Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Domestikasi Perempuan Pascapersalinan

Domestikasi Perempuan Pascapersalinan

Perspektif Redaksi Jalastoria26 Juli 2026

Oleh: Desi Fajar Permatasari

Masyarakat sering memandang masa setelah melahirkan sebagai fase paling mulia dalam kehidupan perempuan. Tubuh perempuan yang baru melahirkan dirayakan sebagai simbol pengorbanan, kasih sayang, dan kesempurnaan motherhood. Namun di balik romantisasi tersebut, terdapat proses sosial yang jarang dibicarakan secara kritis, perempuan pascapersalinan perlahan didorong kembali ke ruang domestik dan dijauhkan dari ruang publik. Domestikasi ini tidak selalu hadir dalam bentuk larangan terang-terangan, melainkan bekerja secara halus melalui norma budaya, moralitas keluarga, hingga standar tentang ibu yang baik atau ibu yang ideal.

Setelah melahirkan, perempuan sering dianggap tidak lagi sepenuhnya memiliki tubuhnya sendiri. Tubuhnya berubah menjadi tubuh reproduktif yang harus selalu tersedia bagi bayi, keluarga, dan tuntutan sosial. Perempuan diharapkan tetap menyusui, terjaga sepanjang malam, mengurus rumah, dan memulihkan tubuhnya dalam waktu bersamaan. Ironisnya, ketika perempuan merasa lelah, ingin keluar rumah, atau membutuhkan ruang sosial di luar identitas keibuannya, masyarakat justru sering memandangnya sebagai bentuk egoisme. Di sinilah motherhood bekerja bukan hanya sebagai pengalaman biologis, tetapi juga sebagai mekanisme kontrol sosial terhadap tubuh perempuan.

Dalam perspektif Pierre Bourdieu, kondisi tersebut dapat dipahami melalui konsep symbolic violence, yaitu bentuk dominasi yang bekerja secara halus hingga dianggap normal oleh kelompok yang didominasi. Perempuan pascapersalinan tidak selalu dipaksa secara langsung untuk tinggal di rumah, tetapi mereka dibentuk melalui rasa bersalah, rasa malu, dan tekanan moral agar secara sukarela membatasi dirinya sendiri. Akibatnya, perempuan akhirnya percaya bahwa mengorbankan diri adalah bagian alami dari motherhood.

 

Motherhood dan Normalisasi Pengorbanan Perempuan

Dalam banyak budaya, motherhood identik dengan pengorbanan total. Perempuan dianggap menjadi ibu yang baik ketika mampu menahan lelah, mengabaikan rasa sakit, dan mendahulukan kebutuhan keluarga dibanding dirinya sendiri. Akibatnya, nyeri pascapersalinan, kelelahan ekstrem, hingga tekanan psikologis sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan harus diterima.

Padahal masa nifas merupakan fase pemulihan besar bagi tubuh perempuan. Banyak ibu mengalami nyeri operasi sesar, anemia postpartum, gangguan tidur, postpartum fatigue, hingga kesulitan bergerak. Namun masyarakat sering memandang penderitaan tersebut sebagai kodrat perempuan. Dalam kondisi ini, tubuh perempuan tidak lagi dilihat sebagai tubuh yang membutuhkan pemulihan, tetapi sebagai tubuh yang harus terus tersedia untuk kerja reproduktif dan domestik.

 

Habitus Keibuan dan Perempuan yang Membatasi Diri Sendiri

Menurut Pierre Bourdieu, masyarakat membentuk habitus, yaitu pola pikir dan perilaku yang tertanam melalui pengalaman sosial dan budaya. Dalam konteks motherhood, perempuan diajarkan bahwa ibu harus kuat, sabar, tidak banyak mengeluh, dan selalu hadir untuk keluarga. Habitus tersebut membuat banyak perempuan akhirnya membatasi dirinya sendiri secara sukarela. Mereka merasa bersalah ketika ingin keluar rumah, meminta bantuan, atau sekadar memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Bahkan banyak ibu merasa tidak nyaman hadir di ruang publik karena takut dianggap tidak total menjalankan peran domestik. Kontrol terhadap perempuan akhirnya tidak lagi membutuhkan larangan langsung. Perempuan sendiri telah menginternalisasi norma yang mengatur tubuh dan mobilitasnya.

 

Ruang Publik yang Tidak Ramah bagi Tubuh Pascapersalinan

Domestikasi perempuan juga diperkuat oleh kondisi ruang publik yang belum sensitif terhadap kebutuhan tubuh perempuan pascapersalinan. Sebagian besar kota dibangun berdasarkan asumsi tubuh yang sehat, kuat, cepat, dan produktif. Trotoar tidak ramah stroller, ruang laktasi terbatas, tempat duduk minim, dan transportasi publik melelahkan bagi perempuan yang tubuhnya masih dalam masa pemulihan.

Dalam perspektif Pierre Bourdieu, ruang publik bekerja sebagai arena sosial yang menguntungkan tubuh able-bodied. Tubuh perempuan postpartum yang bergerak lambat, mudah lelah, dan membutuhkan jeda akhirnya dianggap tidak sesuai dengan ritme ruang publik modern. Akibatnya, perempuan pascapersalinan sering menarik diri dari ruang sosial bukan semata karena pilihan pribadi, tetapi karena lingkungan sosial memang tidak memberi ruang aman bagi tubuh mereka.

 

Symbolic Violence dan Rasa Bersalah Menjadi Ibu

Salah satu bentuk kontrol sosial paling kuat terhadap perempuan pascapersalinan adalah symbolic violence. Konsep dari Pierre Bourdieu ini menjelaskan bagaimana dominasi bekerja secara halus hingga dianggap normal oleh kelompok yang didominasi. Perempuan pascapersalinan tidak selalu dipaksa secara langsung untuk tinggal di rumah, tetapi mereka dibentuk melalui rasa bersalah, rasa malu, dan tekanan moral agar secara sukarela membatasi dirinya sendiri. Komentar seperti “ibu seharusnya fokus pada bayi”, “jangan sering keluar rumah”, atau “ibu yang baik harus total mengurus anak” tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan instrumen sosial yang mendisiplinkan tubuh perempuan.

Perempuan pascapersalinan akan sering mengalami mom guilt ketika ingin beristirahat, menitipkan bayi, bekerja kembali, atau menikmati ruang sosial di luar rumah. Mereka takut dicap egois, tidak keibuan, atau menjadi ibu yang buruk. Akibatnya, perempuan terus mengorbankan dirinya sendiri sambil percaya bahwa pengorbanan tersebut adalah bentuk cinta yang ideal. Di titik ini, motherhood bukan lagi sekadar pengalaman biologis, tetapi menjadi mekanisme sosial yang mengontrol tubuh perempuan.

 

Ketimpangan Sosial dalam Pengalaman Postpartum

Tidak semua perempuan mengalami masa postpartum dengan kondisi yang sama. Perempuan dengan kendaraan pribadi, support system kuat, dan akses layanan kesehatan yang baik tentu memiliki pengalaman berbeda dibanding perempuan dari kelompok rentan dan ekonomi rendah. Sebagian perempuan dapat mengakses ruang publik dengan lebih aman karena memiliki bantuan keluarga, fasilitas kesehatan memadai, dan lingkungan yang suportif. Sementara perempuan lain menghadapi keterbatasan mobilitas sendirian sambil tetap dibebani kerja domestik. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman postpartum juga dipengaruhi interseksionalitas ketimpangan sosial, ekonomi, dan budaya.

 

Menuntut Ruang Publik Lebih Ramah terhadap Perempuan

Berbagai kondisi ini menunjukkan bahwa domestikasi perempuan bukan sekadar persoalan budaya keluarga, tetapi bagian dari struktur sosial yang lebih besar. Patriarki bekerja bukan hanya melalui laki-laki, melainkan juga melalui desain kota, institusi sosial, moralitas motherhood, bahkan cara masyarakat memandang tubuh perempuan. Kota yang inklusif seharusnya menyediakan trotoar ramah stroller, ruang laktasi yang layak, fasilitas istirahat, transportasi publik yang nyaman, serta lingkungan sosial yang tidak menghakimi perempuan postpartum.

Perempuan seringkali dipuji sebagai “madrasah pertama bagi anak”, tetapi dalam waktu yang sama dibatasi mobilitasnya, dibebani kerja reproduktif, dan dihapus keberadaannya dari ruang sosial. Motherhood akhirnya menjadi identitas yang mengonsumsi seluruh eksistensi perempuan hingga mereka kehilangan hak atas tubuh, waktu, dan ruang hidupnya sendiri.

Yang lebih problematis, domestikasi ini sering tidak disadari karena telah dinormalisasi lintas generasi. Banyak perempuan bahkan merasa bersalah ketika ingin memiliki waktu untuk dirinya sendiri setelah melahirkan. Mereka takut dicap sebagai ibu buruk jika terlalu sering keluar rumah, bekerja kembali, atau menikmati ruang sosial di luar peran domestik. Dalam kondisi ini, kontrol sosial terhadap perempuan tidak lagi membutuhkan paksaan langsung karena perempuan telah menginternalisasi pengawasan tersebut ke dalam dirinya sendiri. Inilah bentuk dominasi paling efektif, ketika kelompok yang didominasi ikut menjaga sistem yang menindasnya.

Karena itu, pembicaraan tentang perempuan pascapersalinan tidak cukup hanya berhenti pada isu kesehatan maternal. Persoalan ini juga merupakan isu keadilan sosial, hak atas ruang publik, dan kebebasan tubuh perempuan. Perempuan yang melahirkan tidak kehilangan identitas sosialnya sebagai manusia. Mereka tetap berhak hadir di ruang publik, menikmati mobilitas, memperoleh dukungan sosial, dan menentukan relasi terhadap tubuhnya sendiri tanpa tekanan moral dari masyarakat.

Sudah waktunya motherhood dipahami bukan sebagai legitimasi untuk mendomestikasi perempuan, tetapi sebagai pengalaman manusiawi yang membutuhkan dukungan sosial kolektif. Sebab selama masyarakat masih menganggap pengorbanan tanpa batas sebagai standar ideal seorang ibu, perempuan akan terus dipaksa kembali ke ruang domestik sambil diyakinkan bahwa itu adalah bentuk cinta yang paling mulia.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Jika kesiapan berhubungan seksual, dinilai dari Merahnya Lipstik Perempuan

26 Juli 2026

Agar Kekerasan Tidak Lagi Terjadi di Ruang Pendidikan

26 Juli 2026

Memahami Tren Soft Life di Kalangan Perempuan Modern

26 Juli 2026

Comments are closed.

Jika kesiapan berhubungan seksual, dinilai dari Merahnya Lipstik Perempuan

26 Juli 2026

Agar Kekerasan Tidak Lagi Terjadi di Ruang Pendidikan

26 Juli 2026

Domestikasi Perempuan Pascapersalinan

26 Juli 2026

Memahami Tren Soft Life di Kalangan Perempuan Modern

26 Juli 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.