imayen).

Mereka memberikan penghargaan yang tinggi terhadap seni dan sastra. Sebelum menikah, para laki-laki akan menulis puisi yang indah untuk memikat perempuan. Perempuan juga akan membuat puisi balasan untuk para laki-laki. Nantinya, perempuan akan memilih laki-laki mana yang ingin mereka nikahi.

Hubungan seksual sebelum menikah juga bukan hal yang tabu di sana. Perempuan bebas melakukan hubungan seksual dengan laki-laki di tenda saat malam hari, sesuai dengan tradisi setempat. Laki-laki biasanya akan mendatangi tenda, menghabiskan malam bersama perempuan, lalu pergi sebelum Matahari terbit dan sebelum diketahui anggota suku yang lain.

Kebanyakan perempuan di sana hidup berpasangan dengan cara monogami. Mereka akan lebih memilih untuk bercerai daripada menerima poligami, walaupun hukum Islam mengizinkannya. Hebatnya, saya tidak menemukan adanya catatan yang merekam praktik poliandri di kalangan suku Tuareg. Perceraian pun bukan suatu hal yang tabu di sana. Justru, banyak perceraian yang dirayakan dengan pesta perceraian. Ini sekaligus menandakan bahwa mereka siap untuk menikah lagi, atau sekedar merayakan kebebasan yang mereka dapatkan kembali.

Dalam kasus perceraian, perempuan sangat berhak untuk mempertahankan tendanya. Mereka bahkan dapat mengusir mantan suaminya dari tenda tersebut. Selain itu, ada tradisi pewarisan ternak khusus yang disebut akh hudderen. Melalui tradisi ini, hewan ternak diwariskan secara khusus kepada anak perempuan dan keponakan perempuan untuk menjamin kemandirian ekonomi mereka.

Keunikan Budaya Berpakaian dan Norma Kesopanan Suku Tuareg

Salah satu ciri paling unik dari Suku Tuareg adalah penggunaan Tagelmust pada laki-laki. Tagelmust adalah semacam cadar atau penutup kepala. Dalam budaya Tuareg, justru laki-laki yang menutup kepala mereka, sedangkan para perempuan lebih bebas menampakkan wajah.

Pemuda Suku Tuareg hanya boleh memperlihatkan mata dan mulut mereka di hadapan laki-laki lebih tua atau yang segenerasi dengan ayah mereka. Bahkan, mereka tidak berani menatap langsung mertua mereka. Mereka memalingkan kepala dan menjawab singkat apabila ditanya. Juga sangat tabu apabila laki-laki makan di depan perempuan yang bukan pasangannya, termasuk ibu mertua.

Aturan kesopanan di sana sangat kompleks dan menyesuaikan dengan jenis kelamin, usia, dan kedudukan orang yang terlibat. Tetapi, terlepas dari itu, aturan bercadar pada laki-laki didasarkan oleh beberapa versi cerita yang berbeda. Salah satu versi mengatakan bahwa para laki-laki menutupi kepala mereka karena sistem matrilineal memberikan status sosial perempuan yang lebih bebas dan aktif dalam ruang publik. Itu yang membuat para perempuan lebih bebas dalam menampakkan wajah mereka.

Versi lain menyebutkan bahwa setelah kalah dalam sebuah pertempuran, para perempuan melemparkan cadar mereka dan menyuruh laki-laki memakainya sebagai bentuk rasa malu.  Ada pula yang mengatakan bahwa itu membantu menjaga mata mereka tetap terbuka, sebagai perlindungan terhadap roh jahat. Terakhir, ada versi yang mengatakan bahwa cadar tersebut digunakan secara praktis untuk melindungi wajah dari pasir dan panas Matahari di Gurun Sahara.

Sedikit Catatan

Mengenal Suku Tuareg, walau hanya sekilas, cukup membantu kita dalam merenungi banyak hal. Ada banyak hal yang dapat kita refleksikan dan pertanyakan dari segala keunikan suku ini, terutama mengenai relasi gender di sana. Meski bercorak matrilineal, struktur sosial Tuareg tidak sepenuhnya mencerminkan budaya matriarki dalam arti dominasi perempuan secara menyeluruh. Tetap ada ruang bagi laki-laki untuk hadir secara utuh, misal dalam kepemimpinan atau politik.

Meskipun demikian, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan kembali untuk memahami suku ini dengan lebih baik. Tulisan ini tidak serta merta dapat digunakan untuk mengeneralisir budaya suku Tuareg. Pemahaman terkait suku ini perlu diikuti kajian etnografis, serta kajian terbaru yang meneliti terkait dampak globalisasi, modernisasi, dan pengaruh budaya lain. Dengan begitu, kita akan memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai Suku Tuareg.

 

*Saat ini penulis adalah mahasiswa Antropologi Sosial yang memiliki minat terhadap filsafat, isu masyarakat adat, dan pengetahuan lokal Nusantara. Penulis juga suka jalan-jalan dan nonton anime.

Sumber Rujukan:

Almeida, R., 2021. Homegrown. [Online]

Tersedia di: https://homegrown.co.in/homegrown-explore/in-sahara-deserts-tuareg-tribe-islamic-women-rule-the-roost [Diakses 4 Mei 2026].

INVOICE INDONESIA (2025) PENAKLUK GURUN! Bagaimana Suku Tuareg bertahan di Gurun Sahara?, Tersedia di: https://youtu.be/3fbmPHgioPA?si=e_Uw7rX4K-q8Y-84 [Diakses 4 Mei 2026].

Lembaran Dunia (2025) Bertahan hidup di kerasnya gurun SAHARA yang tak kenal ampun – suku Tuareg. 15 Juli 2025, Tersedia di: https://youtu.be/dZrF_dt8vHo?si=RVfzMB4V-CwrbSbx [Diakses 4 Mei 2026].

Lyon, L., 2023. Study.com. [Online]

Tersedia di: https://study.com/academy/lesson/tuareg-overview-history-culture-touareg-people.html [Diakses 3 Mei 2026].

Rasmussen, S. J., 1998. Reflections on Myth and History: Tuareg Concepts of Truth, “Lies,” and “Children’s Tales”. Oral Tradition, 13(2), pp. 247-284 .

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Duka di Rel Kereta Api: Evaluasi Layanan dalam Perspektif Gender

3 Mei 2026

Project Buku Belajar Gender dari Kartini

20 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.