Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Ragam»Makanan Enak? Yang Sehat Dong!

Makanan Enak? Yang Sehat Dong!

Ragam jalastoria9 April 2020
Ilustrasi makanan sehat (Sumber: Pixabay/JillWellington)

Sebagai orangtua, apakah pernah mengalami masa-masa di mana anak sulit sekali untuk makan? Rasanya, hampir semua orang tua pernah merasakannya, ya.

Apabila orangtua sudah susah payah menyiapkan, tentu hal itu akan menambah kelelahan tersendiri. Atau, apabila sudah tiba waktunya anak menyantap hidangan tapi anak tetap bergeming, orangtua pastinya akan merasa risau anak akan kelaparan atau mengalami sakit gangguan pencernaan di kemudian hari.

Sebenarnya, kenapa sih ada anak yang menolak makanan yang diberikan?

Wa Ode Hamsinah Bolu, anggota komunitas Maju Perempuan Indonesia (MPI), memberitahukan penyebabnya. “Konon katanya, semua kita terlahir dengan selera makan zero.”

So, menurut perempuan yang pernah bertugas di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini, orangtualah yg paling bertanggungjawab membentuk selera anak kemudian, apakah makan dengan mata atau makan dengan otak.

Artinya, ketika anak menolak suatu makanan, mungkin karena jauh sebelumnya pembiasaan orangtua membuatnya memiliki selera makan yang berbeda dengan apa yang disajikan. Misalnya, anak lebih memilih ngemil daripada makan buah.

 

Makanan Sehat

Wa Ode Hamsinah sendiri merasa terkesan dengan guru-gurunya di bangku Taman Kanak-kanak. Mereka mendoktrin anak-anak asuhannya mengenai apa makna enak. Akhirnya, dalam benak anak-anak itu tertanam bahwa “permen, biscuit, dan cake itu manis, bukan enak”.

“Yang enak itu adalah yang sehat” begitulah yang ditanamkan oleh guru-gurunya.

Makanan sehat dan seimbang menurut Kementerian Kesehatan meliputi makanan pokok atau karbohidrat, sayuran dan lauk pauk, serta buah, yang masing-masing berukuran sepertiga dalam setiap piring makan yang dikonsumsi.

Walaupun demikian, Wa Ode Hamsinah mengakui bahwa menghindari godaan untuk menikmati makanan manis atau sekedar cemilan, membutuhkan perjuangan tersendiri. Termasuk jika ada pedagang keliling yang terdengar di depan pintu:

‘Ting… ting… ting… bubur ayaaam…’

‘Tok… tok… tok… siomay… siomay…’

‘Kring… kring… roti… roti…’

Nah, sebagai orangtua, baik ayah maupun ibu, tentu menjadi tantangan tersendiri untuk menghadirkan makanan sehat sebagai makanan yang enak di rumah. Ingat ya parents, menyiapkan makanan untuk keluarga bukan hanya tugas ibu ya! Ayah juga bisa lho menyiapkan makanan sehat untuk keluarga, karena sebagai orangtua baik ayah maupun ibu bertanggung jawab agar keluarga memperoleh  makanan yang sehat.

Walaupun demikian, kita juga tidak menutup mata ya, bahwa masih ada di antara kita yang kesulitan memperoleh makanan sehat karena keterbatasan finansial. Nah, oleh karena itu, tidak ada salahnya bagi keluarga yang berkecukupan untuk menyisihkan sebagian penghasilannya dan membantu keluarga lain agar dapat menikmati makanan sehat dan layak. Mungkin, mereka yang butuh dibantu justru adalah kerabat sendiri. Atau mungkin saja tetangga, rekan sekolah, rekan yang tidak lagi bekerja, pekerja harian, atau lainnya yang sedang dalam kondisi membutuhkan bantuan.

 

Pendidikan

Menanamkan pemahaman mengenai pemaknaan “makanan enak” tentu memerlukan waktu, apalagi tidak semua anak Indonesia dididik untuk memaknai “makanan enak” sebagai “makanan sehat”.

Untuk itu, para orangtua, baik ayah maupun ibu, perlu banget nih untuk mulai belajar mengubah mindset tentang makanan enak dan selanjutnya menginternalisasikan kepada keluarganya. Melalui pembiasaan di dalam rumah oleh orangtua, akan lebih mudah bagi anak untuk mengonsumsi makanan sehat.

Di saat bersamaan, para pendidik di sekolah formal dan nonformal juga diharapkan rutin membiasakan anak didik untuk mengonsumsi makanan sehat. Pembiasaan di rumah dan penanaman konsep di sekolah ketika berjalan linier maka pembentukan persepsi anak mengenai makanan sehat menjadi lebih mudah.

“Selain itu, kebiasaan makan sehat akan banyak mengurangi beban permasalahan di kemudian hari, termasuk kesehatan dan tumbuh kembang anak,” tegas Wa Ode Hamsinah.[emu]

 

Diana Amaliah

 

Pengasuhan Anak
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Duka di Rel Kereta Api: Evaluasi Layanan dalam Perspektif Gender

3 Mei 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.