Oleh: Nur Azizah
“Marsinah pejuang buruh perempuan yang luar biasa sampai mengorbankan nyawanya. Keberaniannya itu jadi motivasi untuk saya dan saya menularkan kepada teman-teman yang lain, teman-teman pekerja rumahan. Contohlah Marsinah! Keberaniannya memperjuangkan hak-hak perempuan,” ujar Humayati, perwakilan Jaringan Pekerja Rumahan Indonesia (JPRI) Jakarta dalam diskusi terarah “Mendorong Pengakuan dan Perlindungan Perempuan Pekerja Rumahan,” Senin (11/11/2025) di Jakarta. Bagi Humayati, api semangat Marsinah terus membersamai langkahnya dalam mendorong perlindungan terhadap perempuan pekerja rumahan.
Humayati bersama 375 perempuan pekerja rumahan mengorganisir diri dalam JPRI Jakarta. Ratusan perempuan pekerja rumahan ini tersebar di empat kelurahan di Jakarta Utara. “Saya ngerjain lem sandal Rp 500 per pasang. Orderan ambil sendiri ke pabrik dengan biaya sendiri. Saya sudah 20 tahunan ngerjain ini. Begini aja sehari-harinya,” ucap perwakilan JPRI yang lain.
Di rumah-rumah itu, kerja perempuan menopang ekonomi kota masih jauh dari upah layak, jauh dari pengakuan.
Perjuangan Marsinah dan Humayati menandakan perjuangan buruh perempuan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berganti bentuk.
Marsinah salah satu pejuang hak-hak buruh kenamaan Indonesia. Ia yang hidup pada masa Orde Baru itu ditemukan meninggal pada 8 Mei 1993, tiga hari setelah berada di bawah bayang-bayang sensor. Buruh perempuan itu diculik dan ditemukan tewas setelah memimpin mogok kerja. Kematian Marsinah menjadi potret kelam zaman Orde Baru, menakutkan bagi semua perempuan yang bersuara lantang.
Hari ini, tepat di Hari Pahlawan Nasional, kabar datang dari pemerintah, menobatkan Soeharto sebagai salah satu pahlawan nasional. Bagi para aktivis buruh, jurnalis, dan korban represi, kabar ini layaknya menyiram luka lama. Pelaku pembungkaman malah dikukuhkan sebagai teladan.
“Kami, Aliansi Perempuan Indonesia (API), mengecam dan menolak penetapan gelar pahlawan untuk Soeharto yang diberikan oleh Presiden Prabowo karena Soeharto merupakan simbol kekuasaan yang membunuh, menyiksa, memperkosa dan menyasar tubuh perempuan dalam berbagai tindakan kekerasan selama lebih dari tiga dekade rezim Orde Baru,” tulis siaran pers dari Aliansi Perempuan Indonesia (API).
Lebih lanjut, API menyerukan, “Perlu diingat bersama bahwa Soeharto dan rezim Orde Baru, melalui berbagai operasi militer, telah menghancurkan gerakan politik dan organisasi perempuan. Tubuh dan pemikiran perempuan dikekang melalui ideologi “Ibuisme Negara” yang menempatkan perempuan semata-mata sebagai pelengkap laki-laki dan pengurus rumah tangga. Ideologi yang membatasi peran perempuan sebagai ibu rumah tangga ideal ini telah menyingkirkan perempuan dari ruang politik dan ekonomi, sekaligus memaksa perempuan menopang ekonomi keluarga dengan kerja tanpa jaminan, upah layak, maupun pengakuan hukum. Sistem penindasan inilah yang kemudian melahirkan generasi pekerja rumah tangga dan buruh migran yang terus bertahan hingga kini.”
Tahun ini, dua nama itu sama-sama disebut sebagai Pahlawan Nasional: Marsinah dan Soeharto. Dua kisah yang berseberangan, duduk dalam ruang penghormatan yang sama. Kata pahlawan menjadi kehilangan batas dan arah moralnya. Padahal, KBBI memaknai pahlawan adalah “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.”
Aliansi Perempuan Indonesia yang melantangkan protes pengangkatan Soeharto bukan sekadar menolak nama, melainkan menunjukkan bagaimana cara negara menata ingatan. Tentang siapa yang diabadikan. Tentang siapa yang disamarkan. Tentang dua figur yang tak pernah bisa berdamai dalam ingatan sejarah.
***
Diskusi hari itu usai. Tapi, Humayati dan anggota lainnya di Jaringan Pekerja Rumahan Indonesia (JPRI) tahu, tanpa nama Marsinah tiada bahasa untuk menuntut keadilan hari ini. Humayati kembali berucap, “karena kerja kita di dalam rumah, enggak diketahui banyak orang.”
Mungkin itu sebabnya negara mudah melupakan. Sebab kerja yang paling nyata justru sering berlangsung di ruang-ruang paling sunyi. Dan hari ini, Negara sedang menulis sejarah di batu. Sementara rakyat menulisnya di tubuh dan ingatan. (AZ)

