Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Ragam»Male Panels : Ketika Forum Publik Kehilangan Suara Perempuan

Male Panels : Ketika Forum Publik Kehilangan Suara Perempuan

Ragam Redaksi Jalastoria23 November 2025

Oleh: Ikfanny Alfi Muhibbah Shalihah

Mengapa begitu banyak forum publik masih didominasi oleh suara laki-laki? Apakah ini sekadar karena kelalaian kuratorial, atau justru mencerminkan sistem kekuasaan yang tidak adil di baliknya? Ketika forum publik tentang pendidikan, kesehatan, perubahan iklim, atau topik penting lainnya, hanya menghadirkan pembicara laki-laki, kita harus bertanya, “Siapa yang dianggap layak untuk berbicara? Siapa yang terus-menerus tidak diberi ruang?”

Tulisan ini lahir dari keresahan pribadi. Ada suatu forum publik di kancah nasional yang terlihat menjanjikan dengan tema dan topik menarik. Ketika melihat panelisnya semua laki-laki, responm spontan yang terlontar berupa, “Oh, here we go again. Male panels, again.” Respons ini bukan sekadar bentuk dari rasa kecewa, tetapi juga protes atas bentuk penghapusan berulang terhadap representasi dan perspektif gender serta interseksionalitas dalam ruang publik yang seharusnya memperhatikan sisi inklusivitas. Tulisan ini adalah cara untuk mengurai terkait mengapa representasi dan perspektif gender itu juga penting dalam forum publik, serta bagaimana kita bisa mengatasi praktik male panels agar ruang bicara menjadi lebih adil dan setara.

Ketika Forum Publik Kehilangan Suara Perempuan

Fenomena male panels, yakni forum diskusi yang seluruhnya terdiri dari laki-laki, menjadi permasalahan yang masih kerap muncul. Praktik male panels mengungkap bagaimana otoritas, pengalaman, dan pengetahuan dikonstruksi dalam forum publik. Fenomena ini mengajak kita untuk mempertanyakan bagaimana representasi dan perspektif gender bekerja, serta apa yang hilang ketika perspektif gender tidak dihadirkan. Male panels berisiko menghasilkan narasi yang bias maskulin, yaitu narasi yang mengagungkan kompetisi, individualisme, dan solusi teknokratis yang tampak efisien, tetapi kurang menyentuh sisi kemanusiaan. Forum seperti ini cenderung fokus pada angka dan hasil yang terukur, sekaligus mengabaikan hubungan sosial, emosi, dan pengalaman hidup nyata yang juga penting dalam membuat kebijakan. Pada ruang seperti ini, rasa empati menjadi suatu perkara opsional, bukan prioritas. Akibatnya, hubungan sosial dan kondisi struktural yang mempengaruhi kehidupan banyak orang pun menjadi tidak terlihat, karena dikesampingkan dan tidak dianggap penting dalam pembicaraan.

Pengalaman hidup perempuan menawarkan pendekatan yang lebih kontekstual, relasional, dan berkelanjutan. Perspektif ini menekankan kepedulian, saling ketergantungan, dan keadilan jangka panjang. Nilai-nilai tersebut justru sering diabaikan dalam sistem teknokratis atau berbasis performa, seperti yang terlihat dalam praktik male panels. Perspektif perempuan tidak menolak keahlian, tetapi justru memperluas cara pandang dengan memasukkan memori sejarah, tanggung jawab ekologis, dan hubungan sosial sebagai bagian dari kebijakan yang lebih inklusif. Ketika suara perempuan dikesampingkan, forum publik kehilangan kemampuan untuk merespons kompleksitas masalah. Kebijakan pun bisa menjadi jauh dari kenyataan yang seharusnya dijawab.

Representasi gender bukan hanya soal “ada perempuan di panggung”. Yang lebih penting adalah siapa yang dianggap punya hak untuk menentukan masalah, memberi solusi, dan membentuk arah masa depan bersama. Kehadiran perempuan dalam panel tidak cukup jika pandangannya tidak didengarkan, dipotong, atau hanya dilihat melalui lensa maskulin. Representasi gender bukan sekadar menuntut inklusi, tetapi juga pengaruh dari perspektif perempuan itu sendiri. Mengundang perempuan hanya untuk memenuhi kuota panel atau sekadar formalitas, tidaklah cukup. Inklusi harus dilakukan secara berkelanjutan dan didukung oleh sistem yang adil. Kita perlu merancang forum publik yang memberi tempat bagi perspektif gender agar dapat hadir, menjadi pusat pembicaraan, dan memperoleh kesempatan berkembang.

Contoh Praktik Male Panels dan Saran untuk Perbaikan Kuratorial

Forum “Indonesian Business Goes to Campus (BGTC)” yang digelar di IPB University pada Kamis (2/10/2025) menjadi contoh nyata bagaimana ruang akademik pun masih mempraktikkan praktik male panels. Bertemakan “The Future is Yours”, forum ini menghadirkan dua sesi diskusi yang seluruhnya diisi oleh pembicara laki-laki. Saat forum semacam ini membahas masa depan kepemimpinan dan industri digital tanpa menghadirkan suara perempuan, kita perlu bertanya ulang perihal siapa yang dianggap layak untuk menginspirasi generasi muda. Forum “Indonesian Business Goes to Campus (BGTC)” 2025 ini menempati posisi ganda yang penting untuk dikritisi. Melihat dari satu sisi, forum ini berlangsung di lingkup kampus dengan menyasar mahasiswa sebagai peserta utama. Ketika melihat dari sisi lain, forum ini merupakan bagian dari program nasional yang diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia Group selaku media arus utama dengan jangkauan dan pengaruh nasional. Menghadirkan tokoh-tokoh industri dari perusahaan besar dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Bisniscom, acara BGTC tidak bisa dianggap hanya sebagai kegiatan kampus biasa. Forum ini menjadi bagian dari ruang diskusi publik berskala nasional yang ikut membentuk pandangan dan pemikiran generasi muda tentang berbagai isu penting di masyarakat. Ketika forum publik berskala nasional dihadirkan dalam lingkup kampus, tanggung jawab kuratorialnya justru menjadi lebih besar. Hal ini penting karena forum publik tidak hanya berperan dalam menyampaikan informasi, melainkan juga membentuk cara pandang bersama tentang siapa yang dianggap memiliki otoritas untuk berbicara dan didengar.

Padahal, jika benar-benar ingin membicarakan kepemimpinan yang adaptif dan berdampak, ada banyak perempuan yang kompeten dan relevan untuk diundang. Berkaitan dengan topik “Adaptive and Resilient Leadership in Real Industry“, ada banyak perempuan yang telah membuktikan kapasitasnya. Sabrina Bensawan, CEO dan pendiri Liberty Society, membangun bisnis sosial berbasis keberlanjutan (sustainability) yang memberdayakan perempuan penyintas kekerasan. Perempuan ini bisa berbicara tentang kepemimpinan yang berakar pada etika, empati, dan dampak sosial. Shinta Kamdani, CEO Sintesa Group dan Wakil Ketua Umum KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia), adalah tokoh bisnis yang aktif dalam isu keberlanjutan dan pemberdayaan UMKM. Pengalamannya relevan untuk membahas tantangan kepemimpinan perempuan di industri besar.

Ada juga Noni Purnomo, Komisaris Blue Bird Group, yang memiliki rekam jejak dalam transformasi bisnis keluarga dan inovasi layanan transportasi, serta kepemimpinan berlandaskan komitmen terhadap perubahan sosial melalui praktik bisnis yang berakar pada nilai-nilai etis dan sustainability. Terkait dengan topik “The Idea Behind Social Media Content“, di ranah konten digital, perempuan juga menjadi penggerak utama dalam membangun narasi sosial yang berdampak. Puty Puar, ilustrator, penulis, dan content creator, menggabungkan visual, narasi, dan nilai edukatif dalam konten media sosialnya. Perempuan ini bisa berbicara tentang riset ide, storytelling, dan etika dalam berkonten. Anindya Restuviani, Co-director Hollaback! Jakarta, adalah aktivis dan komunikator digital yang mengangkat isu gender dan ruang aman online. Kehadiran perempuan ini relevan untuk membahas konten berdampak dan advokasi digital yang berakar pada pengalaman komunitas.

Menyebut nama-nama perempuan ini bukan sekadar menyodorkan alternatif, justru menunjukkan bahwa representasi perempuan adalah tentang kemauan untuk mengundang dan mendengarkan suaranya. Jika forum publik ingin menjadi ruang belajar yang adil dan relevan, kurasi pembicara harus mencerminkan keberagaman pengalaman dan kepemimpinan yang sesungguhnya.

Penulis adalah Female Storyteller yang Peduli terhadap Gender Equality, Sustainability, dan Public Policy

Referensi

Ahmed, S. (2017). Living a feminist life. Duke University Press.

Bisnis Indonesia. (2025, October 2). Bisnis Indonesia goes to campus (BGTC) hadir di IPB

       University, mahasiswa antusias berbagi inspirasi.

Kabar24 Bisnis.com. Diakses pada 5 November 2025.

https://kabar24.bisnis.com/read/20251002/79/1916822/bisnis-indonesia-goes-to-campus-bgtc-hadir-di-ipb-university-mahasiswa-antusias-berbagi-inspirasi

Crenshaw, K. (1991). Mapping the margins: Intersectionality, identity politics, and violence

against women of color. Stanford Law Review, 43(6), 1241–1299.

https://doi.org/10.2307/1229039

Tardi, S. A. (2020, May 10). Fenomena all male panelist (manel) dalam diskusi publik.

Rahma.id. Diakses pada 5 November 2025.

https://rahma.id/fenomena-all-male-panelist-manel-dalam-diskusi-publik/

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Duka di Rel Kereta Api: Evaluasi Layanan dalam Perspektif Gender

3 Mei 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.