Oleh: Salwa Aidah
Beberapa tahun terakhir, media sosial dipenuhi dengan istilah princess treatment. Istilah ini muncul dalam berbagai konten hubungan romantis di TikTok, Instagram, hingga X. Banyak perempuan membagikan pengalaman ketika diperlakukan “layaknya putri” oleh pasangannya: dibukakan pintu mobil, dibelikan makanan tanpa diminta, dijemput, diberikan bunga, bahkan sekadar diperhatikan secara emosional. Fenomena ini kemudian berkembang menjadi standar baru dalam hubungan percintaan, terutama di kalangan perempuan muda.
Di satu sisi, princess treatment dianggap sebagai simbol penghargaan dan bentuk kasih sayang yang sehat. Banyak perempuan merasa bahwa perlakuan manis dan penuh perhatian bukan sesuatu yang berlebihan, melainkan kebutuhan emosional yang selama ini sering diabaikan. Namun di sisi lain, fenomena ini juga menuai kritik karena dinilai menghidupkan kembali pola relasi tradisional yang menempatkan laki-laki sebagai penyedia utama dan perempuan sebagai pihak yang “dirawat”. Perdebatan ini menjadi menarik ketika dibaca menggunakan perspektif Judith Butler, terutama melalui gagasannya tentang gender performativity.
Menurut Butler, gender bukan sesuatu yang lahir secara alami dari tubuh biologis manusia. Perempuan tidak otomatis bersikap feminin hanya karena ia perempuan, begitu pula laki-laki tidak secara alami harus maskulin. Butler menjelaskan bahwa identitas gender terbentuk melalui tindakan yang terus diulang dalam kehidupan sosial. Cara berpakaian, berbicara, bersikap, hingga cara seseorang menjalani hubungan romantis sebenarnya merupakan hasil konstruksi sosial yang dipelajari sejak lama. Gender, dalam pandangan Butler, adalah “pertunjukan sosial” yang dilakukan berulang kali hingga terlihat alami.
Jika dikaitkan dengan fenomena princess treatment, maka sebenarnya yang sedang terjadi bukan sekadar tren romantis biasa. Ada proses pengulangan peran gender yang terus diproduksi melalui media sosial. Konten perempuan yang duduk manis saat pasangannya memesan makanan, laki-laki yang selalu membayar semua kebutuhan, atau narasi “perempuan feminin pantas diperlakukan seperti putri” memperlihatkan bagaimana standar feminitas modern sedang dibentuk ulang secara digital.
Menariknya, tren ini muncul di tengah masyarakat yang semakin sering membicarakan kesetaraan gender. Banyak perempuan masa kini memiliki pendidikan tinggi, penghasilan sendiri, dan ruang sosial yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Namun di saat yang sama, media sosial justru kembali mempopulerkan relasi romantis yang sangat tradisional. Laki-laki diposisikan sebagai provider, sementara perempuan ditempatkan sebagai sosok lembut yang dilayani. Fenomena ini memperlihatkan bahwa modernitas ternyata tidak selalu menghapus konstruksi gender lama, tetapi justru bisa mengemasnya ulang menjadi sesuatu yang tampak estetik dan romantis.
Dalam perspektif Butler, kondisi ini menunjukkan bahwa gender terus diproduksi melalui budaya populer. Media sosial menjadi ruang besar yang mempertontonkan bagaimana perempuan “ideal” seharusnya bersikap. Tidak sedikit konten yang menggambarkan perempuan feminin sebagai perempuan yang tenang, manja, tidak terlalu dominan, dan membiarkan laki-laki memimpin hubungan. Sebaliknya, laki-laki dianggap romantis jika mampu menjadi pelindung dan pemberi rasa aman secara finansial maupun emosional. Pola ini kemudian diulang terus-menerus hingga terlihat normal.
Padahal, jika dipikirkan lebih jauh, konsep hubungan sehat sebenarnya tidak selalu harus berbentuk seperti itu. Ada perempuan yang nyaman menjadi mandiri, aktif, bahkan dominan dalam hubungan. Ada pula laki-laki yang tidak selalu nyaman menjalankan tuntutan maskulinitas tradisional. Namun media sosial sering kali menghadirkan standar relasi yang sempit. Akibatnya, banyak orang mulai mengukur kualitas hubungan berdasarkan validasi digital dan tren yang sedang populer.
Lahir dan Dibesarkan Budaya Digital
Fenomena princess treatment juga tidak bisa dipisahkan dari budaya konsumsi digital. Banyak konten romantis viral menampilkan hadiah mahal, makan malam mewah, liburan, atau perlakuan penuh fasilitas. Romansa akhirnya bukan hanya soal kedekatan emosional, tetapi juga tampilan visual yang bisa dipamerkan. Dalam situasi ini, hubungan romantis berubah menjadi bagian dari identitas sosial di internet. Seseorang dianggap memiliki pasangan “ideal” ketika relasinya terlihat sesuai standar media sosial.
Butler sendiri sebenarnya menyoroti bagaimana norma sosial bekerja secara halus melalui pengulangan. Orang sering merasa sedang memilih secara bebas, padahal pilihan tersebut dipengaruhi oleh ekspektasi budaya yang terus ditanamkan. Banyak perempuan mungkin merasa nyaman dengan princess treatment, dan itu tentu valid. Namun yang perlu dipertanyakan adalah: apakah keinginan tersebut benar-benar lahir dari diri sendiri, atau terbentuk karena media sosial terus mengatakan bahwa perempuan ideal harus diperlakukan seperti putri?
Pertanyaan ini penting karena media sosial memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara perempuan memandang dirinya sendiri. Ketika konten princess treatment terus viral, perempuan yang tidak mengalami hubungan serupa bisa merasa kurang dihargai. Sebaliknya, laki-laki juga mendapat tekanan untuk selalu tampil sebagai sosok maskulin yang mampu memenuhi standar romantis tertentu. Akibatnya, hubungan menjadi penuh tuntutan performatif, bukan lagi ruang yang tumbuh secara natural.
Beberapa diskusi di media sosial bahkan menunjukkan bahwa fenomena ini mulai diperdebatkan dalam komunitas feminis sendiri. Ada yang melihat princess treatment sebagai bentuk penghargaan terhadap perempuan setelah lama menghadapi budaya hubungan yang minim empati. Namun ada juga yang menganggap tren ini justru menghidupkan kembali patriarki dalam bentuk yang lebih lembut dan estetik.
Di sinilah pemikiran Butler menjadi relevan. Butler tidak secara langsung mengatakan bahwa feminitas itu salah. Yang ia kritik adalah anggapan bahwa ada satu cara paling benar untuk menjadi perempuan. Ketika media sosial mulai membentuk standar bahwa perempuan ideal harus lembut, pasif, manja, dan dilayani, maka sebenarnya masyarakat sedang menciptakan ulang batasan gender baru.
Fenomena princess treatment akhirnya memperlihatkan bahwa relasi modern tidak pernah benar-benar lepas dari konstruksi sosial. Romansa hari ini bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang citra, identitas, dan performa gender yang dipertontonkan di ruang digital. Banyak perempuan mungkin merasa lebih dihargai melalui perlakuan tersebut, tetapi penting juga untuk menyadari bahwa nilai perempuan tidak boleh ditentukan hanya dari bagaimana ia diperlakukan laki-laki.
Pada akhirnya, perempuan berhak menentukan sendiri bentuk hubungan yang membuatnya nyaman. Tidak ada yang salah dengan menyukai perhatian, kelembutan, atau perlakuan romantis. Namun relasi yang sehat seharusnya dibangun atas dasar kesetaraan emosional, bukan tuntutan peran gender yang dipaksakan oleh tren media sosial. Perspektif Judith Butler membantu kita memahami bahwa apa yang terlihat “alami” dalam hubungan ternyata sering kali hanyalah hasil pengulangan budaya yang terus direproduksi.
Fenomena princess treatment mungkin akan terus berkembang sebagai bagian dari budaya romansa digital. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana perempuan tetap memiliki kesadaran kritis terhadap standar relasi yang dibentuk di media sosial. Karena pada akhirnya, menjadi perempuan tidak harus selalu mengikuti definisi feminin yang sedang viral. Menjadi perempuan juga berarti memiliki kebebasan untuk menentukan identitas dan cara mencintai tanpa harus terikat pada skenario gender yang dibuat masyarakat.
Referensi:
Kakoliris & Gerasimos. (2025). Judith Butler on Gender Performativity. A Journal of Philosophy. 17 (1). doi0.12681/dia.41735.
He, Li. (2017). The Construction of Gender: Judith Butler and Gender Performativity. Atlantis Press. doi https://doi.org/10.2991/iccessh-17.2017.166.
Xie, Wenjuan. (2018). Queer[ing] Performativity, Queer[ing] Subversions: A Critique of Judith Butler’s Theory of Performativity. https://doi.org/10.1080/25723618.2014.12015486

