Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Ragam»Kolaborasi Mendukung Peserta Tuli untuk Berdiskusi

Kolaborasi Mendukung Peserta Tuli untuk Berdiskusi

Ragam jalastoria18 Juni 2020

Jakarta, JalaStoria.id – Sobat JalaStoria, tahukah kamu kalo di #NgobrolBareng 15 Juni kemarin, hadir dua orang Juru Bahasa Isyarat, atau disingkat JBI. Mereka adalah Andhika Pratama dan Firman Prayoga. JalaStoria.id mengucapkan terima kasih atas kontribusi para JBI yang luar biasa ini. Atas partisipasi keduanya, rekan-rekan kita dari Tuli dapat mengikuti juga kegiatan ini sampai selesai.

Hal ini sekaligus perlu menjadi perhatian kita juga ya Sobat, untuk memerhatikan kebutuhan khusus rekan-rekan disabilitas agar mereka dapat juga dapat mengikuti kegiatan yang diselenggarakan, baik offline maupun online. Jenis disablitas tertentu tentunya membutuhkan penyediaan akomodasi yang sesuai. Misalnya, bagi peserta Netra akan membutuhkan kualitas suara yang jernih untuk didengarkan. Adapun peserta Tuli membutuhkan JBI yang dapat disaksikan juga melalui media yang disediakan. Selain itu, teks tertulis juga akan membantu agar peserta Tuli tetap dapat mengikuti berjalannya acara dengan baik.

Itulah sebabnya, JalaStoria mencoba juga menuliskan notulensi singkat melalui kolom chat selama berlangsung paparan dari narasumber. Hal ini dimaksudkan agar peserta juga dapat mengikuti berjalannya proses diskusi yang direkam secara tertulis.

Teman kita dari Tuli memiliki kemampuan literasi berbeda. Ini sebagaimana dituturkan oleh Aulia Nabil. Walaupun demikian, kebutuhan mengeskplorasi pengetahuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai penghapusan kekerasan terhadap perempuan dirasakan penting banget. Ini supaya mereka juga bisa tahu dan mencegah terjadinya kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Juga untuk menghindarkan victim blaming dan agar dapat memberikan bantuan kepada rekan yang mengalami kekerasan.

Hal serupa disampaikan oleh Bagja Prawira, rekan Tuli yang berdomisili di Jakarta. Menurutnya, perempuan Tuli sebagai salah satu korban kekerasan yang paling rentan. Namun, perempuan Tuli banyak yang belum dibekali pengetahuan dan pendidikan seks karena keterbatasan akses informasi.
Oleh karena itulah, salah seorang narasumber, Arum, menyampaikan, kekerasan tidak akan berhenti jika kita tidak melakukan apapun. Kita semua perlu bergerak menghapuskan kekerasan dengan cara apapun, tanpa harus menunggu misalnya menjadi akademisi terlebih dahulu.

Oh iya, #NgobrolBareng yang mengangkat tema Anak Muda Bergerak dalam Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan ini, juga menghadirkan seorang narasumber yang berdomisili di Manokwari. Dia adalah Jehan Julaicha, yang juga aktif di API Kartini DKI Jakarta. Rekan kita yang satu ini merasakan betul betapa pemerataan pembangunan itu dibutuhkan untuk sampai di seluruh pelosok negeri. Selama diskusi menggunakan aplikasi rapat online tersebut, sempat terkendala dengan permasalahan jaringan. Padahal, selama masa pandemi dan juga untuk mengatasi persoalan jarak, jaringan internet sangat dibutuhkan untuk menjangkau peserta dan narasumber yang tidak dapat berada dalam suatu tempat yang sama.
Masih penasaran dengan diskusinya, simak di kanal Youtube JalaStoria ya![]

 

Editor: Ema Mukarramah

Disabilitas Pemberdayaan perempuan
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Duka di Rel Kereta Api: Evaluasi Layanan dalam Perspektif Gender

3 Mei 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.