Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Ragam»Pengelolaan Kuno Kebersihan Menstruasi bagi Perempuan

Pengelolaan Kuno Kebersihan Menstruasi bagi Perempuan

Ragam Redaksi Jalastoria16 Juni 2026

Oleh: Laurensia Junita Della

Menurut definisi WHO dan UNICEF, Menstrual Hygiene Management (MHM) mencakup penggunaan bahan yang bersih untuk menyerap atau menampung darah menstruasi, akses terhadap air dan sabun untuk menjaga kebersihan tubuh, serta fasilitas yang aman untuk membuang limbah menstruasi.

Setiap zaman dan masyarakat memiliki cara tersendiri dalam memahami dan mempraktikkan MHM. Masing-masing memiliki keunikan dan nilai budaya yang kental. Selain sebagai proses biologis, menstruasi erat kaitannya dengan kekuatan alam, dewa dewi, hal-hal gaib, hingga konsepsi masyarakat mengenai “kekotoran” atau “kesakralan” darah menstruasi. Beberapa masyarakat telah menunjukkan adanya adaptasi teknologi sederhana, seperti penggunaan tampon sekali pakai, kain penutup, hingga pembalut dari bahan alami.

Untuk itu, dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi berbagai cara tradisional yang digunakan para wanita dalam menghadapi siklus menstruasi mereka.

Mesir Kuno

Para wanita Mesir kuno menggunakan “kain penutup pinggang” menstruasi dan pembalut sekali pakai yang terbuat dari papirus (papyrus) atau rumput serupa. Teksturnya papirus lebih berserat jika dibandingkan dengan kertas modern. Di Mesir kuno, papirus dikenal akan kegunaannya untuk menulis. Tetapi di sisi lain, daya serap papirus yang baik membuatnya dijadikan sebagai pembalut kuno.

Turki-Mongol (Asia Dalam)

Sebagai masyarakat nomaden, diketahui bahwa mereka rutin mencuci tubuh untuk menjaga kebersihan diri. Selama menstruasi, para perempuan menggunakan bahan alami seperti bulu hewan dan lumut sebagai pembalut. Pemilihan bahan ini menunjukkan adaptasi yang baik terhadap lingkungan sekitar. Praktik ini juga mencerminkan adanya pengelolaan menstruasi secara sederhana namun tetap fungsional dalam masyarakat nomaden.

Romawi

Sebagian besar wanita Romawi kuno menggunakan wol sebagai pembalut mereka. Selain itu, mereka telah mengenal berbagai teknik untuk menunda, mengurangi, atau menghentikan menstruasi. Beberapa diantaranya mencakup pengobatan herbal, praktik medis seperti pengeluaran darah (bloodletting), hingga penggunaan jimat tubuh.

Jepang

Di Jepang, para perempuan lebih banyak menggunakan kertas tradisional saat memasuki siklus menstruasi. Para perempuan akan melipat kertas dan menempatkannya pada bagian intim mereka. Selanjutnya, gulungan ini akan diganti sebanyak 8-12 kali dalam sehari. Selain itu, teks medis seperti Ishinpō menunjukkan pengelolaan tubuh perempuan dengan dukungan ritual sebagai upaya pembersihan spiritual.

Suku Indian Yurok di California

Para wanita Yurok menganggap siklus menstruasi sebagai siklus alamiah yang selaras dengan ritme Bulan. Karena itu, para wanita dianggap memiliki waktu yang sama dalam siklus mereka. Ketika siklus itu sedang berlangsung, mereka terbiasa melakukan ritual mandi bersama. Sedangkan jika siklus perempuan tidak selaras dengan bulan dan dengan perempuan lainnya, dia akan duduk di bawah sinar Bulan dan meminta Bulan untuk menyeimbangkannya.

Yunani

Perempuan pada masa itu menjaga kebersihan tubuh mereka menggunakan kain atau bahan alami yang tersedia. Beberapa tulisan mencatat penggunaan wol sebagai pembalut alami ketika siklus menstruasi tiba. Sedangkan mereka yang tinggal di wilayah pesisir lebih banyak menggunakan spons laut untuk dijadikan pembalut. Tentu saja, jangan pernah samakan spons laut dengan spons cuci piring di rumah.

Suku !Kung

Karena perempuan !Kung dipandang hampir setara dengan laki-laki, maka menstruasi bukanlah objek ketakutan atau tabu. Namun, dengan kelangkaan kapas dan air di Gurun Kalahari, mereka terbiasa mengurung diri ketika siklus itu tiba. Mereka berdiam di gubuk menstruasi, dan memisahkan diri dari komunitas sementara waktu.

Suku Cherokee di Oklahoma

Suku ini mengakui adanya kekuatan magis dan destruktif daripada darah menstruasi. Darah menstruasi sering kali digunakan dalam sihir, perang, dan/atau ritual permainan bola. Untuk itu, para wanita Cherokee diisolasi di gubuk menstruasi selama periode menstruasi mereka.  Mereka dijauhkan dari keluarga dan teman karena anggapan kekuatan destruktif itu.

Nepal

Umat Hindu di Nepal secara tradisional mengisolasi perempuan selama menstruasi selama 3 malam. Mereka dilarang keras berada di rumah selama periode ini berlangsung. Sebaliknya, mereka tinggal di “gubuk menstruasi,” yaitu rumah kecil dari tanah liat atau kandang sapi yang terletak 10-15 meter dari tempat tinggal utama. Setelah itu, mereka akan mandi sebagai upaya pembersihan diri dan sebelum bergabung kembali dengan komunitas.

 

Penulis adalah mahasiswa aktif di salah satu universitas di Semarang. Ia gemar menikmati waktu sendiri. Topik favoritnya adalah filsafat dan pengetahuan lokal Nusantara. Meski begitu, penulis tetap suka jalan-jalan dan nonton anime.

 

Sumber Rujukan:

Chatterjee, G., (2024) Asan. Tersedia di: https://asancup.in/blogs/blogs/history-of-menstruation (Diakses 13 April 2026).

Fajar, G., (2017) Hipwee. Tersedia di: https://www.hipwee.com/feature/sebelum-ada-pembalut-sama-tampon-10-cara-ini-lho-yang-digunakan-cewek-ketika-datang-bulan/ (Diakses 13 April 2026).

Miller K., (2024) ‘Intentional Menstrual Suppression in Imperial Rome’, Journal of Roman Studies, 114, pp.27-59, https://doi.org/10.1017/S0075435824000297.

Nanzatov B., Sodnompilova M., (2019) ‘Personal and public hygiene of Nomads: a Case Study of Related Concepts and Practices’, Oriental Studies. 12(2), pp.255-262, https://doi.org/10.22162/2619-0990-2019-42-2-255-262.

Tan, D. A., et al., (2017), ‘Cultural Aspects and Mythologies Surrounding Menstruation and Abnormal Uterine Bleeding’, Best Practice & Research Clinical Obstetrics and Gynaecology, 40, pp.121-133, http://dx.doi.org/10.1016/j.bpobgyn.2016.09.015.

UNICEF, 2019. Guide to menstrual hygiene materials. New York: United Nations Children’s Fund.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Suara Perempuan di Tengah Sengketa Tanah Adat

16 Juni 2026

Memperkuat Komnas Perempuan Melalui RUU HAM

15 Juni 2026

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Comments are closed.

Paradoks Pelatihan Pekerja Migran Indonesia dalam Membekali Perlindungan Diri

16 Juni 2026

Suara Perempuan di Tengah Sengketa Tanah Adat

16 Juni 2026

Pengelolaan Kuno Kebersihan Menstruasi bagi Perempuan

16 Juni 2026

Parenting Ala Milenial dan Gen Z yang Melunturkan Patriarki

15 Juni 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.