Oleh: Ikfanny Alfi Muhibbah Shalihah
Fenomena male panels, atau yang juga dikenal dengan istilah manel, telah menimbulkan keresahan sekaligus memicu berbagai bentuk perlawanan, terutama dari gerakan perempuan. Manel merujuk pada forum diskusi publik yang seluruh pembicaranya laki-laki, bahkan ketika topik yang dibahas menyangkut isu-isu yang berdampak langsung terhadap perempuan. Salah satu contoh yang sempat ramai diperbincangkan pada kuartal awal 2020 lalu adalah e-poster (flyer) bertema “Nanti Kita Cerita tentang Nyeri Haid” yang menampilkan empat dokter laki-laki sebagai narasumber. Poster ini menimbulkan pertanyaan kritis, yaitu “Apakah tidak ada dokter perempuan yang memiliki pengalaman langsung dengan haid serta mampu menjelaskan isu-isu seperti nyeri haid, endometriosis, dan kesehatan reproduksi perempuan?” Ketimpangan ini menunjukkan bahwa bias representasi tidak sekadar kelalaian, melainkan pola yang berulang.
Penggiat perempuan asal Indonesia seperti Tunggal Prawestri mulai mengarsipkan flyer diskusi publik yang beredar di media sosial dan menemukan banyak forum dengan panelis laki-laki saja. Topiknya beragam, mulai dari korupsi, pangan, penanganan COVID-19, Pilkada, HAM, masyarakat adat, hingga kesehatan, tetapi satu hal yang konsisten adalah absennya perempuan sebagai narasumber. Muncul pula aksi simbolik yang kreatif dan menggugah dari sini, berupa membalikkan flyer manel. Praktik ini dilakukan dengan cara mengunggah ulang poster acara yang seluruh panelisnya laki-laki, lalu membalikkan desainnya sebagai bentuk protes visual. Aksi ini menjadi populer di media sosial dan digunakan untuk menyoroti absurditas forum yang membahas isu-isu publik, termasuk kesehatan perempuan, HAM, dan perubahan iklim, tanpa melibatkan perempuan sebagai pembicara.
Sebagai bentuk perlawanan, muncul inisiatif seperti “Manel Watch”, sebuah gerakan dokumentasi dan advokasi dengan secara aktif mencatat forum-forum publik yang tidak menghadirkan pembicara perempuan. Gerakan ini bukan sekadar upaya pengarsipan, tetapi juga bentuk tekanan moral dan politis agar penyelenggara forum lebih bertanggung jawab dalam menyusun panel yang inklusif. Fenomena manel tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di berbagai belahan dunia. Menurut Tim Oxford Dictionaries dan Cambridge Dictionaries, istilah manel sendiri baru mulai digunakan secara luas pada 2017. Muncul pula istilah seperti manference, himposium, dan colloqui-him yang merujuk pada forum dengan praktik manel. Kritik terhadap manel juga berkaitan dengan isu ras dan warna kulit. Ini karena dalam banyak kasus, panel yang dimaksud didominasi oleh laki-laki kulit putih. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa banyak ruang diskusi masih belum menghadirkan keberagaman perspektif yang dibutuhkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.
Penelitian dari lembaga HEOR (Health Economics and Outcomes Research) dalam konferensi ISPOR Eropa, sebuah forum terbesar tentang ekonomi kesehatan dengan hampir 5.000 peserta, menemukan bahwa 70% pembicara dalam diskusi panel dan pleno selama 2016–2018 adalah laki-laki. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik manel bukanlah kejadian yang terjadi sesekali atau karena kebetulan semata. Fenomena seperti itu dikenal dengan fenomena kasuistik. Sebaliknya, praktik manel ini mencerminkan pola yang berulang dan menyeluruh dalam penyelenggaraan forum publik. Manel perlu dipahami sebagai masalah struktural yang harus diperbaiki secara serius dan berkelanjutan.
Melihat di tingkat global, bentuk perlawanan terhadap manel juga hadir dalam ekspresi yang jenaka sekaligus tajam. Dr. Saara Särmä, peneliti bidang Hubungan Internasional dari Universitas Tampere di Finlandia, menginisiasi proyek “All Male Panels Tumblr” setelah bertahun-tahun mengamati fenomena ini. Dr. Saara mengarsipkan foto-foto manel di Facebook dari berbagai forum di seluruh dunia dan melengkapinya dengan stempel sarkastik berbunyi, “Congrats, you have an all male panel!!” serta foto David Hasselhoff, aktor film Baywatch, yang mengacungkan jempol ke setiap postingan untuk lebih memperjelas situasi. Meme ini menjadi alat populer untuk mengoreksi diskriminasi gender dengan cara yang ringan sekaligus mengena.
Berbagai bentuk perlawanan ini menunjukkan bahwa kritik terhadap manel tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga dilakukan secara strategis dan kolektif. Gerakan ini hadir dalam bentuk dokumentasi, kritik publik, aksi visual, hingga humor politik. Semua ini merupakan bagian dari upaya yang lebih besar untuk menuntut representasi yang adil dan berkelanjutan, bukan sekadar kehadiran simbolik ataupun untuk memenuhi kuota panelis. Karena pada akhirnya, forum publik yang adil tidak bisa dibangun tanpa kesadaran, keberanian, dan konsistensi untuk menggugat stereotip yang selama ini membungkam banyak suara.
Menata Ulang Susunan Panel
Salah satu cara untuk menata ulang susunan panel adalah dengan melihatnya lewat kacamata interseksionalitas, seperti yang dijelaskan oleh Crenshaw (1991). Interseksionalitas membantu kita memahami bahwa identitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh satu hal, seperti gender, tetapi juga oleh banyak faktor yang saling berhubungan, misalnya ras, latar belakang ekonomi, kondisi disabilitas, atau status sosial lainnya. Contohnya, seorang perempuan bisa mengalami diskriminasi bukan hanya karena dia perempuan, tetapi juga karena dia berasal dari kelompok ras tertentu, hidup dalam kemiskinan, atau memiliki disabilitas. Semua faktor ini saling berpengaruh dan memperberat situasi perempuan tersebut, sehingga menciptakan bentuk ketidakadilan yang dialami jadi lebih rumit dan spesifik. Sayangnya, jenis ketidakadilan seperti ini sering tidak dibahas dalam forum-forum umum. Hal ini karena orang cenderung hanya melihat dari satu sisi, misalnya sekadar dari sisi gender, tanpa melihat lapisan lain yang ikut membentuk pengalaman seseorang. Agar dapat menyusun panel secara adil dan inklusif, kita perlu memahami lapisan-lapisan pengalaman yang membentuk suara seseorang.
Studi oleh Ahmed (2017) mengajak kita untuk melihat bagaimana lembaga atau institusi seringkali tidak nyaman saat ada suara yang bicara soal ketidakadilan. Suara-suara seperti ini dianggap “mengganggu” karena mereka berani mengkritik aturan yang tidak adil serta menolak untuk diam atau bersikap sopan di tengah situasi yang tidak setara. Perempuan yang berani menyuarakan ketimpangan seringkali tidak dianggap sebagai agen perubahan. Sebaliknya, mereka malah diberi label negatif seperti “pembuat masalah”, “terlalu emosional”, atau “sulit diajak bekerja sama”. Akibatnya, kritik mereka tidak didengarkan. Kehadiran mereka dianggap mengganggu suasana yang selama ini terlihat tenang. Padahal, mirisnya, ketenangan itu sebenarnya dibangun di atas ketimpangan yang tidak dibicarakan. Kondisi ini sering terjadi dalam praktik male panels, saat ruang diskusi didominasi oleh laki-laki dan cenderung mengabaikan sudut pandang perempuan.
Male panels bukan sebatas tentang siapa yang duduk di atas panggung, melainkan juga mencerminkan siapa yang dianggap layak untuk membentuk pemikiran publik. Di dunia yang semakin kompleks, keberagaman bukanlah bonus, justru suatu prasyarat untuk solusi yang adil dan efektif. Membongkar male panels berarti membuka ruang belajar bersama tentang siapa yang kita dengarkan, siapa yang kita abaikan, dan bagaimana kita bisa membangun forum publik yang lebih setara. Menghadirkan forum publik yang setara ini merupakan upaya jangka panjang. Dimulai dari kesadaran, dilanjutkan dengan kurasi pembicara yang menghadirkan kesetaraan gender, dan diwujudkan melalui praktik secara berkelanjutan.
Ketika kita merancang sebuah forum publik, mulailah dengan satu pertanyaan sederhana, “Siapa yang belum pernah saya undang? Mengapa belum pernah diundang? Mengapa perlu mengundangnya?” Karena dari pertanyaan itu, forum publik bisa berkembang menjadi upaya pemberdayaan (empowerment).
Penulis adalah Female Storyteller yang Peduli terhadap Gender Equality, Sustainability, dan Public Policy
Referensi
Ahmed, S. (2017). Living a feminist life. Duke University Press.
Bisnis Indonesia. (2025, October 2). Bisnis Indonesia goes to campus (BGTC) hadir di IPB
University, mahasiswa antusias berbagi inspirasi.
Kabar24 Bisnis.com. Diakses pada 5 November 2025.
Crenshaw, K. (1991). Mapping the margins: Intersectionality, identity politics, and violence
against women of color. Stanford Law Review, 43(6), 1241–1299.
https://doi.org/10.2307/1229039
Tardi, S. A. (2020, May 10). Fenomena all male panelist (manel) dalam diskusi publik.
Rahma.id. Diakses pada 5 November 2025.
https://rahma.id/fenomena-all-male-panelist-manel-dalam-diskusi-publik/

