JalaStoria resmi menggelar program baru bertajuk Ngobrol Bareng Kontributor sebagai ruang dialog yang mempertemukan penulis dengan audiens secara langsung melalui siaran Live Instagram. Acara perdana ini dilaksanakan pada Sabtu, 11 April 2026 pukul 19.00–20.00 WIB, menghadirkan kontributor Desi Fajar Permatasari sebagai narasumber dan Uung Hasanah sebagai host.
Program ini merupakan bentuk apresiasi JalaStoria kepada para kontributor yang telah menyumbangkan gagasan dan tulisannya di website JalaStoria.id. Tidak hanya berhenti pada publikasi tulisan, JalaStoria ingin membuka ruang yang lebih luas agar perspektif para penulis dapat didengar secara langsung oleh masyarakat, sekaligus membangun interaksi yang lebih hidup dengan para pembaca atau yang disebut sebagai Sahabat JalaStoria.
Pada edisi pertama ini, tema yang diangkat adalah “Perempuan Standar Medsos”, yang berangkat dari tulisan Desi Fajar Permatasari. Tema ini menyoroti fenomena perempuan yang semakin berani menyuarakan pendapat, terutama terkait isu keadilan gender, melalui media sosial. Namun, keberanian tersebut kerap dibalas dengan stigma negatif dari masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, Desi menjelaskan bahwa perempuan yang vokal di media sosial sering kali dilabeli dengan istilah seperti “perempuan pemberontak” atau “perempuan standar medsos”. Label ini muncul sebagai bentuk penolakan terhadap suara perempuan yang dianggap tidak sesuai dengan norma atau ekspektasi sosial tertentu. Padahal, menurutnya, keberanian perempuan untuk berbicara merupakan bagian penting dari upaya menciptakan ruang yang lebih adil dan setara.
Lebih lanjut, Desi menekankan bahwa media sosial seharusnya menjadi ruang yang aman dan inklusif untuk berbagi pengalaman serta memperjuangkan keadilan. Namun realitanya, banyak perempuan justru menghadapi tekanan, perundungan, bahkan ancaman ketika mereka bersuara. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan yang ingin terlibat aktif dalam isu-isu sosial, khususnya yang berkaitan dengan kekerasan berbasis gender.
Melalui diskusi ini, Desi juga menyampaikan bahwa tulisan dapat menjadi alat yang kuat dalam menyuarakan keadilan. Ia mendorong para perempuan untuk terus menulis dan berbagi perspektif, meskipun menghadapi berbagai stigma. Menurutnya, setiap suara memiliki nilai dan berpotensi membawa perubahan, selama disampaikan dengan tanggung jawab dan kesadaran.
Di penghujung acara, Desi memberikan sejumlah tips penting bagi masyarakat, khususnya konten kreator, dalam membahas isu sensitif seperti kekerasan seksual di media sosial. Tips ini diharapkan dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih aman sekaligus tetap informatif.
Pertama, ia menekankan pentingnya membuat konten yang bersifat edukatif. Dalam menyampaikan kasus atau fenomena, sebaiknya tidak mengekspos pelaku kekerasan secara berlebihan. Hal ini penting karena pelaku sering kali memiliki relasi kuasa dan akses informasi yang dapat membahayakan pihak yang membagikan konten tersebut. Oleh karena itu, pendekatan narasi edukatif dinilai lebih aman dan tetap berdampak.
Kedua, disiplin dalam komunikasi menjadi hal yang tidak kalah penting. Konten kreator disarankan untuk mengarsipkan catatan penting dalam setiap konten, seperti tanggal dan kronologi. Arsip ini dapat menjadi rujukan ketika narasi yang disampaikan dipertanyakan atau mengalami perubahan.
Ketiga, Desi mengingatkan agar tidak bergerak sendirian. Bergabung dengan komunitas atau individu yang memiliki visi yang sama dapat memberikan dukungan moral dan memperkuat semangat dalam menyuarakan isu-isu penting, meskipun tidak selalu berorientasi pada keuntungan finansial.
Terakhir, ia menekankan pentingnya memanfaatkan media sosial secara bijak dengan memahami aspek hukum yang berlaku. Pengetahuan tentang aturan bermedia sosial serta penggunaan sumber informasi yang terpercaya menjadi kunci agar konten yang dibuat tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Acara perdana Ngobrol Bareng Kontributor ini diharapkan menjadi langkah awal bagi JalaStoria dalam menghadirkan ruang aman dan inklusif bagi para penulis dan masyarakat luas. Dengan adanya program ini, JalaStoria tidak hanya menjadi platform publikasi, tetapi juga wadah dialog yang mendorong lahirnya kesadaran kolektif terhadap isu-isu sosial, khususnya keadilan gender.
Ke depan, program ini direncanakan akan berlangsung secara rutin setiap bulan, dengan menghadirkan beragam perspektif dari para kontributor. JalaStoria berharap, melalui ruang ini, semakin banyak suara yang terangkat dan semakin kuat solidaritas dalam memperjuangkan keadilan. [UH]

