Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Jika kesiapan berhubungan seksual, dinilai dari Merahnya Lipstik Perempuan

Jika kesiapan berhubungan seksual, dinilai dari Merahnya Lipstik Perempuan

Perspektif Redaksi Jalastoria26 Juli 2026

Oleh: Silva Hafsari

“Merahnya lipstik perempuan adalah tanda dia siap berhubungan seksual.” 

Satu rage bait dari potongan video pada platform Tik-Tok itu berhasil mendapat puncak keviralan; perolehan suka, komentar, dan unggahan ulang sampai ratusan. Beragam respons dari berbagai gender ikut mewarnai isi komentar, sebagian setuju, dan sebagian lainnya mempertanyakan ulang opini tersebut.

Dalam kontennya, disebutkan bahwa secara sains hewan mamalia, betina memikat jantan dengan mempercantik diri, sehingga perempuan mempersolek diri demi memikat perhatian lawan jenis. Jyujyur jyanggal, pandangan satu ini menggunakan istilah akademis hanya untuk mempermudah dirinya mengobjektifikasi tubuh perempuan.

Melalui peristiwa ini kita semakin sadar bahwa mudah sekali menemukan perilaku bias gender, termasuk di ruang digital. Tindakan mengomentari penampilan seseorang berdasarkan gender/seks tertentu merupakan bagian dari bentuk Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS)—konten itu menyebut bahwa penggunaan lipstik merah oleh perempuan tanda kesiapan dia berhubungan seksual. Coba saja kalau konten tersebut membahas penggunaan lipstik merah pada laki-laki, maka akan muncul pandangan berbeda, bukan?

Keyakinan dasar seorang laki-laki sampai menjustifikasi perempuan adalah bentuk dari kekerasan pada hak-hak dasar. Perempuan memiliki kebebasan (Free Will) untuk dapat memilih warna lipstik, makeup looks, sampai gaya fashion apapun tanpa perlu khawatir didiskriminasi. Bro dalam konten VT tersebut secara sadar sedang melakukan tindakan mansplaining, yaitu ketika seorang laki-laki merasa lebih tahu tentang alasan perempuan memakai kosmetik daripada perempuan itu sendiri, ia sedang meremehkan pengalaman hidup perempuan, dan perilaku tersebut merupakan bagian dari mansplaining.

Pernyataan perempuan memoles diri untuk memikat laki-laki disamakan dengan perilaku hewan mamalia. Itu sama saja dengan mengabaikan Akal Sehat, penafsiran keliru dan sok tahu tersebut melupakan bahwa manusia memiliki pilihan atas hidupnya, tidak sesederhana dengan menyamakan pilihan perempuan memakai make-up dengan perilaku hewan (misalnya, ritual kawin atau kamuflase).

Penampilan seseorang tidak seyogyanya menjadi bahan justifikasi apalagi dengan tendensi merendahkan perempuan. Ungkapan Lipstik merah tanda kesiapan hubungan seksual adalah bukti bahwa masyarakat dan sebagian laki-laki masih menilai nilai perempuan pada ranah domestik dan sebatas persoalan hubungan badan. Situasi ini menunjukan perempuan masih dianggap objek, karena kesiapan berhubungan seksual tidak bersifat sukarela, melainkan perlu melewati beberapa pertimbangan diantaranya: persetujuan dari kedua belah pihak (consent), kesiapan dan kematangan organ reproduksi.

Padahal proses terjadinya hubungan seks tidak sesederhana asumsi sepihak. Melainkan diawali dengan munculnya ketertarikan seksual (gairah) dari kedua belah pihak, stimulasi/foreplay, penetrasi, hingga mencapai klimaks (orgasme/ejakulasi). Jujur janggal, jika penggunaan lipstik merah pada perempuan justru dipakai sebagai penilaian tunggal dia siap berhubungan seksual.

Makeup sebagai bagian dari identitas dan budaya

Rasanya hak menentukan pilihan pada perempuan seringkali dipandang sebelah mata, bagaimana tidak, penggunaan makeup, termasuk lipstik merah bisa jadi alasan seseorang mengomentari hak tubuh perempuan. Padahal hal tersebut merupakan bentuk pemberdayaan dan ekspresi diri. Sebagai bagian dari kehidupan sosial, perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan gaya dan personalitas yang ingin ditampilkan di depan publik. Makeup bukan sekadar penampilan, tetapi juga bentuk seni dan keterampilan yang perlu dipelajari. keahlian ini bahkan memiliki nilai ekonomi dan profesional, seperti dalam profesi make up artist (mua), sekaligus menjadi media self-expression bagi banyak orang.

Lebih dari itu, makeup juga sering digunakan untuk membangun kesan profesional dan meningkatkan rasa percaya diri dalam berbagai situasi, seperti wawancara kerja, presentasi, maupun acara penting lainnya. dalam banyak budaya, makeup juga dipandang sebagai simbol kekuatan feminin serta cara untuk merayakan identitas dan pilihan diri.

Perempuan berekspresi berdasarkan style makeup pilihannya 

Pada akhirnya, makeup juga dapat menjadi representasi budaya dan identitas seseorang. Di dalamnya terdapat berbagai personalisasi gaya, seperti gyaru, latina, arabic, kikay, bebot, korean, dan masih banyak lagi. Keberagaman style tersebut menunjukkan bahwa makeup bukan sesuatu yang tunggal, melainkan ruang ekspresi yang dipengaruhi oleh budaya, preferensi personal, hingga konteks atau occasion tertentu. Melalui makeup, Perempuan dapat membangun kesan yang beragam—mulai dari cute, bold, hingga fierce—sebagai bagian dari cara menampilkan diri dan mengekspresikan identitasnya.

 

Penulis adalah Lulusan S1 Hubungan Internasional, dan pekerja perempuan yang menyukai pembahasan terkait isu Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS).

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Agar Kekerasan Tidak Lagi Terjadi di Ruang Pendidikan

26 Juli 2026

Domestikasi Perempuan Pascapersalinan

26 Juli 2026

Memahami Tren Soft Life di Kalangan Perempuan Modern

26 Juli 2026

Comments are closed.

Jika kesiapan berhubungan seksual, dinilai dari Merahnya Lipstik Perempuan

26 Juli 2026

Agar Kekerasan Tidak Lagi Terjadi di Ruang Pendidikan

26 Juli 2026

Domestikasi Perempuan Pascapersalinan

26 Juli 2026

Memahami Tren Soft Life di Kalangan Perempuan Modern

26 Juli 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.