“Kata kunci suksesnya adalah impact — apakah media kampus kita mampu mengedukasi publik tentang pentingnya keadilan bagi perempuan.” Dr. Ninik Rahayu, S.H., M.S (Direktuk Eksekutif JalaStoria)
Dalam upaya memperkuat gerakan penghapusan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan, Perkumpulan JalaStoria Indonesia bekerja sama dengan Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) menggelar Pelatihan Pers Kampus yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai fakultas.
Kegiatan dibuka oleh Direktur Eksekutif sekaligus Pendiri JalaStoria, yang hadir secara daring. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada seluruh pendamping, dosen, dan mahasiswa yang terlibat, termasuk Dr. Lintang dari Universitas Diponegoro Semarang dan Pak Samsuri, koordinator kegiatan antar kampus.
“Meskipun saya tidak dapat hadir secara langsung, saya ingin menegaskan bahwa kegiatan ini sangat penting. Melalui kolaborasi seperti ini, kampus diharapkan menjadi ruang aman bagi perempuan dan motor perubahan untuk menghapuskan kekerasan berbasis gender,” ujarnya.
Gerakan Sosial Berbasis Digital untuk Kemanusiaan
Pendiri JalaStoria menjelaskan, lembaga ini berdiri pada Agustus 2018 sebagai gerakan sosial berbasis digital yang berfokus pada pencegahan serta penanganan diskriminasi terhadap perempuan, terutama kekerasan seksual. Seiring perkembangan, pada Januari 2020, JalaStoria kemudian dikukuhkan menjadi perkumpulan berbadan hukum.
“Kami memulai dari kampanye media. JalaStoria menjadi ruang bagi korban untuk berani bersuara dan melepaskan beban yang menimpanya,” jelasnya
Nama JalaStoria sendiri memiliki filosofi mendalam. Kata Jala terinspirasi dari jaring tradisional Papua, Noken, yang melambangkan keterhubungan dan wadah cerita, sedangkan Storia berasal dari kata story — kisah.
“Kami ingin menjadi jala bagi cerita-cerita perempuan yang selama ini terpinggirkan,” tambahnya.
Adaptasi Teknologi dan Tantangan Media Baru
Dalam era digital, menurutnya, cara mengkampanyekan nilai kemanusiaan juga harus beradaptasi. Ia menyoroti bahwa kini narasi kesetaraan dapat disampaikan tidak hanya melalui tulisan, tetapi juga lewat gambar, video, hingga berbagai platform digital seperti Instagram, Facebook, X (Twitter), dan media sosial lainnya.
“Pers kampus memiliki peran penting untuk menyuarakan nilai kemanusiaan. Gunakan media yang dimiliki untuk mengedukasi masyarakat kampus dan publik tentang pentingnya penghapusan diskriminasi terhadap perempuan,” tegasnya.
Ia berharap para peserta pelatihan tidak berhenti hanya pada kegiatan ini, tetapi mampu melanjutkan dengan kampanye mandiri yang konsisten. Terutama dalam menulis berita yang berkenaan dengan kekerasan seksual berperspektif gender, guna mencegah terjadinya kekerasan berlapis pada korban.
Kolaborasi dan Harapan ke Depan
Dalam kesempatan itu, Ninik Rahayu menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dan seluruh relawan JalaStoria yang bekerja secara sukarela. Ia juga membuka peluang kerja sama lebih luas dengan berbagai lembaga, termasuk Dewan Pers dan 11 konstituennya, untuk memperkuat kapasitas mahasiswa di bidang jurnalistik yang berperspektif gender.
Mengakhiri sambutannya, ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan kegiatan ini sebagai langkah awal gerakan nyata. Menciptakan iklim pers yang terbebas dari kekerasan dan diskriminasi, terutama dalam penulisan berita kekerasan berbasis gender. Sambutan ini kemudian diakhiri dengan mengucapkan basmalah untuk membuka acara.

