Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Krisis Corona: Belajarlah pada Pekerja Migran Indonesia

Krisis Corona: Belajarlah pada Pekerja Migran Indonesia

Perspektif jalastoria5 Maret 2020
Kunyit Asem
(Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Wahyu Susilo

 

Apa yang terjadi di Indonesia setelah adanya pengumuman mengenai 2 pasien terduga positif Corona? Respons beberapa pihak menurut saya cukup memalukan.

Yang paling fatal adalah tersebar informasi yang seharusnya adalah informasi confidential dalam berbagai platform media sosial dan penerima pesan. Lebih parah lagi adalah liputan media massa yang juga mengumbar data pribadi yang seharusnya dilindungi.

Kelakuan yang tak kalah memalukan adalah kepanikan yang berlebihan diikuti dengan langkah serakah memborong bahan-bahan medis, masker bahkan sampai bahan makanan.

Ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh komunitas pekerja migran Indonesia yang ada di luar negeri, terutama yang berada di kawasan yang sudah terlebih dahulu mendeklarasikan ada pasien terpapar corona. Alih-alih menyebarkan kabar bohong atau larut dalam kepanikan, mereka malah menjadi pihak yang mendorong solidaritas untuk menangani wabah Corona dengan kebersamaan dan kepedulian.

Beramai-ramai mereka mendesak Pemerintah Indonesia berbuat konkrit untuk para warganya yang ada di kawasan terdampak parah. Saya bersama mereka ketika mereka berdialog menuntut langkah konkrit Pemerintah Indonesia melalui teleconference di Kantor Staf Presiden beberapa waktu yang lalu.

Tak hanya itu, berbagai organisasi pekerja migran meminta para kepala daerah, BUMN, dan Menteri mengirimkan masker untuk didistribusikan kepada puluhan ribu pekerja migran Indonesia dan juga ke warga lokal. Setiap waktu mereka juga berjibaku membendung hoax yang juga deras menyerbu membonceng wabah corona ini.

Yang ada di kampung halaman, komunitas purna pekerja migran juga tak tinggal diam. Memanfaatkan apotik hidup, jahe, dan kunyit asem, mereka memproduksi sirup sehat untuk dikonsumsi menjaga stamina tubuh. Virus Corona memang belum diketahui obat mujarab untuk mematikannya, namun mengkonsumsi rempah-rempah atau empon-empon bisa menjadi pelindung stamina tubuh. Teman-teman komunitas purna migran di Desa Peduli Buruh Migran Sabrang dan Dukuh Dempok, Jember memproduksi sirup sehat tersebut.

Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan![]

 

Direktur Eksekutif Migrant Care

Pekerja Migran
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.